Cirebon, 14 Maret 2026 – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menggelar acara Pengajian, Pembinaan, dan I’tikaf bagi dosen dan tenaga kependidikan (tendik) di lingkungan kampus. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini menghadirkan penceramah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Cirebon, Ustadz Novan Hardiyanto, M.M., yang menyampaikan tausiyah tentang keberkahan, pentingnya ilmu, dan objektivitas dalam memahami perbedaan ibadah.
Turut hadir Rektor UMC, Arief Nurudin, M.T., yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta serta menyoroti beberapa hal terkait ibadah di bulan Ramadhan dan penetapan awal Syawal. Acara ini menjadi momentum memperkuat keimanan dan kebersamaan civitas akademika menjelang hari raya Idul Fitri 1447 H.
Keberkahan bagi Penduduk Bumi yang Beriman
Ustadz Novan Hardiyanto mengawali tausiyah dengan mengingatkan janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang keberkahan bagi hamba-Nya yang beriman. Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Al-A’raf ayat 96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)
“Keberkahan hidup, baik lahir maupun batin, sangat bergantung pada keimanan dan ketakwaan. Inilah prinsip dasar yang harus kita pegang sebagai insan akademik dan aktivis persyarikatan,” papar Ustadz Novan.
Beliau juga mengingatkan bahwa bulan Ramadann adalah madrasah untuk melatih keimanan dan ketakwaan. Berdasarkan penetapan PP Muhammadiyah, 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026, dan 1 Syawal 1447 H jatuh pada 20 Maret 2026. Namun, potensi perbedaan dengan pemerintah tetap ada, dan itu harus disikapi dengan bijaksana.
Perbedaan Metode: “Ro’a” vs “Nadhoro” dalam Menentukan Awal Bulan
Menjelang akhir Ramadhan, isu perbedaan penetapan 1 Syawal kerap muncul. Ustadz Novan menjelaskan akar perbedaan tersebut secara ilmiah, dengan merujuk pada dua kata dalam bahasa Arab yang memiliki makna berbeda: “ro’a” (رأى) dan “nadhoro” (نظر).
“Kata ro’a berarti melihat secara biologis, dengan mata kepala. Sementara nadhoro berarti melihat secara maknawi, merenung, atau meneliti. Dalam menentukan awal bulan, ada yang menggunakan metode rukyat (melihat hilal secara fisik) dan ada yang menggunakan hisab (perhitungan astronomis). Keduanya memiliki dasar,” jelas Ustadz Novan.
Beliau mengutip beberapa hadits untuk memperkuat penjelasannya. Pertama, hadits tentang tata cara shalat:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)
“Dalam hadits ini, kata yang digunakan adalah ro’a (melihat secara fisik). Karena para sahabat melihat langsung gerakan shalat Nabi,” tambahnya.
Kedua, hadits tentang hakikat penilaian Allah:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad dan rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim)
“Dalam hadits ini, kata yang digunakan adalah nadhoro (melihat secara maknawi). Allah melihat hati dan amal kita, bukan fisik semata. Ini menunjukkan bahwa ada dua jenis ‘melihat’ dalam perspektif Islam: biologis dan spiritual,” terang Ustadz Novan.
Lebih lanjut, beliau mengutip kaidah ushul fiqh:
الْعِبْرَةُ بِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ
“Yang menjadi pegangan adalah keumuman lafal, bukan kekhususan sebab.”
“Dalam memahami teks, kita harus melihat keumumannya. Ada ayat dengan ayat, hadis dengan hadis. Perbedaan metode ini wajar dan harus disikapi dengan saling menghormati,” tegasnya.
Nabi yang Ummi dan Pentingnya Keilmuan Mendalam
Ustadz Novan juga menyoroti sifat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis), namun mampu melaksanakan ajaran agama dengan keilmuan yang sangat dalam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)
“Nabi tidak bisa membaca dan menulis secara duniawi, tetapi beliau mendapatkan ilmu langsung dari Allah. Ini mengajarkan kita bahwa ilmu adalah kunci utama dalam menjalankan agama. Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid selalu mendorong umat untuk memiliki keilmuan yang mendalam, tidak sekadar ikut-ikutan,” ujar Ustadz Novan.
Beliau juga mengingatkan bahwa sebagai masyarakat akademik, objektivitas harus dikedepankan. “Dalam perbedaan penetapan awal Ramadhan dan Syawal, kita harus bersikap ilmiah. Jangan mudah menyalahkan pihak lain, karena masing-masing memiliki dalil dan metodologi. Yang terpenting adalah niat kita untuk menjalankan ibadah dengan benar sesuai keyakinan.”
Muhammadiyah dan Produk Unggulan
Ustadz Novan menegaskan bahwa Muhammadiyah, sebagai organisasi yang lahir dari pemikiran tajdid, terus berupaya menciptakan produk-produk unggulan, termasuk dalam bidang pemikiran keagamaan. Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah salah satu ikhtiar untuk menyatukan umat.
“KHGT adalah upaya kita untuk keluar dari kebiasaan lama yang sering menimbulkan perbedaan. Ini adalah bagian dari ijtihad untuk kemajuan peradaban. Tidak ada tanggal yang berubah-ubah, semua bisa direncanakan dengan baik. Ini adalah hutang peradaban yang harus kita bayar dengan ilmu,” paparnya.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan yang lain dengannya.” (HR. Muslim)
“Orang yang berilmu akan diangkat derajatnya. Karena itu, mari kita terus belajar dan mengembangkan ilmu, termasuk dalam memahami dinamika ibadah dan perbedaan di tengah masyarakat,” ajak Ustadz Novan.
Sambutan Rektor: Rukhsah, Persatuan, dan Ucapan Idul Fitri
Dalam sambutannya, Rektor UMC, Arief Nurudin, M.T., menyampaikan beberapa hal penting terkait ibadah di bulan Ramadhan dan persiapan menyambut Idul Fitri.
“Shalat di bulan puasa, terutama bagi musafir, mendapatkan rukhsah (keringanan) untuk menjamak dan mengqashar. Ini adalah kemudahan dari Allah. Namun, kita yang masih berada di kampus dan menjalankan aktivitas rutin tetap melaksanakan shalat dengan normal,” ujarnya.
Rektor juga menyinggung soal perbedaan awal Ramadhan dan potensi perbedaan Idul Fitri. “Sebagai aktivis persyarikatan, kita memulai puasa sesuai dengan keputusan pemerintah. Ini adalah bentuk menjaga persatuan dan menghormati perbedaan. Semua organisasi punya misi dan tujuan. Muhammadiyah sendiri bertujuan menegakkan ajaran Islam sebenar-benarnya sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
Di akhir sambutan, atas nama pimpinan UMC, Arief Nurudin mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H kepada seluruh dosen dan tenaga kependidikan. “Mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita selama Ramadhan diterima Allah SWT.”
Penutup: I’tikaf dan Refleksi Diri
Acara pengajian dan pembinaan ini menjadi bagian dari rangkaian i’tikaf yang dilakukan di lingkungan UMC. Para peserta diajak untuk merenungkan makna ibadah, meningkatkan keilmuan, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Ustadz Novan menutup tausiyahnya dengan doa:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8)
Dengan semangat kebersamaan dan keilmuan, civitas akademika UMC siap menyambut Idul Fitri dengan hati yang bersih dan penuh syukur. Aamiin.


Tinggalkan Balasan