CIREBON, 20 Februari 2026 – Masjid Nurul Amal Perumnas menjadi pusat pencerahan spiritual pada pelaksanaan Salat Jumat, 20 Februari 2026. Bertindak sebagai Imam sekaligus Khatib, Ustadz Ahmad Nurjanah, S.E., S.Pd., M.Si. , menyampaikan khutbah yang mendalam dengan tema “Ramadhan Menuju Takwa” .
Jamaah yang memadati masjid tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang bagaimana bulan Ramadhan menjadi sarana untuk mencapai derajat takwa melalui penerapan konsep ihsan dalam kehidupan sehari-hari.
Mukadimah: Seruan Takwa
Khatib mengawali khutbah dengan memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bershalawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, kemudian mengutip firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Ustadz Ahmad Nurjanah mengajak jamaah untuk senantiasa meningkatkan mutu iman dan takwa secara istiqamah hingga maut menjemput. “Solawat dan salam marilah kita haturkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, semoga pada hari kiamat nanti kita semua mendapatkan syafaat dari beliau. Aamiin Allahumma Aamiin,” ujarnya.
Puasa Ramadhan: Perintah yang Harus Dilandasi Keimanan
Memasuki inti khutbah, Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa puasa Ramadhan adalah salah satu perintah Allah dalam rukun Islam yang wajib kita lakukan dengan penuh keimanan, sehingga ketika Ramadhan pergi meninggalkan kita, Allah karuniakan kepada kita yang namanya takwa.
“Puasa Ramadhan wajib memenuhi syarat sah, rukun, dan ketentuan-ketentuan di dalamnya yang telah ditetapkan oleh Islam. Kemudian kita semua mengamalkannya dengan meyakini apa-apa yang telah ditetapkan dalam rukun iman, sehingga puasa yang seperti ini insya Allah akan melahirkan ihsan yang sebenar-benarnya,” paparnya.
Konsep Ihsan: Menyembah Allah Seakan Melihat-Nya
Khatib kemudian mengutip hadits terkenal tentang definisi ihsan yang merupakan puncak dari keimanan:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
“Inilah ihsan yang sudah seharusnya kita terapkan dalam semua ibadah, mu’amalah, dan dalam aktivitas kita sehari-hari,” tegas Ustadz Ahmad.
Beliau menjelaskan bahwa Islam menetapkan rukun-rukun puasa Ramadhan yang terdapat dalam Al-Qur’an, yang mana kita semua wajib beriman kepada Al-Qur’an. Ketetapan selanjutnya, baik rukun, tata cara, atau ketentuannya terdapat dalam berbagai hadits yang mana kita semua wajib beriman kepada Rasulullah SAW. “Apa yang diberikan Rasul terimalah dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah,” tambahnya mengutip QS. Al-Hasyr: 7.
Menerapkan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-hari
Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa untuk dapat menerapkan ihsan yang sebenar-benarnya, kita perlu menambah keyakinan terhadap sifat-sifat Allah dan menerapkannya dalam ibadah puasa dan ibadah lainnya, serta dalam setiap aktivitas kita sehari-hari.
“Pada bulan suci Ramadhan ini, insya Allah kita sudah mampu menerapkan ihsan lebih dari 50 persen,” ujarnya.
Contoh Penerapan Ihsan dalam Puasa
Pertama, keyakinan bahwa Allah Maha Melihat.
“Ketika kita sedang berpuasa, kita yakin bahwa Allah selalu melihat kita. Buktinya, kita tidak berani makan dan minum di dalam kamar yang tidak seorang pun melihat kita. Kita yakin Allah melihat, kalau kita makan dan minum berarti puasa kita batal. Mana mungkin kita menganggap diri kita masih puasa padahal sudah kenyang dan hilang dahaga,” jelas Ustadz Ahmad.
Dengan keyakinan ini, jika terbesit ingin melakukan kejahatan, niscaya kita tidak berani karena yakin Allah melihat kita, Allah mengetahui kita. Apapun yang ada di pikiran kita, apapun niat yang ada di hati kita, Allah pasti mengetahuinya. Sehingga kita selamat dari berbagai dosa.
Kedua, keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Teliti.
“Seorang yang berpuasa tidak berani berkata-kata keji, berkata-kata kotor, tidak berani mencela, memfitnah, mencaci, menghina, menggibah, membuka aib saudaranya, tidak berani juga berbohong atau berdusta, karena kita yakin bahwa Allah Maha Mendengar. Apapun yang keluar dari lisan kita, maka yang pertama kali mendengarnya adalah Allah,” paparnya.
Dalil tentang Pengawasan Allah
Untuk memperkuat penjelasannya, Ustadz Ahmad mengutip firman Allah dalam QS. Qaf ayat 16-18:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ . إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ . مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 16-18)
“Disini kita ditekankan agar menambahkan keyakinan kita kepada Kitab Allah dan yakin kepada Malaikat. Sudah empat rukun iman yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu beriman kepada Allah, kepada para Malaikat, kepada kitab-kitab Allah, kepada rasul-rasul Allah,” jelasnya.
Beriman kepada Hari Akhir dan Qadha Qadar
Selanjutnya, khatib menjelaskan bahwa kita juga diwajibkan beriman kepada hari akhir atau hari kiamat, adanya hari pembalasan yang berupa surga dan neraka. Ini juga sudah bisa kita terapkan dalam kehidupan. “Buktinya kita merasa takut berdosa jika tidak berpuasa padahal dalam keadaan tidak ada suatu halangan apapun yang membolehkan tidak berpuasa. Kita juga takut berbuat keji dan mungkar, takut berbuat fasik dan musyrik. Ini salah satu bukti bahwa kita beriman kepada hari kiamat,” ujarnya.
Yang terakhir adalah beriman kepada qadha dan qadar. “Apa bisa seseorang menganggap apa-apa yang datangnya dari Allah entah berupa nikmat atau musibah adalah baik baginya dan dia ridha dengan ketetapan Allah tersebut? Dan dia yakin bahwa segala sesuatu yang baik datangnya dari Allah dan segala sesuatu yang buruk adalah dari dosa dan kesalahannya sendiri,” papar Ustadz Ahmad.
Beliau mengutip firman Allah:
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 79)
“Apabila seorang yakin dengan ketetapan dan ketentuan Allah, dia yakin bahwa dia hanya menerima apa-apa yang telah ditentukan Allah untuknya dan tidak akan menerima sesuatu yang bukan ditetapkan untuknya, niscaya dia akan selalu bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika mendapat cobaan,” jelasnya.
Penutup: Ramadhan Berbuah Takwa
Menutup khutbah pertama, Ustadz Ahmad Nurjanah menyampaikan harapannya:
“Dengan demikian, seandainya apa-apa yang telah kita dengarkan bersama bisa difahami dan bisa kita amalkan, insya Allah Ramadhan tahun ini akan berbuah takwa. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.”
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Aku katakan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untukku dan untuk kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Khutbah Kedua
Memasuki khutbah kedua, khatib kembali memuji Allah, bershalawat kepada Nabi, dan mengajak jamaah untuk senantiasa bertakwa. Beliau membaca ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Khatib kemudian memanjatkan doa untuk kaum muslimin dan muslimat, memohon ampunan, rahmat, dan kebaikan dunia akhirat.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Salat Jumat ditutup dengan doa dan pelaksanaan ibadah dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan terharu setelah mendapatkan pencerahan tentang bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai ihsan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah.


Tinggalkan Balasan