Tarawih Malam ke-27 di Masjid Santun: Ustadz Dedi Ahyadi Paparkan Perniagaan yang Menguntungkan Menurut Al-Qur’an

CIREBON, 15 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-27 Ramadhan 1447 H, Ahad (15/3/2026). Di malam yang istimewa ini, yang diyakini sebagai salah satu malam ganjil yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, semangat ibadah jamaah mencapai puncaknya. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Dedi Ahyadi menyampaikan kultum yang menggugah dengan tema “Perniagaan yang Menguntungkan Menurut Al-Qur’an” .

Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengajak untuk merenungkan hakikat kehidupan dunia sebagai ladang beramal untuk meraih keuntungan abadi di akhirat.


Hidup di Dunia: Seperti Perniagaan yang Mencari Keuntungan

Ustadz Dedi Ahyadi mengawali kultum dengan analogi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Hidup di dunia pada prinsipnya seperti halnya perniagaan. Setiap pedagang pasti ingin mendapatkan keuntungan, bukan kerugian. Demikian pula kita sebagai hamba Allah, kita harus menjalani hidup ini dengan cara yang benar agar mendapatkan keuntungan, bukan kerugian, di akhirat kelak,” paparnya.

Beliau kemudian mengutip dua ayat dari Al-Qur’an yang berbicara tentang perniagaan yang dapat menyelamatkan manusia dari azab yang pedih. Pertama, dari QS. Ash-Shaff ayat 10-11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ . تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Ash-Shaff: 10-11)

Kedua, dari QS. Fathir ayat 29-30:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ . لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30)


Cara Meraih Perniagaan yang Menguntungkan

Memasuki inti pembahasan, Ustadz Dedi menjelaskan bahwa perniagaan yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut adalah amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah. Ada beberapa cara untuk meraih keuntungan dalam perniagaan akhirat ini:

1. Berjuang di Jalan Allah dengan Harta dan Jiwa

Poin pertama yang ditekankan Ustadz Dedi adalah berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa. “Allah menawarkan kepada kita sebuah perniagaan yang sangat menguntungkan. Modal utama dalam perniagaan ini adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta jihad (berjuang) di jalan Allah dengan harta dan jiwa,” jelasnya.

Beliau mengingatkan agar jangan hanya menumpuk harta tanpa memanfaatkannya untuk berjuang di jalan Allah. “Harta adalah titipan Allah. Kita harus memanfaatkannya untuk kebaikan, untuk jihad fi sabilillah, untuk membantu sesama, untuk mendukung dakwah. Jangan sampai harta yang kita kumpulkan justru menjadi beban dan menjerumuskan kita ke dalam neraka,” tegasnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ

“Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh orang saleh.” (HR. Ahmad)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

2. Membaca Al-Qur’an dan Mengamalkannya

Poin kedua yang disebutkan dalam QS. Fathir adalah membaca Kitab Allah (Al-Qur’an). “Membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan huruf-hurufnya, tetapi juga memahami, merenungkan, dan mengamalkan isinya. Di bulan Ramadhan ini, kita dilatih untuk berinteraksi intensif dengan Al-Qur’an. Ini adalah investasi besar untuk akhirat kita,” papar Ustadz Dedi.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at (pemberi pertolongan) bagi pembacanya (orang yang mengamalkannya).” (HR. Muslim)

3. Mendirikan Shalat dan Berinfak

Poin ketiga dan keempat adalah mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. “Shalat adalah tiang agama. Ia akan menjadi cahaya di dunia dan di akhirat. Sedangkan infak adalah bukti kepedulian sosial dan keimanan kita. Keduanya harus kita jaga dan kita tingkatkan, terutama di penghujung Ramadhan ini,” jelasnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 110)


Refleksi di Malam ke-27 Ramadhan

Memasuki penghujung kultum, Ustadz Dedi mengajak jamaah untuk merenungkan makna perniagaan dengan Allah di malam yang istimewa ini. “Malam ini adalah malam ke-27, salah satu malam ganjil yang sangat diharapkan sebagai Lailatul Qadar. Mari kita tingkatkan ibadah kita, perbanyak doa, perbanyak istigfar, perbanyak sedekah, dan perbanyak membaca Al-Qur’an. Ini adalah malam berburu keuntungan besar dari Allah.”

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Jangan sia-siakan malam ini. Jangan sia-siakan sisa Ramadhan. Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan, berjuang dengan harta dan jiwa kita, membaca Al-Qur’an, mendirikan shalat, dan berinfak. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang beruntung dalam perniagaan ini,” ajaknya.


Penutup: Doa Malam Lailatul Qadar

Ustadz Dedi menutup kultum dengan mengajak jamaah membaca doa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam untuk malam Lailatul Qadar:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

“Perbanyaklah doa ini di malam-malam ganjil ini. Mintalah ampunan kepada Allah, karena ampunan-Nya adalah keuntungan terbesar yang bisa kita raih,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam ke-27 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang hakikat kehidupan sebagai perniagaan dengan Allah, serta termotivasi untuk meraih keuntungan besar di malam-malam terakhir Ramadhan.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *