Tarawih Malam Kedua di Masjid Santun: Ustadz Sunarya Paparkan Dua Kegembiraan Orang Berpuasa

CIREBON, 18 Februari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam kedua Ramadhan 1447 H, Rabu (18/2/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Sunarya, S.Pd.I., M.M. , menyampaikan kultum yang menyejukkan hati dengan tema “Dua Kegembiraan Orang Berpuasa” .

Jamaah yang hadir tampak antusias menyimak tausiyah yang mengupas hadis Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam tentang kebahagiaan yang dijanjikan Allah bagi hamba-Nya yang menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan.


Dua Kegembiraan Orang Berpuasa

Ustadz Sunarya mengawali kultum dengan mengutip hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: kegembiraan ketika ia berbuka puasa, dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Subhanallah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menjanjikan dua kebahagiaan istimewa bagi orang-orang yang berpuasa. Dua kegembiraan ini menjadi motivasi besar bagi kita untuk menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya,” papar Ustadz Sunarya.


Kegembiraan Pertama: Saat Berbuka Puasa

Ustadz Sunarya menjelaskan makna mendalam dari kegembiraan pertama yang dirasakan orang berpuasa, yaitu saat berbuka puasa. Kegembiraan ini memiliki beberapa dimensi spiritual yang patut direnungkan:

a. Hilangnya Rasa Lapar dan Dahaga

Secara fisik, setelah seharian menahan lapar dan dahaga, saat berbuka adalah momen yang paling dinanti. Namun lebih dari itu, Ustadz Sunarya mengingatkan bahwa rasa lapar dan dahaga yang kita rasakan adalah pengingat akan nikmat Allah yang sering kita lupakan.

“Ketika kita berbuka dan merasakan segarnya air dan lezatnya makanan, saat itulah kita diajak untuk merenung betapa Allah begitu pemurah. Nikmat yang sering kita anggap biasa, ternyata menjadi sesuatu yang sangat berarti setelah kita merasakan lapar dan dahaga seharian,” jelasnya.

b. Mampu Mengalahkan Godaan Setan

Kegembiraan berbuka juga merupakan simbol kemenangan atas godaan setan. Setan selalu membisikkan keraguan dan godaan untuk membatalkan puasa, namun orang beriman mampu bertahan dan menyelesaikan puasanya dengan sempurna.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa setan berjalan dalam diri anak Adam melalui aliran darah. Dengan berpuasa, kita mempersempit ruang gerak setan. Maka ketika kita berhasil menyelesaikan puasa, itu artinya kita telah meraih kemenangan atas musuh abadi kita,” tegas Ustadz Sunarya.

c. Mampu Menyelesaikan Perintah Allah

Kegembiraan terbesar saat berbuka adalah perasaan lega karena telah berhasil menunaikan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Puasa adalah ibadah yang berat karena melibatkan fisik dan jiwa. Menyelesaikannya dengan baik adalah prestasi spiritual yang layak dirayakan dengan rasa syukur.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)


Kegembiraan Kedua: Saat Berjumpa dengan Allah

Memasuki pembahasan tentang kegembiraan kedua, Ustadz Sunarya menyampaikan bahwa ini adalah kebahagiaan yang paling agung dan abadi.

Nikmat Terbesar: Berjumpa Allah dan Masuk Surga Ar-Rayyan

“Kegembiraan ketika bertemu dengan Allah adalah kebahagiaan yang tak terhingga. Ini adalah puncak dari segala kebahagiaan yang dirasakan oleh orang-orang beriman. Di surga nanti, Allah telah menyiapkan pintu khusus bagi orang-orang yang berpuasa, yaitu pintu Ar-Rayyan,” papar Ustadz Sunarya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ، لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada pintu yang disebut Ar-Rayyan. Pada hari kiamat, orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu, tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya. Dikatakan, ‘Di manakah orang-orang yang berpuasa?’ Maka mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang memasukinya. Apabila mereka telah masuk, pintu itu ditutup, dan tidak ada seorang pun yang masuk melaluinya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ustadz Sunarya menjelaskan makna “Ar-Rayyan” yang secara bahasa berarti “yang penuh dengan air minum yang menyegarkan”. “Ini adalah pintu istimewa yang Allah sediakan khusus bagi hamba-hamba-Nya yang rajin berpuasa. Mereka dipanggil dengan penuh kemuliaan untuk memasuki surga melalui pintu yang tidak dimasuki oleh selain mereka. Subhanallah,” ujarnya penuh haru.

Bertemu Allah: Kebahagiaan Hakiki

Beliau kemudian mengutip firman Allah tentang kebahagiaan orang-orang beriman saat bertemu dengan Tuhannya:

لَهُم مَّا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

“Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di dalamnya (surga), dan di sisi Kami ada tambahannya (yaitu melihat Allah).” (QS. Qaf: 35)

Para ulama menafsirkan “tambahan” dalam ayat ini adalah kenikmatan melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang merupakan kenikmatan tertinggi di surga.

“Bayangkan, jamaah sekalian, ketika kita bisa bertemu dan melihat Allah di surga, itulah kebahagiaan yang tiada tara. Semua rasa lapar dan dahaga selama berpuasa di dunia akan terbayar lunas dengan kebahagiaan ini,” jelas Ustadz Sunarya.


Penutup: Meraih Dua Kebahagiaan dengan Istiqamah

Menutup kultum, Ustadz Sunarya mengajak jamaah untuk senantiasa istiqamah dalam menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan.

“Marilah kita jaga kualitas puasa kita agar meraih dua kebahagiaan yang dijanjikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Kebahagiaan di dunia saat kita berbuka dengan rasa syukur, dan kebahagiaan di akhirat saat kita berjumpa dengan Allah dan memasuki surga-Nya melalui pintu Ar-Rayyan yang mulia,” ajaknya.

Beliau juga mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa betapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Maka jadilah orang yang berpuasa dengan iman dan pengharapan, sehingga kita termasuk dalam golongan yang dijanjikan kebahagiaan dunia dan akhirat,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam kedua berlangsung dengan khusyuk hingga selesai. Jamaah tampak semakin bersemangat menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan setelah mendapatkan pencerahan tentang dua kebahagiaan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu tanggapan untuk “Tarawih Malam Kedua di Masjid Santun: Ustadz Sunarya Paparkan Dua Kegembiraan Orang Berpuasa”

  1. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Aamiin