CIREBON, 20 Maret 2026 – Ribuan jamaah memadati Lapangan Bola Pusaka Kalibaru, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, pada pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 H, Jumat (20/3/2026). Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tengah Tani menyelenggarakan shalat sunah Idul Fitri yang diikuti oleh warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar dengan penuh khidmat dan kebahagiaan.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd. , menyampaikan khutbah yang mendalam dengan tema “Ramadan dan Keunggulan Manusia Muslim: Membangun Peradaban dari Akar Iman” . Jamaah yang hadir tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengajak untuk merefleksikan makna kemenangan sejati setelah sebulan berpuasa.

Idul Fitri: Kemenangan Sejati dan Lahirnya Manusia Unggul
Ustadz Yandi Heryandi mengawali khutbah dengan mengajak jamaah merenungkan makna kemenangan di hari yang fitri ini. “Hari ini, 1 Syawal 1447 H, di bawah naungan langit Idul Fitri, di ambang pintu kemenangan (al-faiz), penting bagi kita untuk menyadari bahwa kemenangan sejati bukanlah sekadar kembalinya kita kepada pola makan yang normal atau perayaan fisik semata. Kemenangan ini adalah keberhasilan kita dalam menyerap seluruh kurikulum terbaik dari Madrasah Ramadan guna melahirkan profil manusia unggul yang siap memikul beban peradaban masa depan,” paparnya.
Beliau menjelaskan bahwa tujuan akhir dari pendidikan Ramadan adalah untuk membentuk jati diri kita, sebagaimana perumpamaan indah yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala abadikan dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24-25:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ . تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)
“Ayat ini merupakan cetak biru bagi manusia unggul. Ramadan adalah proses kita menanam dan memperkuat ‘akar’ iman di dalam jiwa. Jika akarnya tidak tertancap dengan kuat, maka mustahil bagi sebuah bangsa atau peradaban untuk memiliki cabang prestasi dan ilmu pengetahuan yang menjulang tinggi ke langit,” tegasnya.

