CIREBON, 22 November 2025 – Memperingati Milad ke-113, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon menyelenggarakan Sarasehan Budaya yang bertajuk refleksi peran dan kehadiran Muhammadiyah di Kota Cirebon. Acara yang digelar di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Cirebon pada Sabtu (22/11/2025) itu menghadirkan tiga pembicara dari latar belakang yang beragam, menekankan pentingnya pendekatan budaya dalam dakwah.

Jeremia Huang Wijaya, seorang budayawan Tionghoa, membuka pemaparan dengan materi “Refleksi Kehadiran dan Peran Muhammadiyah di Kota Cirebon menurut Perspektif Budayawan Tionghoa”. Jeremia mengawali dengan kilas balik sejarah Laksamana Cheng Ho, seorang pelaut, penjelajah, diplomat, dan kasim istana pada masa Dinasti Ming. Ia menyoroti bagaimana jejak Cheng Ho mencerminkan nilai-nilai dialog dan kerukunan, yang sejalan dengan semangat dakwah kultural Muhammadiyah.

Pemateri kedua, Wawan Hernawan, menyoroti aspek penulisan sejarah Muhammadiyah. Menurutnya, catatan sejarah Muhammadiyah di Cirebon masih memerlukan banyak penyempurnaan. “Masih banyak bagian yang perlu dilengkapi dan dikaji ulang untuk mendapatkan narasi sejarah yang lebih utuh dan akurat,” ujarnya.
Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh budayawan Akbarudin Sucipto yang menekankan pentingnya integritas dalam menulis sejarah. “Menulis sejarah harus memiliki niat yang benar terlebih dahulu. Informasi harus didapatkan dari sumber primer, seperti para orang tua atau sesepuh setempat, lalu dilakukan klarifikasi dan validasi. Kejujuran perlu dikedepankan, bukan asumsi,” telak Sucipto. Ia juga menyarankan agar penulisan sejarah dilakukan secara tim untuk memastikan akurasi dan objektivitas.

Acara sarasehan menjadi semakin hidup dengan iringan musik etnik Tarling Amparanjati pimpinan Akbarudin Sucipto. Grup musik yang terdiri dari gitar, suling, bass, dan kendang jimbe itu membawakan kidung-kidung Cirebonan bernuansa sosial-keagamaan dan kemanusiaan, menciptakan atmosfer budaya yang kental dan mendalam.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Milad Muhammadiyah ke-113 Kota Cirebon Budi Sy menyampaikan terima kasih atas kehadiran para pemateri dan undangan. Ia juga mengumumkan rangkaian kegiatan Milad untuk minggu depan. Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, mengapresiasi kehadiran seluruh tamu yang telah memeriahkan acara.

Budaya Sebagai Masa Depan dan Media Dakwah
Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Ramli Effendi, S.Kep., Ners., M.Kep., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Ia menegaskan bahwa pada usia 113 tahun, Muhammadiyah telah tumbuh sebagai gerakan yang tidak hanya memajukan pendidikan dan kesehatan, tetapi juga memberi perhatian besar pada dimensi kebudayaan.

“Nilai-nilai budaya yang luhur selalu menjadi media dakwah, jembatan kemanusiaan, dan ruang dialog yang memperindah wajah Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin,” ujarnya.
Ramli menilai Kota Cirebon dengan warisan budayanya yang adiluhung, merupakan lahan yang subur bagi Muhammadiyah untuk memadukan nilai Islam berkemajuan dengan kearifan lokal. “Sarasehan budaya ini menjadi ruang dialog yang sangat baik untuk menyatukan gagasan, memperkuat jejaring, dan merumuskan langkah strategis,” tambahnya.

Ia pun menekankan tiga poin penting. Pertama, pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan inovasi. Kedua, kolaborasi antara ormas, pemerintah, akademisi, dan komunitas budaya perlu diperkuat. Ketiga, budaya sebagai media dakwah harus dirawat dengan pendekatan inklusif.

“Melalui momentum Milad ke-113 ini, mari kita jadikan budaya sebagai energi pemersatu—energi yang membawa kita kepada kemajuan, persaudaraan, dan keberkahan,” pungkasnya.
Acara ditutup dengan doa dan harapan agar Muhammadiyah tetap teguh sebagai pelopor gerakan pencerahan serta bagian penting dalam merawat budaya dan memajukan peradaban.


Tulis Komentar pada kolom di bawah ini