CIREBON, 31 Desember 2025 – Menutup akhir tahun 2025 dengan refleksi mendalam, Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon menyelenggarakan Kajian Reboan dengan tema “Hidup Bermakna dengan Nilai Islami”. Kajian yang berlangsung pada Rabu malam ini menghadirkan Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., sebagai pemateri, dan diikuti oleh jamaah yang antusias menyambut tahun baru dengan bekal keimanan.

Ustadz Yandi membuka kajian dengan pertanyaan mendasar: “Bagaimana kita hidup sesuai dengan nilai-nilai Islam?” Beliau menjelaskan bahwa cita-cita Muhammadiyah untuk mewujudkan Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya berakar pada karakteristik umat Islam yang digambarkan dalam Al-Qur’an. “Setidaknya ada enam karakter utama yang menjadi identitas kolektif kita,” jelasnya.

Enam Karakteristik Umat Islam dalam Al-Qur’an
- Ummatan Muslimah (Umat yang Berserah Diri)
Karakter pertama adalah kepasrahan total hanya kepada Allah SWT. Ustadz Yandi mengutip doa Nabi Ibrahim dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 128: رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu.”
Beliau juga merujuk Q.S. Al-Baqarah ayat 208:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.” - Ummatan Wasathan (Umat Pertengahan yang Moderat)
Islam mengajarkan moderasi (tawassuth), yaitu berada di tengah, tidak ekstrem ke kiri atau kanan. Dalam akidah dan ibadah, prinsipnya jelas dan teguh, namun dalam muamalah (interaksi sosial) bersifat lentur dan kontekstual. وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
“Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Q.S. Al-Baqarah: 143) - Ummatan Wahidah (Umat yang Bersatu)
Umat Islam dipersatukan oleh akidah tauhid yang sama, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda. كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ
“Manusia itu dahulunya adalah umat yang satu. Kemudian Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.” (Q.S. Al-Baqarah: 213)
Persatuan ini bertujuan untuk kembali kepada kebenaran yang satu. - Khoiro Ummah (Umat Terbaik)
Status sebagai umat terbaik bukanlah klaim kosong, melainkan konsekuensi dari fungsi amar makruf nahi munkar dan keimanan kepada Allah. كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S. Ali Imran: 110) - Ummatan Qoimah (Umat yang Tegak dan Lurus)
Ciri khas umat ini adalah komitmennya untuk selalu membaca ayat-ayat Allah dan bersegera dalam kebaikan. وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ . يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ
“Dan di antara Ahli Kitab ada golongan yang berlaku adil, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari dan mereka bersujud (salat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka bersegera mengerjakan berbagai kebajikan.” (Q.S. Ali Imran: 113-114) - Ummatan Muqtashidah (Umat yang Seimbang)
Karakter terakhir adalah keseimbangan. Dalam beragama, mereka tidak berlebihan dan tidak pula meremehkan, tetapi berada di jalan yang lurus dan proporsional. Hal ini merujuk pada Q.S. Al-Ma’idah ayat 66,
وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِم مِّن رَّبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِن فَوْقِهِمْ وَمِن تَحْتِ أَرْجُلِهِم ۚ مِّنْهُمْ أُمَّةٌ مُّقْتَصِدَةٌ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan, tetapi banyak di antara mereka yang sangat buruk perbuatannya.”

Ustadz Yandi menutup kajian dengan menegaskan bahwa keenam karakter ini bukanlah teori semata, melainkan peta jalan untuk mengisi hidup dengan makna Islami. Memasuki tahun 2026, beliau mengajak jamaah untuk menjadikan karakter-karakter ini sebagai resolusi imani, baik secara pribadi maupun kolektif sebagai warga Muhammadiyah, sehingga dapat benar-benar berkontribusi dalam mewujudkan peradaban yang unggul dan penuh rahmat.


Tulis Komentar pada kolom di bawah ini