Ramadan: Latihan Regulasi Diri untuk Keunggulan
Memasuki inti khutbah, Ustadz Yandi menjelaskan mengapa Ramadan begitu krusial bagi keunggulan manusia. Secara empirik, ibadah ini merupakan latihan regulasi diri (self-regulation) kolektif terbesar di dunia.
“Riset dalam psikologi modern, yang dikenal dengan The Marshalltown Test, menunjukkan bahwa kemampuan seseorang untuk menunda kepuasan di kemudian hari lebih dapat menjamin kesuksesan jangka panjang seseorang dibandingkan dengan tingkat IQ sekalipun. Artinya, mereka yang terbiasa menahan diri dari kenikmatan sesaat demi tujuan yang lebih besar, melalui proses perjuangan dan pengorbanan, cenderung lebih berpotensi meraih keberhasilan dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan kecerdasan intelektual semata,” jelasnya.
Selama 30 hari, lebih dari 1,9 miliar Muslim di seluruh dunia secara serentak melatih diri untuk menahan dorongan dasar seperti makan, minum, dan emosi demi tujuan yang lebih mulia. Secara sosiologis, praktik ini menciptakan modal sosial yang luar biasa berupa kedisiplinan massal, kepedulian kepada orang lain, dan integritas akhlak yang terjaga. Inilah fondasi utama sebuah peradaban yang besar; kualitas manusia yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.
“Jika pohon dalam perumpamaan tadi telah mendapatkan nutrisi terbaiknya selama bulan suci, maka Idul Fitri adalah momentum bagi kita untuk membawa akar yang kuat ini keluar dari madrasah menuju medan pengabdian yang lebih luas. Kita harus memastikan bahwa manusia yang lulus dari Madrasah Ramadan bukan hanya sekadar saleh secara ritual di dalam masjid, tetapi juga menjadi pribadi yang kompetitif, berintegritas, dan memiliki visi peradaban yang mampu melintasi batas zaman,” paparnya.
Refleksi Kemanusiaan dan Kepedulian Global
Di tengah suasana Idul Fitri yang tenang, Ustadz Yandi mengajak jamaah untuk tidak buta terhadap realitas pahit yang sedang mencabik-cabik wajah kemanusiaan. Madrasah Ramadan yang baru saja kita lalui seharusnya menjajamkan kepekaan kita terhadap ketidakadilan global.
“Kita menyaksikan hari ini sebuah tatanan dunia yang retak, di mana arogansi militer dan hipokrasi politik menindas hukum internasional serta nalar kemanusiaan yang paling mendasar. Genosida yang terjadi di Gaza adalah luka menganga di tubuh umat manusia. Agresi militer yang kini meluas secara terang-terangan ke Lebanon dan Iran. Fenomena ini mencerminkan sebuah kemunafikan global yang sangat nyata; mereka berbicara tentang perdamaian sambil mengirimkan amunisi penghancur, dan berbicara tentang hak asasi manusia sambil membiarkan jutaan jiwa menderita di bawah blokade, kelaparan, dan rudal balistik,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Kondisi para arsitek kerusakan ini telah digambarkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah ayat 11:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’” (QS. Al-Baqarah: 11)
“Inilah puncak dari kesombongan; melakukan kehancuran sistematis namun mengklaimnya sebagai upaya menciptakan ketertiban,” tegasnya.
Solusi Fundamental: Membangun Manusia Muslim Unggul
Ustadz Yandi menegaskan bahwa di tengah kepungan krisis global dan kerapuhan persatuan, langkah pertama dan paling mendasar untuk melakukan perubahan bukanlah dengan sekadar meratapi keadaan, melainkan dengan kembali membangun fondasi utama peradaban: yakni menjadi dan menciptakan manusia Muslim yang unggul, kualitas individu-individu yang memiliki keteguhan iman sekaligus keunggulan intelektual.
“Membangun manusia unggul dimulai dengan mengintegrasikan kembali kesalehan ritual dengan kesalehan sosial dan profesional. Kita memerlukan pribadi yang dahinya sujud di atas sajadah, sadar akan perannya sebagai hamba Allah, pada saat yang sama juga pikirannya mampu menaklukkan sains dan teknologi,” jelasnya.
Data menunjukkan bahwa negara-negara yang mampu bangkit dari keterpurukan pasca-perang, seperti Jepang atau Korea Selatan, bukan karena mereka memiliki kekayaan alam yang melimpah, melainkan karena mereka memiliki disiplin tinggi, integritas, dan penguasaan ilmu pengetahuan.
“Bagi kita umat Islam, modal utama ini sebenarnya sudah tersimpan dalam kurikulum Ramadan yang baru saja kita lalui. Manusia unggul yang kita dambakan adalah mereka yang memiliki kemampuan regulasi diri yang luar biasa; mereka yang mampu berkata ‘tidak’ pada kecurangan meskipun tidak ada yang melihat, dan berkata ‘ya’ pada kejujuran meskipun itu pahit. Inilah kekuatan akhlak,” paparnya.
Lebih jauh lagi, manusia Muslim yang unggul haruslah menjadi pembelajar yang gigih. “Kita diperintahkan untuk menjadi umat Iqra, umat yang membaca realitas dengan kacamata ilmu. Keunggulan kita di masa depan sangat bergantung pada sejauh mana kita mampu menutup celah ketertinggalan literasi dan riset. Kehebatan peradaban Islam di masa lalu, dari Baghdad hingga Andalusia, bukanlah kebetulan sejarah, melainkan hasil dari sebuah sistem pendidikan yang melahirkan manusia-manusia multidisiplin—yang hafal Al-Qur’an sekaligus menguasai astronomi, yang ahli fiqh sekaligus pionir dalam ilmu kedokteran.”
Masyarakat Unggul dan Solidaritas Kemanusiaan
Keunggulan individu yang telah kita bentuk selama Ramadan tidak boleh berhenti pada kesalehan pribadi semata. Ia harus bertransformasi menjadi energi kolektif yang melahirkan masyarakat berkualitas unggul.
“Masyarakat Muslim yang unggul harus tampil dengan konsistensi moral yang tinggi. Kita harus menjadi garda terdepan dalam membela yang tertindas tanpa melihat latar belakang, serta aktif menciptakan perdamaian yang didasarkan pada kejujuran dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Dengan memiliki masyarakat yang disiplin, berilmu, mandiri secara ekonomi, dan berwibawa secara politik, barulah kita dapat memastikan bahwa cahaya Islam benar-benar menjadi rahmat yang nyata bagi seluruh alam,” tegasnya.
Penutup: Idul Fitri, Garis Start Perjuangan
Menutup khutbah, Ustadz Yandi Heryandi mengajak jamaah untuk membawa pulang satu kesadaran besar: bahwa Idul Fitri bukanlah garis finis, melainkan garis start untuk membuktikan bahwa pendidikan Ramadan benar-benar telah mengubah diri kita.
“Jika Ramadan adalah madrasah, maka hari-hari setelah ini adalah medan ujian yang sesungguhnya. Kita tidak boleh membiarkan akar iman dan kedisiplinan yang telah kita tanam selama sebulan penuh ini layu begitu saja. Sebaliknya, kita harus memastikan bahwa pohon keunggulan dalam diri kita mulai berbuah, memberikan keteduhan bagi keluarga, kemajuan bagi masyarakat, dan martabat bagi peradaban Islam. Dunia Islam tidak akan disegani hanya karena jumlah populasinya yang besar atau sumber daya alamnya yang melimpah, melainkan karena kualitas intelektual, kekuatan akhlak, dan soliditas persatuan umatnya.”
Beliau memimpin doa dengan penuh kekhusyukan:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ
“Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin, hinakanlah syirik dan para pelaku syirik, dan tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di Palestina dan di setiap tempat.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Salat Idul Fitri di Lapangan Pusaka Kalibaru berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kebahagiaan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan terharu, mendapatkan pencerahan tentang makna keunggulan manusia Muslim dan peran mereka dalam membangun peradaban yang berkeadilan.


Tinggalkan Balasan