Kajian Reboan Masjid Santun: Ustadz Sunarya Urai Persiapan Ramadhan dengan Memperbaiki Kualitas Shalat

CIREBON, 11 Februari 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada Kajian Reboan malam ini. Mengusung tema “Persiapan Ramadhan: Memperbaiki Shalat”, Ustadz Sunarya, S.Pd.I., MM. menyampaikan kajian mendalam yang mengupas tuntas dua tipologi shalat: shalatnya orang munafik dan shalat yang diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kajian yang berlangsung dari ba’da Maghrib hingga Isya ini dihadiri oleh jamaah yang antusias mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan.


Tipologi Pertama: Shalatnya Orang Munafik

Mengawali kajian, Ustadz Sunarya menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an telah memberikan peringatan tegas mengenai ciri-ciri shalat yang dilakukan oleh orang-orang munafik. Beliau mengutip firman Allah dalam QS. An-Nisa’ ayat 142:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Pemateri menjelaskan tiga ciri utama shalatnya orang munafik berdasarkan ayat ini dan dikuatkan oleh hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam :

1. Shalat dengan Malas dan Tidak Sungguh-Sungguh

“Mereka melaksanakan shalat sekadar menggugurkan kewajiban, tanpa kehadiran hati dan tanpa kekhusyukan. Shalat dilakukan dengan tergesa-gesa, seperti burung mematuk makanan,” jelas Ustadz Sunarya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam :

تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَ أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

“Itulah shalat orang munafik. Ia duduk mengintai matahari hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk setan, ia berdiri dan mematuk empat kali (shalat dengan cepat), tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (HR. Muslim)

2. Riya’ atau Ingin Dilihat Orang

Ciri kedua, tegas beliau, adalah riya’ yaitu shalat karena ingin dipuji atau dilihat manusia, bukan karena Allah. Ayat QS. Al-Ma’un ayat 6 dengan tegas menyebutkan:

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang berbuat riya’.”

3. Jarang Berdzikir dan Mengingat Allah

“Lisan mereka basah dengan bacaan shalat, namun hati mereka lalai. Mereka hanya menyebut Allah sedikit sekali, baik dalam shalat maupun di luar shalat,” tambahnya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nisa’: 142 bahwa mereka “tidak menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”

Ustadz Sunarya mengingatkan bahwa ciri-ciri ini bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan untuk introspeksi diri. “Barangkali kita masih sering malas dan berat. Mulai sekaranglah saatnya kita bertaubat. Mudah-mudahan Allah memudahkan dan meringankan langkah kita untuk shalat,” pesannya .


Tipologi Kedua: Shalat yang Diterima Allah

Memasuki inti kajian, pemateri menjelaskan kriteria shalat yang diterima di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau merujuk pada sebuah hadits qudsi yang panjang dan sarat makna. Hadits qudsi adalah firman Allah yang disampaikan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dengan lafal dari beliau, yang maknanya dari Allah Ta’ala .

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّمَا أَتَقَبَّلُ الصَّلَاةَ مِمَّنْ تَوَاضَعَ بِهَا لِعَظَمَتِي، وَلَمْ يَسْتَكْبِرْ عَلَى عِبَادِي، وَأَطْعَمَ الْجَائِعَ، وَكَسَا الْعَارِيَ، وَرَحِمَ الْمُصَابَ، وَآوَى الْغَرِيبَ، وَتَرَكَ الشَّهْوَةَ مِنْ أَجْلِي، وَأَظْلَمَ عَلَيْهِ اللَّيْلُ فَقَامَ يَنْشُدُنِي، فَوَعِزَّتِي وَجَلَالِي إِنِّي لَأُجِيلُ نُورَهُ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ، وَأَجْعَلُهُ يَتَقَلَّبُ فِي نُورٍ، وَأَحْفَظُهُ فِي الْأَرْضِ كَمَا أَحْفَظُهُ فِي السَّمَاءِ، وَأَكَالَؤُهُ مِنَ الْمَلَائِكَةِ كَمَا يَكَالَؤُونَ أَهْلَ السَّمَاءِ، وَإِنَّ مَثَلَهُ عِنْدِي كَمَثَلِ الْفِرْدَوْسِ لَا يَغْبَى ثَمَرُهَا وَلَا يَتَغَيَّرُ حَالُهَا

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat orang-orang yang merendahkan dirinya karena kebesaran-Ku, tidak sombong terhadap hamba-hamba-Ku, memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang, menyayangi orang yang terkena musibah, memberikan perlindungan kepada orang yang terasing, meninggalkan syahwat karena Aku, dan malam yang gelap tidak menghalanginya untuk berdiri memohon kepada-Ku. Maka demi keagungan dan kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan menerangi cahayanya di tengah kegelapan malam, Aku jadikan ia bergelimang dalam cahaya, Aku menjaganya di bumi sebagaimana Aku menjaganya di langit, Aku tugaskan malaikat menjaganya sebagaimana mereka menjaga penghuni langit. Sungguh perumpamaannya di sisi-Ku seperti surga Firdaus yang buahnya tidak pernah habis dan keadaannya tidak pernah berubah.” (HR. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’)

Dari hadits qudsi yang agung ini, Ustadz Sunarya merinci enam kriteria shalat yang diterima Allah sebagai berikut:

1. Merendahkan Diri di Hadapan Allah (At-Tawadhu’)

“Kriteria pertama adalah tawadhu’, merendahkan diri karena kebesaran Allah. Shalat yang diterima adalah shalat yang lahir dari hati yang hancur, sadar betul sedang berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin,” ujarnya.

