Tarawih Malam ke-28 di Masjid Umar bin Khattab: Ustadz Drs. Somantri Perbangkara Paparkan Tuntunan Zakat Fitrah dan Zakat Mal

CIREBON, 16 Maret 2026 – Masjid Umar bin Khattab yang berada di lingkungan SMK Farmasi Muhammadiyah Kabupaten Cirebon dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-28 Ramadhan 1447 H, Senin (16/3/2026). Memasuki penghujung bulan suci, semangat jamaah untuk meraih keberkahan semakin meningkat. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd.I., menyampaikan kultum yang sangat penting dengan tema “Tuntunan Zakat Fitrah dan Zakat Mal” .

Jamaah yang hadir tampak antusias menyimak tausiyah yang memberikan pemahaman komprehensif tentang salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan ini, terutama menjelang Idul Fitri.


Pengertian Zakat: Bersih, Suci, dan Berkah

Ustadz Somantri mengawali kultum dengan menjelaskan pengertian zakat secara bahasa dan istilah. Secara bahasa, zakat berarti bersih, suci, berkembang, dan berkah. Sedangkan menurut istilah syariat, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya sesuai ketentuan syariat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 43:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43)

“Ayat ini menunjukkan bahwa zakat merupakan rukun Islam yang sangat penting setelah shalat. Keduanya sering disebut beriringan dalam Al-Qur’an,” papar Ustadz Somantri.


Zakat Fitrah: Penyempurna Ibadah Puasa

Memasuki pembahasan pertama, Ustadz Somantri menjelaskan secara rinci tentang zakat fitrah.

Pengertian dan Hukum

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan setiap muslim pada akhir bulan Ramadhan sebagai penyucian diri dan penyempurna ibadah puasa. Hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim yang memiliki kelebihan makanan pada malam Idul Fitri.

Dalil wajibnya zakat fitrah bersumber dari hadits Ibnu Umar RA:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum bagi setiap muslim, baik budak maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Besaran Zakat Fitrah

Zakat fitrah ditunaikan sebesar 1 sha’ makanan pokok, yang jika dikonversi setara dengan sekitar 2,5 hingga 3 kg beras. Dalam praktiknya, zakat fitrah juga boleh dikonversi dalam bentuk uang senilai makanan pokok tersebut demi kemaslahatan dan kemudahan.

“Ini berdasarkan prinsip kemudahan dan kemanfaatan bagi penerima zakat. Yang penting adalah niat dan ketepatan sasaran,” jelas Ustadz Somantri.

Waktu Mengeluarkan Zakat Fitrah

Ustadz Somantri menjelaskan waktu-waktu yang berkaitan dengan pembayaran zakat fitrah:

  • Waktu utama : sebelum shalat Idul Fitri
  • Waktu boleh : sejak awal Ramadhan
  • Makruh : setelah shalat Id
  • Haram : sengaja menunda tanpa alasan setelah shalat Id

Dalil dan Hikmah Zakat Fitrah

Hadits Ibnu Abbas RA menjelaskan hikmah di balik pensyariatan zakat fitrah:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang miskin.” (HR. Abu Dawud)

“Hikmah zakat fitrah ada empat: menyucikan orang yang berpuasa, membantu fakir miskin merayakan Idul Fitri, menumbuhkan kepedulian sosial, dan menyempurnakan ibadah Ramadhan,” papar Ustadz Somantri.


Zakat Mal: Membersihkan Harta dan Jiwa

Memasuki pembahasan kedua, Ustadz Somantri menjelaskan tentang zakat mal atau zakat harta.

Pengertian dan Dasar Hukum

Zakat mal adalah zakat yang dikenakan atas harta yang dimiliki seseorang setelah mencapai nisab dan haul. Dalam perspektif Muhammadiyah, zakat mal mencakup berbagai jenis harta seperti: emas dan perak, uang dan tabungan, perdagangan, hasil pertanian, peternakan, hasil tambang, dan zakat profesi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103)

“Ayat ini menunjukkan bahwa zakat berfungsi membersihkan harta dan jiwa manusia. Harta yang dizakati akan menjadi bersih dan berkembang,” jelasnya.

