CIREBON, 17 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-29 Ramadhan 1447 H, Selasa (17/3/2026). Memasuki penghujung bulan suci, suasana haru dan refleksi menyelimuti setiap sudut masjid. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Dr. H. Muchlis, menyampaikan kultum yang mendalam dengan tema “Makna Idul Fitri dan Indikator Kemenangan Sejati” .
Jamaah yang memadati masjid hingga halaman tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengajak untuk merenungkan hakikat Idul Fitri serta tanda-tanda orang yang meraih kemenangan setelah sebulan berpuasa.

Fitri: Makan Bersama dan Kembali ke Fitrah
Dr. H. Muchlis mengawali kultum dengan menjelaskan makna kata “fitri” dan “Idul Fitri” secara etimologis dan terminologis.
“Secara bahasa, fitri berasal dari kata fathara yang berarti makan bersama atau berbuka. Namun hakikat Idul Fitri yang sesungguhnya adalah kembali ke fitrah , yaitu kembali kepada kesucian asal, kembali kepada potensi keyakinan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” paparnya.
Beliau menjelaskan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu kesucian dan potensi untuk beriman kepada Allah. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Idul Fitri adalah momentum kita kembali kepada fitrah itu. Setelah sebulan penuh berpuasa dan beribadah, kita kembali suci seperti bayi yang baru lahir, tanpa dosa. Inilah proses pembersihan hati yang kita jalani selama Ramadhan,” jelas Dr. Muchlis.
Beliau mengaitkan hal ini dengan QS. Ar-Rum ayat 30:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. Ar-Rum: 30)

Peringatan: Jangan Hanya Mendapat Lapar dan Haus
Memasuki inti pembahasan, Dr. Muchlis mengingatkan sebuah hadits yang sangat terkenal tentang orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)
“Jangan sampai kita termasuk golongan ini. Kita telah berpuasa sebulan penuh, jangan hanya mendapatkan lapar dan haus. Kita harus meraih esensi puasa yang sesungguhnya, yaitu ketakwaan dan kembali kepada fitrah,” tegas Dr. Muchlis.
Beliau juga mengingatkan bahwa ujian Ramadhan adalah untuk memenej hati kita. Selama sebulan ini kita dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan, dan membersihkan hati dari berbagai penyakit.

Indikator Orang yang Meraih Kemenangan (Al-Faizun)
Dr. Muchlis kemudian memaparkan tiga indikator orang yang meraih kemenangan sejati (al-faizun) setelah melalui ujian Ramadhan, berdasarkan firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 20:
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At-Taubah: 20)
1. Orang yang Beriman (Al-Mu’minun)
Indikator pertama adalah keimanan yang kokoh. Orang yang meraih kemenangan adalah mereka yang imannya semakin kuat setelah melewati ujian Ramadhan.
“Selama Ramadhan, kita dilatih untuk meningkatkan keimanan. Shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan berbagai ibadah lainnya adalah sarana untuk menguatkan iman. Jika setelah Ramadhan iman kita semakin kokoh, itulah tanda kemenangan,” jelas Dr. Muchlis.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)
2. Orang yang Berhijrah (Al-Muhajirun)
Indikator kedua adalah semangat berhijrah. Hijrah dalam konteks ini tidak selalu berarti berpindah tempat, tetapi bisa juga berarti berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebaikan.
“Kita berusaha semaksimal mungkin untuk meraih pahala yang sebesar-besarnya. Kita berhijrah dari kemalasan menuju kesungguhan, dari maksiat menuju taat, dari kelalaian menuju kesadaran. Itulah makna hijrah dalam konteks Ramadhan,” papar Dr. Muchlis.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang hijrah dari apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari & Muslim)
3. Orang yang Berjihad di Jalan Allah (Al-Mujahidun)
Indikator ketiga adalah semangat berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan harta. Jihad di sini bukan hanya perang fisik, tetapi juga perjuangan melawan hawa nafsu yang merupakan jihad akbar.
“Kemenangan yang paling besar adalah kemenangan melawan hawa nafsu. Orang-orang yang berkomitmen untuk berjihad, apapun yang dilakukan—meskipun lelah, capek—tetap mengutamakan ibadah. Mereka rela berkorban demi meraih ridha Allah. Itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan,” tegas Dr. Muchlis.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda setelah kembali dari perang Badar:
رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ
“Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” (HR. Baihaqi)
Para sahabat bertanya, “Apa jihad besar itu?” Beliau menjawab:
جِهَادُ النَّفْسِ
“Jihad melawan hawa nafsu.”

Penutup: Meraih Kemenangan Sejati
Menutup kultum, Dr. H. Muchlis mengajak jamaah untuk merefleksikan diri apakah kita termasuk orang-orang yang meraih kemenangan setelah Ramadhan.
“Saudara-saudaraku, Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Tanyakan pada diri kita: sudahkah iman kita meningkat? sudahkah kita berhijrah menuju kebaikan? sudahkah kita berjihad melawan hawa nafsu? Jika ya, maka kita termasuk orang-orang yang meraih kemenangan. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin,” pungkasnya.
Beliau juga mengingatkan untuk mempersiapkan diri menyambut Idul Fitri dengan hati yang bersih dan penuh syukur, serta terus menjaga kualitas ibadah setelah Ramadhan berlalu.
Salat Tarawih malam ke-29 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang makna Idul Fitri serta indikator kemenangan sejati setelah sebulan berpuasa.


Tinggalkan Balasan