Cirebon, 28 Desember 2025 – Masjid Annur Sangkana Muhammadiyah di Kalijaga, Harjamukti, Kota Cirebon, kembali menggelar acara pengajian rutin Ahad pagi dengan nuansa yang khusus dan reflektif. Mengangkat tema “Muhasabah Memasuki Tahun Baru 2026”, kajian ini menghadirkan Ustadz Dedi Ahyadi sebagai penceramah. Hadir pula dalam kesempatan ini Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, beserta sejumlah pimpinan lainnya.

Ustadz Dedi Ahyadi membuka kajian dengan menjelaskan makna muhasabah. “Muhasabah berasal dari kata hasiba yahsabu hisab, yang berarti introspeksi, evaluasi, atau perhitungan diri. Ini adalah proses penting seorang hamba untuk melihat kembali amal yang telah dilakukan sebagai bekal menghadap Allah,” jelasnya.

Beliau mengutip firman Allah dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Beliau juga merujuk hadis Rasulullah ﷺ:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوهَا قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَجَهَّزُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ
“Hisablah (introspeksi) dirimu sendiri sebelum kamu dihisab, timbanglah amalmu sebelum ditimbang, dan bersiaplah untuk menghadap pada hari pertemuan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi)
Tiga Makna Penting Muhasabah
Ustadz Dedi menguraikan tiga makna penting yang terkandung dalam proses muhasabah:
1. Muhasabah sebagai Proses Menjadi Pembelajar
Seorang yang bermuhasabah akan senantiasa mengambil pelajaran dari masa lalu untuk perbaikan di masa depan.
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka (para nabi) itu terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai akal.” (Q.S. Yusuf: 111)
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Q.S. Al-Mujadilah: 11)
2. Muhasabah sebagai Motivasi untuk Ikhtiar Lebih Baik
Proses evaluasi harus melahirkan tekad dan perencanaan yang lebih baik untuk beramal saleh.
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah…” (Q.S. Al-Jumu’ah: 10)
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia…” (Q.S. Al-Qashash: 77)
Setiap ikhtiar akan tercatat dengan sempurna (Q.S. Yasin: 12).

3. Muhasabah sebagai Pendongkrak Jiwa Berprestasi
Evaluasi diri akan memacu semangat untuk berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) sebagai wujud tugas kekhalifahan di bumi.
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا ۖ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
“Dan bagi masing-masing orang ada tingkat-tingkat (derajat) sesuai dengan apa yang mereka kerjakan, dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’am: 132)
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا“Dan kepada (kaum) Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya.’” (Q.S. Hud: 61)
Ustadz Dedi menekankan bahwa misi utama manusia sebagai khalifah (Q.S. Al-Baqarah: 30) dan rahmat bagi semesta (Q.S. Al-Anbiya’: 107) harus diwujudkan dengan prestasi dan amal nyata, tidak dengan kerusakan (Q.S. Al-Baqarah: 11). Manusia diciptakan dalam bentuk terbaik (Q.S. At-Tin: 4) dan dimuliakan (Q.S. Al-Isra’: 70), sehingga wajib mengisi hidup dengan prestasi yang bermakna. Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi yang bersyukur (Q.S. Ibrahim: 7).

Menutup Tahun dengan Kegiatan Positif
Menyikapi pergantian tahun Masehi, Ustadz Dedi menyampaikan pandangan Muhammadiyah yang tidak melarang secara mutlak perayaan tahun baru, asalkan diisi dengan aktivitas yang positif, bermanfaat, dan jauh dari kemaksiatan. Momentum muhasabah ini diharapkan menjadi titik tolak untuk menyusun langkah-langkah dakwah dan amal saleh yang lebih terencana dan berdampak luas di tahun 2026.
Kajian dihadiri jamaah ditutup dengan doa, memohon agar tahun yang baru menjadi tahun kebaikan, kemajuan, dan semakin kokohnya kontribusi Muhammadiyah untuk umat dan bangsa.


Tulis Balasan ke Nurzini Fazilet Batalkan balasan