CIREBON, 18 Februari 2026 – Suasana khidmat dan penuh syukur menyelimuti Masjid Al Ikhlas Drajat, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, pada pelaksanaan Salat Tarawih malam kedua Ramadhan 1447 H, Rabu (18/2/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Drs. H. Otong Hasanudin menyampaikan kultum yang menyentuh hati dengan tema “Syukur Atas Dipertemukan dengan Ramadhan Tahun Ini”. Nampak hadir Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi H. Digyono.
Jamaah yang memadati masjid hingga halaman tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengajak mereka merenungkan betapa besar nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah mempertemukan mereka kembali dengan bulan suci Ramadhan.

Syukur: Kunci Kebahagiaan dan Tambahan Nikmat
Ustadz Otong Hasanudin mengawali kultum dengan mengajak jamaah untuk merenungkan makna syukur. Beliau mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 7)
“Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan jelas menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur. Dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan adalah nikmat yang sangat besar yang patut kita syukuri. Berapa banyak saudara kita yang tahun lalu masih bersama kita, kini telah berpulang ke rahmatullah dan tidak sempat bertemu Ramadhan tahun ini,” papar Ustadz Otong dengan nada haru.
Beliau mengingatkan bahwa syukur bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan dengan amal perbuatan. Bersyukur atas dipertemukan dengan Ramadhan berarti mengisi bulan suci ini dengan ibadah dan ketaatan yang maksimal.

Ramadhan: Bulan yang Penuh Keberkahan
Ustadz Otong Hasanudin kemudian menjelaskan beberapa keutamaan bulan Ramadhan yang menjadikannya layak disyukuri. Beliau mengutip firman Allah:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
“Lihatlah betapa mulianya bulan ini. Al-Qur’an, kitab suci kita, diturunkan pertama kali di bulan Ramadhan. Ini adalah petunjuk bagi seluruh manusia, penjelas kebenaran, dan pembeda antara hak dan batil. Maka beruntunglah kita yang dipertemukan dengan bulan penuh petunjuk ini,” jelasnya.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda tentang keutamaan Ramadhan:
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)
Ustadz Otong menjelaskan, “Ini adalah momentum emas yang tidak boleh disia-siakan. Pintu surga dibuka lebar, setan dibelenggu, kesempatan kita untuk beribadah tanpa gangguan setan sangat terbuka. Maka syukuri dengan memperbanyak amal saleh.”

Ampunan di Bulan Ramadjan
Beliau juga mengutip hadis tentang keutamaan puasa Ramadhan yang dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Subhanallah, dosa-dosa kita yang telah lalu bisa diampuni hanya dengan berpuasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah. Ini adalah kesempatan emas untuk membersihkan diri. Maka syukuri nikmat ini dengan sungguh-sungguh menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan,” ajaknya.

Dua Kegembiraan Orang Berpuasa
Ustadz Otong Hasanudin kemudian mengingatkan hadis tentang dua kegembiraan yang dijanjikan bagi orang berpuasa:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِندَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِندَ لِقَاءِ رَبِّهِ
“Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: kegembiraan ketika ia berbuka puasa, dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Beliau menjelaskan makna kedua kegembiraan ini:
Kegembiraan saat berbuka bukan sekadar karena hilangnya rasa lapar dan dahaga, tetapi lebih dari itu karena telah berhasil menunaikan perintah Allah dengan baik. Ini adalah kebahagiaan spiritual yang muncul dari kesadaran bahwa kita telah memenuhi kewajiban kita kepada Allah.
Kegembiraan saat bertemu Allah adalah kebahagiaan tertinggi yang dirasakan oleh orang-orang beriman, terutama mereka yang rajin berpuasa. Allah menyediakan pintu khusus di surga bernama Ar-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ
“Sesungguhnya di surga ada pintu yang disebut Ar-Rayyan. Pada hari kiamat, orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu, tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Wujud Syukur atas Dipertemukan dengan Ramadhan
Memasuki penghujung kultum, Ustadz Otong merumuskan beberapa bentuk syukur yang dapat diwujudkan atas nikmat dipertemukan dengan Ramadhan:
1. Menyambut Ramadhan dengan Kegembiraan
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam biasa menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat tentang kedatangan Ramadhan. Menyambut Ramadhan dengan suka cita adalah bentuk syukur.
2. Memperbanyak Ibadah
Mengisi Ramadhan dengan berbagai ibadah, seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, sedekah, dan i’tikaf, adalah wujud syukur yang paling nyata.
3. Menjaga Lisan dan Perbuatan
Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari)
4. Memperbanyak Doa
Berdoa agar diberikan kekuatan untuk menjalankan ibadah dan diterima amal-amal kita adalah bentuk syukur yang indah.
Penutup: Jangan Sia-siakan Kesempatan
Di akhir kultum, Ustadz Otong Hasanudin mengajak jamaah untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini.
“Kita tidak tahu, apakah tahun depan kita masih akan bertemu Ramadhan atau tidak. Maka manfaatkan Ramadhan tahun ini sebaik-baiknya. Perbanyak istigfar, perbanyak sedekah, perbanyak membaca Al-Qur’an, dan perbanyak doa. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan tahun depan. Aamiin,” tutupnya.
Salat Tarawih malam kedua di Masjid Al Ikhlas Drajat berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir, termasuk pengurus PCM Kesambi dan warga sekitar, tampak terharu dan bersemangat setelah mendapatkan pencerahan tentang pentingnya mensyukuri nikmat dipertemukan dengan Ramadhan.


Tinggalkan Balasan