Syarat Wajib Zakat Mal

Ustadz Somantri memaparkan lima syarat wajib zakat mal:

  1. Muslim – zakat diwajibkan bagi orang Islam
  2. Harta milik penuh – harta tersebut benar-benar menjadi miliknya
  3. Mencapai nisab – mencapai batas minimal wajib zakat
  4. Melewati haul – telah dimiliki selama satu tahun untuk jenis harta tertentu
  5. Harta berkembang – memiliki potensi untuk berkembang

Nisab dan Kadar Zakat Mal

Berikut adalah beberapa contoh nisab dan kadar zakat mal: Jenis Zakat Nisab Kadar Zakat Emas/Uang 85 gram emas 2,5% Zakat Perdagangan Setara 85 gram emas 2,5% per tahun Zakat Pertanian (irigasi) – 5% Zakat Pertanian (hujan) – 10%

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang zakat emas dan perak:

لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ صَدَقَةٌ

“Tidak ada zakat pada perak yang kurang dari lima uqiyah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

إِذَا كَانَتْ لَكَ مِائَتَا دِرْهَمٍ وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ

“Apabila engkau memiliki dua ratus dirham dan telah berlalu satu tahun maka zakatnya lima dirham.” (HR. Abu Dawud)


Golongan Penerima Zakat (Asnaf)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan delapan golongan yang berhak menerima zakat dalam QS. At-Taubah ayat 60:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, para amil zakat, orang yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

Ustadz Somantri menjelaskan kedelapan golongan tersebut:

  1. Fakir : orang yang tidak memiliki harta dan pekerjaan
  2. Miskin : orang yang memiliki pekerjaan tetapi tidak mencukupi
  3. Amil : petugas pengumpul dan pendistribusi zakat
  4. Muallaf : orang yang baru masuk Islam dan perlu dikuatkan imannya
  5. Riqab : hamba sahaya yang ingin memerdekakan diri
  6. Gharimin : orang yang berhutang untuk kebutuhan halal
  7. Fii Sabilillah : pejuang di jalan Allah
  8. Ibnu Sabil : musafir yang kehabisan bekal

Hikmah Zakat Mal

Ustadz Somantri memaparkan lima hikmah utama zakat mal:

  1. Membersihkan harta dan jiwa dari sifat kikir dan cinta dunia berlebihan
  2. Mengurangi kesenjangan sosial antara yang kaya dan yang miskin
  3. Menumbuhkan solidaritas umat dan rasa persaudaraan
  4. Menguatkan ekonomi umat dengan perputaran harta yang lebih adil
  5. Mendatangkan keberkahan harta karena harta yang dizakati akan dilindungi dan dikembangkan Allah

Kesimpulan dan Pesan Akhir

Menutup kultum, Ustadz Somantri memberikan kesimpulan penting:

“Zakat Fitrah: Wajib bagi setiap muslim, dibayar menjelang Idul Fitri, sebesar ±2,5–3 kg makanan pokok.

Zakat Mal: Zakat atas harta yang mencapai nisab dan haul, umumnya sebesar 2,5% dari harta tertentu.

Keduanya memiliki tujuan utama: membersihkan harta, menyucikan jiwa, dan menolong sesama. Mari kita tunaikan zakat dengan ikhlas dan tepat waktu, karena zakat adalah bukti keimanan dan kepedulian kita terhadap sesama.”

Beliau mengutip firman Allah:

وَمَا آتَيْتُمْ مِّن رِّبًا لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ اللَّهِ ۖ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Rum: 39)

Salat Tarawih malam ke-28 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang tuntunan zakat fitrah dan zakat mal, sehingga siap menunaikan kewajiban ini dengan benar menjelang Idul Fitri.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *