Abstrak
Artikel ini membahas konsep dan implementasi Dakwah Bil Hal (dakwah melalui tindakan nyata) melalui medium pengembangan dan penerapan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Sains (IPTEKS). Dengan menggunakan pendekatan studi literatur terhadap sumber-sumber primer Islam (Al-Qur’an dan Hadis) serta kajian akademis kontemporer, artikel ini berargumen bahwa pengembangan IPTEKS bukanlah aktivitas sekuler yang terpisah dari agama, melainkan salah satu bentuk dakwah yang paling efektif dan substansial di era modern. Melalui IPTEKS, Islam dapat mendemonstrasikan relevansi dan kontribusinya dalam menyelesaikan masalah kemanusiaan, meningkatkan kualitas hidup, dan membangun peradaban yang unggul. Artikel ini menyimpulkan bahwa sinergi antara nilai-nilai keislaman dan kemajuan IPTEKS merupakan manifestasi konkret dari konsep “Islam Berkemajuan”.
Kata Kunci: Dakwah Bil Hal, IPTEKS, Islam Berkemajuan, Integrasi Ilmu, Peradaban, Al-Qur’an, Hadis.
Pendahuluan
Dakwah dalam Islam memiliki ragam metode, salah satunya adalah Dakwah Bil Hal, yaitu pendekatan dakwah yang mengedepankan keteladanan dan aksi nyata untuk merepresentasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Dalam konteks masyarakat abad ke-21 yang ditandai oleh disrupsi teknologi dan dominasi ilmu pengetahuan, makna Dakwah Bil Hal perlu diperluas. Ia tidak lagi terbatas pada aktivitas filantropi konvensional, melainkan harus mencakup kontribusi substantif dalam pengembangan dan penerapan IPTEKS untuk kemaslahatan umat manusia. Artikel ini akan mengkaji landasan teologis-filosofis, bentuk-bentuk implementasi, serta tantangan dan prospek dakwah melalui pengembangan IPTEKS, dengan merujuk pada perspektif Islam dan literatur mutakhir.
Landasan Teologis-Filosofis: Iptek sebagai Bagian dari Ibadah dan Khalifah
Pengembangan IPTEKS dalam Islam memiliki fondasi yang kuat dalam doktrin ketauhidan dan tujuan penciptaan manusia.
- Perintah untuk Berpikir dan Meneliti: Al-Qur’an berulang kali mendorong manusia untuk mengobservasi, meneliti, dan memikirkan penciptaan alam semesta sebagai tanda kebesaran Allah (ayat-ayat kauniyah). إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Eksplorasi ilmiah terhadap ayat-ayat kauniyah ini adalah bentuk pengagungan kepada Penciptanya. - Tugas Kekhalifahan (Istikhlaaf): Manusia ditugaskan sebagai khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: 30), yang mengimplikasikan tanggung jawab untuk memakmurkan (‘imaarah), mengelola, dan mengembangkan potensi bumi secara bertanggung jawab. هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
“Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya.” (QS. Hud: 61)
Penguasaan dan inovasi IPTEKS adalah alat utama untuk menunaikan amanah kekhalifahan ini secara optimal. - Prinsip Kemaslahatan (Maslahah): Maqashid al-Syari’ah (tujuan-tujuan syariat) yang intinya adalah menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, memerlukan IPTEKS untuk merealisasikannya di era modern. Inovasi di bidang kesehatan, pangan, energi, dan keamanan adalah bentuk nyata dari penjagaan terhadap kelima hak dasar tersebut (Kamali, 2019).
Bentuk Implementasi Dakwah Bil Hal melalui IPTEKS
Dakwah Bil Hal melalui IPTEKS dapat diwujudkan dalam beberapa ranah strategis:
- Pendidikan dan Riset: Mendirikan dan mengembangkan lembaga pendidikan (sekolah, universitas) serta pusat riset yang unggul dalam sains dan teknologi. Lembaga ini tidak hanya mencetak ilmuwan dan profesional muslim yang kompeten, tetapi juga menjadi living laboratory yang mengintegrasikan nilai-nilai etika Islam dalam setiap aktivitas keilmuannya. Universitas-universitas Muhammadiyah, misalnya, telah berkontribusi dalam riset obat herbal, teknologi tepat guna, dan sistem informasi untuk layanan masyarakat (Baidhawy & Nashir, 2023).
