CIREBON, 25 Januari 2026 – Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Harjamukti Kota Cirebon telah menggelar pengajian rutin Ahad pagi (25/1/2026) di Masjid Annur Sangkana Muhammadiyah dengan penuh hikmah. Kajian yang menghadirkan Ustadz dr. Asad, Sp.THTBKL, sebagai penceramah ini mengangkat tema sentral “Islam Kaffah: Strategi Kebangkitan Islam”. Hadir dalam kesempatan tersebut Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Harjamukti, Fery Johari, dan perwakilan Aisyiyah, Sri Lestari, beserta segenap jamaah.

Memahami Islam Secara Utuh: Spiritual, Syariat, dan Konteks
dr. Asad memulai pemaparannya dengan menegaskan bahwa Islam adalah agama yang paripurna (kaffah), yang tidak bisa dipahami secara sepotong-sepotong. “Islam dibangun atas tiga pilar utama: Spiritual (keimanan dan akidah), Syariat (hukum dan ibadah), dan Konteks (penerapan dalam realitas kehidupan),” jelasnya.
Beliau menekankan bahwa seorang muslim tidak cukup hanya mengaku beriman, tetapi juga harus menjalankan seluruh perintah ibadah serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Ayat ini, tegas beliau, adalah perintah langsung untuk mengadopsi Islam secara total, tanpa memilah-milih.

Amanah Kekhalifahan: Menguasai Ilmu dan Teknologi untuk Kemaslahatan
Penceramah kemudian menguraikan konsep manusia sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi. Tugas kekhalifahan ini tidak ringan; ia menuntut manusia untuk menguasai berbagai ilmu, termasuk teknologi, sebagai sarana untuk mempermudah pelaksanaan amanah dan menyejahterakan alam beserta isinya.
“Allah telah menundukkan segala apa yang di langit dan di bumi untuk manusia. Menguasai teknologi yang halal adalah bagian dari mensyukuri nikmat ini dan menjalankan mandat sebagai khalifah,” ujar dr. Asad, merujuk pada semangat QS. Al-Jatsiyah: 13.

Peran Strategis Muhammadiyah: Mewujudkan Misi Kekhalifahan Kolektif
Dalam konteks kekinian, dr. Asad menilai Muhammadiyah memikul peran strategis. Sebagai persyarikatan yang memiliki jaringan amal usaha luas, Muhammadiyah berkewajiban untuk mewujudkan misi kekhalifahan secara kolektif.
“Ini berarti mengelola seluruh kekuatan lembaga—pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi—dengan prinsip Islam yang kaffah, untuk benar-benar menjadi rahmat bagi sekelilingnya,” paparnya. Beliau mengutip sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam :
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Tanggung jawab ini berlaku bagi setiap individu muslim dan secara kelembagaan bagi Muhammadiyah sebagai sebuah “pemimpin” dalam masyarakat.

Penutup: Seruan untuk Aksi Nyata
Pengajian ditutup dengan kesimpulan bahwa kebangkitan Islam hanya dapat tercapai jika umatnya kembali kepada pemahaman dan pengamalan Islam yang kaffah. Hal ini dimulai dari keteguhan akidah, ketundukan pada syariat, dan diwujudkan dalam aksi nyata membangun peradaban melalui penguasaan ilmu dan teknologi untuk kemaslahatan universal, sebagaimana yang dicontohkan oleh Muhammadiyah melalui berbagai lini amal usahanya. Acara diakhiri dengan doa bersama untuk kemajuan umat dan persyarikatan.


Tulis Balasan ke Arofah Firdaus Batalkan balasan