CIREBON, 13 Maret 2026 – Masjid Ad-Din Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMADA) Kampus Kalitanjung, Kota Cirebon, dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-25 Ramadhan 1447 H, Jumat (13/3/2026). Di penghujung bulan suci yang tinggal menghitung hari, semangat jamaah untuk meraih Lailatul Qadar semakin membara. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz apt. Didin Ahidin, S.Si., M.Farm., menyampaikan kultum yang menyejukkan hati dengan tema “Keutamaan Orang Bertakwa”.
Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang tujuan akhir puasa, hakikat takwa, serta janji-janji Allah bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Tujuan Ibadah Puasa: Meraih Derajat Takwa
Ustadz Didin Ahidin mengawali kultum dengan mengingatkan kembali tujuan utama ibadah puasa Ramadhan, yaitu meraih derajat takwa. Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
“Setelah sebulan penuh kita berlatih menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, saatnya kita merenung: sudahkah puasa ini mengantarkan kita pada derajat takwa yang hakiki?” tanya Ustadz Didin.
Makna Takwa: Sikap Hati-hati dalam Menjalani Hidup
Memasuki inti pembahasan, Ustadz Didin menjelaskan makna takwa secara mendalam. Secara bahasa, takwa berarti menjaga diri. Dalam istilah syariat, takwa adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Untuk memperjelas makna takwa, beliau mengutip percakapan inspiratif antara dua sahabat agung, Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka’ab :
“Suatu ketika, Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, ‘Wahai Ubay, apa yang dimaksud dengan takwa?’ Ubay menjawab dengan pertanyaan balik, ‘Wahai Umar, pernahkah engkau melewati jalan yang penuh onak dan duri?’ Umar menjawab, ‘Tentu saja pernah.’ Ubay bertanya lagi, ‘Apa yang engkau lakukan ketika melewati jalan itu?’ Umar menjawab, ‘Tentu saya akan berhati-hati, saya akan menyingkirkan duri itu, saya akan melangkah dengan waspada, saya akan menghindari jalan itu jika bisa.’ Maka Ubay berkata, ‘Itulah takwa.’”
“Dari percakapan ini, kita dapat memahami bahwa takwa adalah sikap hati-hati, sikap waspada dalam kehidupan agar gerak langkah hidupnya tidak melanggar aturan-aturan Allah. Orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan Allah,” jelas Ustadz Didin.
Keutamaan Orang Bertakwa
Ustadz Didin kemudian memaparkan tiga keutamaan besar yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang bertakwa, berdasarkan firman-Nya dalam Al-Qur’an.
1. Allah Memberikan Kemuliaan (QS. Al-Hujurat: 13)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)
“Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan sejati di sisi Allah bukan diukur dari keturunan, kekayaan, atau jabatan. Satu-satunya ukuran kemuliaan adalah ketakwaan. Semakin tinggi takwa seseorang, semakin mulia ia di sisi Allah,” papar Ustadz Didin.
2. Allah Memberikan Jalan Keluar dan Rezeki dari Arah yang Tidak Disangka (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
“Ini adalah janji Allah yang sangat indah. Orang yang bertakwa akan selalu diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan. Ketika masalah datang menghimpit, Allah akan membukakan pintu solusi. Ketika rezeki terasa sempit, Allah akan mengalirkannya dari arah yang tidak pernah terbayangkan. Inilah keutamaan luar biasa bagi orang yang bertakwa,” tegas Ustadz Didin.
3. Allah Mempermudah Segala Urusan (QS. Ath-Thalaq: 4)
Allah SWT berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4)
“Allah tidak hanya menjanjikan jalan keluar dan rezeki, tetapi juga kemudahan dalam setiap urusan. Urusan yang rumit menjadi sederhana, masalah yang pelik menemukan solusi, dan langkah yang terhambat menjadi lancar. Semua itu karena keberkahan takwa,” jelas Ustadz Didin.
Refleksi di Penghujung Ramadhan
Memasuki penghujung kultum, Ustadz Didin mengajak jamaah untuk merenungkan sejauh mana ibadah puasa yang telah dijalani mampu membentuk pribadi yang bertakwa.
“Semoga ibadah puasa yang kita laksanakan selama sebulan penuh ini dapat menjadikan diri kita menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa. Sehingga kita akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang Allah janjikan bagi mereka yang bertakwa: kemuliaan di sisi-Nya, jalan keluar dari setiap kesulitan, rezeki yang tidak disangka, dan kemudahan dalam setiap urusan. Aamiin,” pungkasnya.
Beliau menutup dengan doa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Salat Tarawih malam ke-25 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak mendapatkan pencerahan tentang hakikat takwa dan keutamaannya, serta semakin termotivasi untuk meraih predikat takwa di penghujung Ramadhan.


Tinggalkan Balasan