Beliau menceritakan keteladanan Imam Ali Zainal Abidin RA. Suatu hari beliau berwudhu dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar. Ketika ditanya, beliau menjawab: “Engkau tidak mengetahui di hadapan siapa sebentar lagi aku akan berdiri.”

2. Menahan Hawa Nafsu Karena Allah

“Shalat yang diterima akan melahirkan kemampuan mengendalikan syahwat. Bukan shalat yang justru dibarengi dengan maksiat,” tegas Ustadz Sunarya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari kiamat, di antaranya:

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ

“Seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’.” (HR. Bukhari & Muslim)

3. Banyak Berdzikir dan Mengingat Allah

Kriteria ketiga adalah memperbanyak dzikir, karena shalat pada hakikatnya adalah dzikir yang agung. Allah berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha: 14)

Ustadz Sunarya mengingatkan bahwa Allah tidak menilai siapa yang paling banyak amalnya (aksaru amalan), tetapi siapa yang paling baik amalnya (ahsan u amalan) .

4. Munculnya Sifat Sosial dan Tidak Sombong

“Shalat yang baik akan melahirkan akhlak mulia. Salah satu indikasinya adalah tidak sombong terhadap sesama makhluk Allah. Ia justru menjadi pribadi yang rendah hati dan ringan membantu,” paparnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

“Pedagang yang jujur dan terpercaya (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. Tirmidzi)

5. Memiliki Rasa Takut kepada Allah (Al-Khasyyah)

Rasa takut yang dimaksud bukan ketakutan yang membuat putus asa, melainkan khasyyah, yaitu perasaan takut yang lahir dari pengagungan dan kecintaan kepada Allah.

“Orang yang shalatnya diterima akan selalu merasa diawasi oleh Allah. Ia akan menjaga dirinya dari kemaksiatan, bukan hanya saat shalat, tetapi juga di luar shalat,” jelasnya.

6. Menyayangi Orang yang Terkena Musibah

Kriteria keenam adalah rahmat atau kasih sayang kepada sesama, khususnya kepada mereka yang sedang ditimpa musibah. Beliau mengutip hadits:

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

“Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ustadz Sunarya menegaskan bahwa shalat yang khusyuk seharusnya melahirkan solidaritas sosial yang tinggi. “Jika shalat tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, serta tidak menumbuhkan kepedulian kepada fakir miskin dan anak yatim, maka shalat itu patut dipertanyakan kualitasnya,” tegasnya .


Persiapan Ramadhan: Membangun Shalat Berkualitas

Menutup kajian, Ustadz Sunarya Rusman mengajak jamaah untuk menjadikan momentum bulan Sya’ban ini sebagai sarana latihan memperbaiki shalat sebelum memasuki Ramadhan. Beliau mengingatkan bahwa shalat adalah amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba di hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, maka ia beruntung dan sukses. Apabila shalatnya rusak, maka ia merugi dan kecewa.” (HR. Tirmidzi, hasan)

“Ramadhan adalah syahrut tarbiyah, bulan pendidikan. Mari kita persiapkan diri dengan memperbaiki shalat kita. Dari shalat yang berkualitas, akan lahir pribadi-pribadi yang bertakwa, jujur, dermawan, penyayang, dan istiqamah dalam kebaikan,” pungkasnya.

Kajian ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diterima segala amal ibadah dan dipertemukan dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal ‘afiat.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan ke Yandi Heryandi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 tanggapan untuk “Kajian Reboan Masjid Santun: Ustadz Sunarya Urai Persiapan Ramadhan dengan Memperbaiki Kualitas Shalat”

  1. Avatar Uung Qurochtul'ain
    Uung Qurochtul’ain

    Semoga kita terhindar dari sifat MUNAFIK, aamiin

  2. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Shalat khusyuk, baik secara kualitas maupun kualitas adalah ciri orang beriman

  3. Avatar Arofah Firdaus
    Arofah Firdaus

    Ramadhan, mendorong kita untuk tidak sekadar mengejar kuantitas, tetapi kualitas dan dampak shalat dalam kehidupan nyata.

  4. Avatar Hadi utama
    Hadi utama

    Kajian reboan terakhir bulan sya’ban
    Sampai bertemu lagi di bulan syawal 1447 H

  5. Avatar puji nirmo
    puji nirmo

    Semoga bs menambah semangat jama’ah utk mempersiapkan diri sebaik-baiknya dlm meningkatkan ibadah sholat menghadapi bln Ramadhan 1447 H.

  6. Avatar Erli
    Erli

    Alhamdulillah. Terimakasih ustadz kajian mendalam untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah.