CIREBON, 24 Desember 2025 – Masjid Santun Muhammadiyah kembali menggelar Pengajian Rutin Reboan pada Rabu malam (24/12/2025), menghadirkan Ustadz Agus Wahid, S.Ag., sebagai penceramah. Kajian yang berlangsung dari usai salat Maghrib hingga Isya ini secara khusus mengupas tuntas “Adab-Adab Salat Jumat”, merujuk pada dasar-dasar Al-Qur’an dan Sunnah. Turut hadir dalam pengajian tersebut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, beserta sejumlah pimpinan lainnya.

Ustadz Agus Wahid, membuka kajian dengan mengutip Q.S. Al-Jumu’ah ayat 9, yang menjadi landasan utama kewajiban Salat Jumat.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Beliau menekankan bahwa perintah “fas’au” (bersegeralah) dalam ayat ini menjadi kunci pertama dalam adab Jumat, yaitu menyegerakan diri datang ke masjid.
Keutamaan Datang Awal dan Larangan Keterlambatan
Penceramah menjelaskan keutamaan datang lebih awal berdasarkan hadis Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Hadis-Hadis tentang Adab Salat Jumat dan Artinya
Berikut adalah hadis-hadis yang dirujuk dalam kajian tersebut, disertai terjemahan artinya:
1. Hadis tentang Keutamaan Datang Lebih Awal dan Pencatatan Malaikat:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ مَلَائِكَةٌ يَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ، فَإِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ طَوَوْا الصُّحُفَ، وَجَاءُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
“Pada hari Jumat, di setiap pintu masjid terdapat malaikat yang mencatat orang (yang masuk) secara berurutan (siapa yang datang lebih dahulu). Jika imam (khatib) telah duduk (di mimbar), mereka melipat lembaran-lembaran catatan itu dan datang untuk mendengarkan dzikir (khutbah).”
(HR. Al-Bukhari No. 929 dan Muslim No. 850)
2. Hadis tentang Larangan Berbicara saat Khutbah:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ: أَنْصِتْ، وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَا
“Barangsiapa yang berkata kepada temannya pada hari Jumat: ‘Diamlah’, padahal imam sedang berkhutbah, maka ia telah melakukan perbuatan sia-sia (membatalkan pahala Jumatnya).”
(HR. Al-Bukhari No. 934 dan Muslim No. 851)
3. Hadis tentang Larangan Melangkahi Pundak Orang:
Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ يَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ
“Seorang laki-laki datang melangkahi pundak-pundak orang pada hari Jumat, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: ‘Duduklah! Engkau telah mengganggu.’”
(HR. Abu Daud No. 1118 dan dishahihkan Al-Albani)
4. Hadis tentang Larangan Mengusir Orang dari Tempat Duduknya:
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يُقِيمَنَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، ثُمَّ يَخْلُفُهُ فِي مَجْلِسِهِ
“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian menyuruh berdiri saudaranya pada hari Jumat, lalu ia duduk di tempat duduknya tersebut.”
(HR. Muslim No. 2177)
5. Hadis tentang Singkatnya Khutbah Nabi:
Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطْبَةَ
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya panjangnya salat seseorang dan singkatnya khutbahnya adalah tanda kedalaman pemahaman agamanya. Maka panjangkanlah salat dan pendekkanlah khutbah.’”
(HR. Muslim No. 869)

Beliau mengingatkan, orang yang sengaja terlambat setelah khatib naik mimbar telah kehilangan pahala besar tersebut dan termasuk dalam golongan yang meremehkan syiar Islam.
Kewajiban Mengingatkan Khatib
Ustadz Agus juga menyampaikan tanggung jawab jamaah untuk mendengarkan khutbah dengan kritis. “Jika khatib keliru dalam menyebutkan ayat, hadis, atau rukun khutbah, jamaah wajib mengingatkannya. Begitu pula jika materi khutbah menyimpang, seperti menyerang dan menyalahkan satu kelompok atau partai politik tertentu secara tidak proporsional, maka jamaah boleh dan harus mengingatkan agar khutbah tetap pada koridor dakwah yang menyejukkan,” paparnya.
Sebagai penutup, Ustadz Agus Wahid mengingatkan agar materi khutbah disampaikan secara singkat, padat, dan bermakna, sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, sehingga mudah dipahami dan diamalkan oleh jamaah. Pengajian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan dan pemaknaan ibadah Jumat bagi seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat luas.
Wallahu a’lam bish-shawab.


Tulis Balasan ke PUJI NIRMO Batalkan balasan