Pendahuluan
Sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa inti dakwah Persyarikatan Muhammadiyah terletak pada dua pilar utama: pendidikan dan kesehatan. Keduanya bukan sekadar amal usaha, melainkan manifestasi konkret dari semangat al-Ma’un dan Islam Berkemajuan yang menjadi roh gerakan sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan. Namun, dalam perjalanan waktu, dinamika sosial dan kebijakan pemerintah menciptakan lanskap persaingan yang berubah drastis, khususnya di bidang pendidikan. Tulisan ini berangkat dari refleksi pengalaman pribadi dan pengamatan di lapangan untuk mendorong suatu agenda mendesak: perumusan ulang dan implementasi sistem Sekolah Unggul Muhammadiyah (SUM) di semua tingkatan, termasuk perguruan tinggi.
Refleksi Historis: Dari Primadona ke Pilihan Alternatif
Mari kita kilas balik ke era 1980-an, seperti pengalaman penulis di Kota Cirebon tahun 1983. Saat itu, pilihan pendidikan menengah atas sangat terbatas. Jumlah SMA Negeri bisa dihitung dengan jari, sementara sekolah swasta bermutu juga belum banyak. Dalam konteks itu, Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah (SMAM) di Jalan Tuparev menempati posisi strategis. Ia menjadi pilihan utama kedua setelah SMAN 1 dan SMAN 2, bahkan bagi sebagian keluarga, ia menjadi pilihan pertama. Fenomena ini terjadi di hampir semua tingkatan, dari SD hingga STM Muhammadiyah. Kepercayaan masyarakat sangat tinggi karena sekolah Muhammadiyah dipandang sebagai institusi yang disiplin, mengajarkan agama, dan memberikan pendidikan bermutu.
Namun, zaman telah berubah. Pemerintah secara masif memperbanyak dan meningkatkan kualitas sekolah negeri dari tingkat SD hingga SMA/SMK. Gedung-gedung dibangun dengan fasilitas relatif lengkap dan menarik, ditambah dengan kebijakan pendidikan gratis atau terjangkau. Realitas ini, tak dapat dipungkiri, telah menggeser preferensi masyarakat. Sekolah negeri yang “gratis, fasilitas bagus, dan dianggap bergengsi” secara alami menjadi magnet utama. Akibatnya, banyak sekolah Muhammadiyah, yang masih bergulat dengan keterbatasan biaya operasional dan fasilitas, mengalami penurunan minat pendaftar. Situasi ini bukan hanya terjadi di Cirebon, melainkan merupakan tantangan umum di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia.
Analisis Situasi: Tantangan Eksistensi di Tengah Persaingan
Fakta di lapangan menunjukkan suatu paradoks. Di satu sisi, Muhammadiyah memiliki jaringan amal usaha pendidikan terbesar di Indonesia dengan ribuan unit. Di sisi lain, daya tarik banyak unit tersebut dalam persaingan pasar pendidikan mulai memudar. Jika dibiarkan, eksistensi lembaga pendidikan Muhammadiyah berisiko hanya menjadi pelengkap, sekadar “jalan” atau pilihan sisa, bukan lagi sebagai institusi unggulan yang dicari. Ini adalah tantangan eksistensial. Dakwah melalui pendidikan akan kehilangan daya dobrak dan daya ubahnya jika lembaga pendidikannya tidak lagi menjadi rujukan utama masyarakat.
Solusi Strategis: Merancang Sekolah Unggul Muhammadiyah (SUM)
Oleh karena itu, sudah saatnya dan sangat mendesak bagi Persyarikatan Muhammadiyah untuk secara sistematis dan serius merumuskan dan melaksanakan konsep Sekolah Unggul Muhammadiyah (SUM). Konsep “unggul” di sini harus didefinisikan secara komprehensif, melampaui sekadar nilai akademik tinggi. SUM harus menjadi brand yang memiliki diferensiasi jelas dan keunggulan komparatif. Beberapa pilar yang harus dibangun dalam kerangka SUM antara lain:
- Keunggulan Akademik-Intelektual: Kurikulum yang tangguh, metode pembelajaran inovatif, dan budaya literasi serta riset yang kuat. Prestasi siswa dalam olimpiade sains, teknologi, seni, dan bahasa harus menjadi target terukur.
- Keunggulan Karakter dan Akhlak: Ini adalah core value yang tak tergantikan. Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam Berkemajuan—seperti integritas, disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian sosial—harus menjadi penanda utama. Lulusan SUM harus dikenal sebagai pribadi yang smart and good.
- Keunggulan Teknologi dan Fasilitas: SUM harus menjadi sekolah yang cerdas (smart school). Pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran, administrasi, dan pengembangan diri bukan lagi opsional, melainkan keharusan. Fasilitas pendukung seperti laboratorium, perpustakaan digital, dan ruang kreativitas harus memadai dan mutakhir.
- Keunggulan Ekstrakurikuler dan Life Skills: Mengembangkan bakat dan minat siswa di bidang olahraga, seni, kepemimpinan (seperti Hizbul Wathan dan Tapak Suci), kewirausahaan, dan keterampilan hidup lainnya.
- Keunggulan Guru dan Tenaga Kependidikan: Investasi terbesar harus pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru. Guru SUM harus menjadi pendidik profesional, inspiratif, dan menjadi teladan akhlak.
- Keunggulan Jejaring dan Kolaborasi: Membangun kemitraan strategis dengan perguruan tinggi unggul, dunia industri, dan lembaga internasional untuk pengembangan kurikulum, pertukaran pelajar, dan peningkatan kapasitas.
Konsep SUM ini harus diterapkan secara bertahap dan berjenjang, mulai dari tingkat dasar, menengah, hingga yang paling krusial: Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). PTM harus menjadi magnet dan puncak dari piramida SUM, menghasilkan lulusan yang bukan hanya siap kerja, tetapi juga menjadi ilmuwan, profesional, dan pemimpin yang berakhlak mulia dan berkontribusi bagi peradaban.
Penutup
Merumuskan SUM bukanlah pekerjaan mudah. Ia membutuhkan komitmen kolektif, sumber daya yang memadai, dan keberanian untuk melakukan transformasi mendasar. Namun, ini adalah langkah yang tidak terelakkan jika Muhammadiyah ingin tetap eksis, relevan, dan menjadi pelopor dalam dakwah pendidikan di abad ke-21. Jangan sampai kita hanya “asal jalan”. Saatnya kita melompat ke depan dengan merancang sekolah yang tidak hanya mengejar, tetapi mampu memimpin tren pendidikan Indonesia. Dengan SUM, kita bukan sekadar mempertahankan amal usaha, melainkan mengaktifkan kembali misi awal pendirian Muhammadiyah: mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengangkat martabat umat melalui pendidikan unggulan yang memadukan iman, ilmu, dan amal shaleh. (Ayi Azhari)


Tulis Balasan ke Imron Rosyadi Batalkan balasan