CIREBON, 21 Desember 2025 – Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah kembali mengadakan pengajian rutin Ahad pagi yang menghadirkan Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., sebagai penceramah. Pada kesempatan ini, tema yang diangkat adalah “Makna Hidup dalam Perspektif Muhammadiyah”, sebuah kajian mendalam untuk menjawab pertanyaan fundamental setiap manusia: apa tujuan hidup, mengapa kita diciptakan, dan bagaimana hidup menjadi bermakna.
Diawali dengan kata sambutan dan penjelasan kegiatan oleh Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Cirebon, Retno Kuntjorowati, S.Pd., Ustadz Yandi memulai dengan menegaskan bahwa dalam pandangan Islam, hidup memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar rutinitas duniawi. Beliau menguraikan makna hidup menjadi tiga pilar utama.

1. Hidup Adalah Ibadah
Landasan pertama adalah bahwa eksistensi manusia di dunia semata-mata untuk pengabdian kepada Allah SWT. Beliau mengutip firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ustadz Yandi menjelaskan bahwa makna ibadah dalam perspektif Muhammadiyah, sebagaimana termaktub dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT), bersifat sangat luas. “Ibadah bukan hanya salat, puasa, zakat, dan haji. Setiap aspek kehidupan—bekerja, belajar, berkeluarga—dapat bernilai ibadah jika diniatkan lillahi ta’ala,” jelasnya.

Beliau merujuk pada hadis Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang menjadi dasar segala amal:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dengan memperbaiki niat, aktivitas duniawi berubah menjadi investasi akhirat. Bekerja, misalnya, tak lagi sekadar mencari nafkah, tetapi menjadi bentuk tanggung jawab, sedekah, dan kebermanfaatan.

2. Hidup Adalah Ujian
Pilar kedua menegaskan bahwa kehidupan adalah medan ujian untuk mengukur kualitas amal. Ustadz Yandi mengutip Surah Al-Mulk:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Dialah (Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Beliau menjelaskan kriteria “amal terbaik” sebagaimana diuraikan Fudhail bin ‘Iyadh: yaitu yang paling ikhlas (hanya untuk Allah) dan paling benar (sesuai Sunnah). Seorang mukmin akan menyikapi semua keadaan sebagai kebaikan, sebagaimana sabda Nabi:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ… إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik… Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)

3. Dunia Ladang untuk Akhirat
Pilar terakhir mengingatkan bahwa kehidupan hakiki sesungguhnya di akhirat. Dunia hanyalah persinggahan sementara untuk menanam amal.
وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)

Ustadz Yandi mengingatkan agar tidak terjebak pada kesenangan dunia yang menipu (QS. Ali Imran: 14). Sebaliknya, seorang muslim harus menjadi orang cerdas yang memprioritaskan kehidupan akhirat, sebagaimana sabda Nabi:
الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang cerdas adalah orang yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. At-Tirmidzi)

Kesadaran akan keterbatasan waktu di dunia (QS. Ghafir: 39) harus memacu setiap muslim untuk bersungguh-sungguh (ihsan) dan berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) (QS. Al-Baqarah: 148). Puncaknya adalah menghayati makna ihsan dalam setiap ibadah:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Pengajian ditutup dengan kesimpulan bahwa hidup yang bermakna dalam perspektif Muhammadiyah adalah hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh sebagai ibadah, disikapi dengan sabar dan syukur sebagai bentuk ujian, dan diorientasikan untuk meraih kehidupan akhirat yang kekal. Dengan demikian, setiap detik kehidupan menjadi bernilai dan berkah.


Tulis Komentar pada kolom di bawah ini