- Layanan Kesehatan dan Teknologi Medis: Mengelola rumah sakit dan klinik dengan teknologi medis mutakhir, sekaligus mengembangkan riset biomedis yang sesuai dengan etika Islam. Ini adalah dakwah nyata melalui pengurangan penderitaan (daf’u al-darar) dan peningkatan kualitas hidup, yang merupakan esensi dari rahmat Islam (rahmatan lil-‘alamin).
- Inovasi Sosial dan Teknologi Tepat Guna: Menciptakan solusi teknologi untuk masalah sosial-ekonomi umat, seperti teknologi pengolahan air bersih, energi terbarukan skala komunitas, aplikasi fintech syariah untuk UMKM, atau platform digital untuk pendidikan inklusif. Nabi SAW bersabda: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani)
Inovasi yang memecahkan masalah riil masyarakat adalah bentuk amal saleh dan dakwah yang paling langsung dirasakan. - Etika, Regulasi, dan Fatwa Teknologi: Berdakwah melalui kontribusi pada wacana etika teknologi (seperti AI, bioteknologi, dan keamanan siber) dan penyusunan regulasi yang melindungi nilai-nilai kemanusiaan. Majelis Tarjih Muhammadiyah, misalnya, telah mengeluarkan fatwa dan panduan terkait penggunaan teknologi reproduksi dan transaksi digital yang menjadi rujukan umat (PP Muhammadiyah, 2020).
Tantangan dan Prospek Ke depan
Tantangan utama terletak pada: (1) menyatukan dua budaya yang sering dianggap berseberangan: budaya keagamaan (religious minded) dan budaya ilmiah (science minded); (2) mengatasi kesenjangan sumber daya dan kapasitas untuk riset dan inovasi berkelanjutan; serta (3) menjawab tuduhan sekularisasi dari kalangan tertentu.
Namun, prospeknya sangat cerah. Generasi muslim milenial dan Gen Z yang melek teknologi justru mencari narasi agama yang mampu berdialog dengan kemajuan (Hashi, 2021). Dakwah Bil Hal melalui IPTEKS akan:
- Membongkar Stereotip Negatif: Menunjukkan bahwa Islam adalah pendorong kemajuan, bukan penghambat.
- Meningkatkan Kredibilitas Dakwah: Dakwah menjadi lebih dipercaya karena disertai bukti konkret manfaat untuk kehidupan.
- Melahirkan Pemimpin Peradaban: Menciptakan kader-kader yang bukan hanya paham agama, tetapi juga menguasai sains dan teknologi untuk memimpin perubahan.
Penutup
Dakwah Bil Hal melalui pengembangan dan penerapan IPTEKS adalah keniscayaan sejarah dan tuntutan teologis. Ia adalah metode dakwah yang paling relevan untuk menjawab tantangan zaman dan mewujudkan misi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dengan menjadikan IPTEKS sebagai medium ibadah dan kekhalifahan, umat Islam dapat berkontribusi secara nyata dalam membangun peradaban manusia yang lebih adil, sejahtera, dan berkelanjutan. Gerakan Islam seperti Muhammadiyah, dengan jaringan amal usaha dan komitmen pada tajdid, memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor dalam paradigma dakwah transformatif ini. Investasi besar-besaran pada pendidikan sains, riset terapan, dan inovasi teknologi yang berlandaskan etika Islam harus menjadi agenda utama dakwah di abad ke-21.
Daftar Pustaka (5 Tahun Terakhir)
- Baidhawy, Z., & Nashir, H. (2023). Pendidikan Karakter dan Preventif Radikalisme: Model Pesantren dan Sekolah Muhammadiyah. Yogyakarta: LP3ES. (Bab tentang integrasi sains dan nilai).
- Hashi, A. A. (2021). Islamic Ethics and the Trusteeship Paradigm: A New Foundation for Global Ethics. Leiden: Brill. (Membahas tanggung jawah etis dalam pengembangan sains).
- Kamali, M. H. (2019). Maqasid al-Shariah Made Simple. London: The International Institute of Islamic Thought. (Dasar konsep maslahah dalam aplikasi teknologi).
- PP Muhammadiyah. (2020). Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah Jilid 4. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah. (Memuat fatwa terkait teknologi dan biomedis).
- Ramadan, T. (2022). Introduction to Islamic Ethics: Foundations and Methodologies. Oxford: Oxford University Press. (Kerangka etika untuk perkembangan teknologi).
- Sardar, Z. (2019). Islamic Science: The Way Ahead. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust. (Membahas rekonstruksi sains dalam perspektif Islam).


Tulis Balasan ke Mukmin Batalkan balasan