CIREBON, 13 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-25 Ramadhan 1447 H, Jumat (13/3/2026). Memasuki penghujung bulan suci, semangat ibadah jamaah semakin meningkat untuk meraih Lailatul Qadar. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Muhammad Afif Alfian menyampaikan kultum yang menyejukkan hati dengan tema “Kebahagiaan Hakiki dalam Karunia Allah” .
Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengajak untuk senantiasa bersyukur dan berbahagia atas nikmat Allah, terutama nikmat iman dan Islam yang telah dianugerahkan.
Kebahagiaan Sejati: Karunia dan Rahmat Allah
Ustadz Muhammad Afif Alfian mengawali kultum dengan mengutip firman Allah dalam QS. Yunus ayat 58:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58)
“Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk bergembira dan berbahagia dengan karunia dan rahmat-Nya. Karunia terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah petunjuk iman dan Islam. Inilah sumber kebahagiaan hakiki yang melebihi kebahagiaan karena harta benda dan kesenangan duniawi,” papar Ustadz Muhammad Afif.
Beliau menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah kebahagiaan semu yang lahir dari gemerlap dunia, melainkan kebahagiaan yang bersumber dari kedekatan dengan Allah dan kesadaran bahwa kita telah menerima nikmat terbesar, yaitu hidayah.
Bagaimana Mewujudkan Kebahagiaan dan Rasa Syukur?
Memasuki inti pembahasan, Ustadz Muhammad Afif menjelaskan bahwa kebahagiaan dan rasa syukur atas nikmat Allah harus diwujudkan dalam bentuk amal nyata, yaitu dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
“Kita harus berbahagia dan bersyukur atas nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun, rasa syukur itu tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan. Ia harus dibuktikan dengan ketaatan. Caranya adalah dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Inilah bentuk syukur yang sebenarnya,” tegasnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)
“Orang mukmin selalu optimis dan bahagia karena ia yakin bahwa apapun yang Allah berikan, baik suka maupun duka, adalah kebaikan baginya. Kuncinya adalah syukur dan sabar,” jelas Ustadz Muhammad Afif.
Kebahagiaan Orang Berpuasa
Mengaitkan dengan bulan Ramadhan, Ustadz Muhammad Afif mengingatkan hadits tentang dua kebahagiaan orang yang berpuasa:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: kegembiraan ketika ia berbuka puasa, dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Kebahagiaan saat berbuka adalah kebahagiaan duniawi karena Allah memberikan kekuatan untuk menyelesaikan ibadah. Namun kebahagiaan yang jauh lebih besar adalah saat bertemu dengan Allah di akhirat, ketika kita melihat balasan atas puasa yang kita jalani dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Itulah puncak kebahagiaan,” paparnya.
Refleksi di Penghujung Ramadhan
Di penghujung kultum, Ustadz Muhammad Afif mengajak jamaah untuk merenungkan nikmat yang telah Allah berikan selama bulan Ramadhan.
“Saudara-saudaraku, kita telah diberikan karunia yang sangat besar oleh Allah. Kita masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan, kita masih diberikan kesehatan dan kekuatan untuk berpuasa, shalat tarawih, dan berbagai ibadah lainnya. Inilah karunia dan rahmat yang patut kita syukuri dengan kebahagiaan yang tulus. Kebahagiaan ini harus kita wujudkan dengan terus istiqamah dalam ketaatan, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga setelahnya.”
Beliau menutup dengan doa:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)
Salat Tarawih malam ke-25 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak mendapatkan pencerahan tentang pentingnya bersyukur dan berbahagia atas karunia Allah, serta termotivasi untuk terus istiqamah dalam ketaatan setelah Ramadhan berlalu.


Tinggalkan Balasan