CIREBON, 16 Januari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menjadi pusat kekhidmatan dan pencerahan pada Salat Jumat kali ini. Dr. Alvin Septian Haerisma, SEI, MSi., yang bertindak sebagai Imam dan Khatib, menyampaikan khutbah yang mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat Allah dan menggali hikmah mendalam dari peristiwa Isra’ Mi’raj di bulan Rajab, khususnya dalam perspektif ekonomi syariah.

Bersyukur dan Beramal di Bulan yang Dimuliakan
Khatib membuka khutbah dengan mengajak jamaah senantiasa bersyukur atas segala nikmat Allah yang tak terhingga. Beliau menegaskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Adil, yang tidak akan menyia-nyiakan sekecil apa pun amal kebajikan hamba-Nya. Hal ini beliau kuatkan dengan firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya (seseorang) sedikit pun, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’: 40).
Dr. Alvin menjelaskan bahwa bulan Rajab, sebagai salah satu bulan haram (yang dimuliakan), adalah momentum khusus untuk memperbanyak amal shaleh. Berdasarkan pandangan Majelis Tarjih Muhammadiyah, kemuliaan bulan ini hendaknya diisi dengan meningkatkan ketakwaan dan amalan kebajikan, bukan dengan ritual-ritual khusus yang tidak memiliki dasar yang kuat.

Isra’ Mi’raj: Inspirasi Keseimbangan Dunia-Akhirat
Memasuki inti khutbah, beliau memaknai peristiwa agung Isra’ Mi’raj sebagai sumber inspirasi yang holistik. Isra’, sebagai perjalanan horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, melambangkan kepedulian terhadap persoalan sosial-kemanusiaan di muka bumi. Sementara Mi’raj, sebagai perjalanan vertikal ke Sidratul Muntaha, melambangkan hubungan transendental yang harus terus dijaga.

Dari sintesis dua dimensi perjalanan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam inilah, Dr. Alvin merumuskan lima pilar ekonomi syariah sebagai aktualisasi spirit Isra’ Mi’raj di bulan Rajab:
- Keseimbangan Duniawi dan Ukhrawi: Ekonomi syariah mengajak manusia untuk mencari rezeki yang halal demi kebahagiaan dunia, namun dengan orientasi akhirat yang kuat, sebagaimana perjalanan Nabi yang sempurna mencakup bumi dan langit.
- Menghidupkan Ekonomi dengan Prinsip Halal dan Jujur: Aktivitas ekonomi harus didasari kejujuran, jauh dari tipu daya dan praktik ribawi yang merusak. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278). - Etika Bisnis yang Kokoh: Kejujuran (ash-shidqu) harus menjadi fondasi setiap transaksi. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
“Pedagang yang jujur dan terpercaya (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. Tirmidzi, hasan). - Kedisiplinan dan Manajemen Waktu: Isra’ Mi’raj yang terjadi dalam sebagian malam mengajarkan efisiensi dan ketepatan waktu yang luar biasa. Ini menjadi teladan dalam mengelola waktu untuk produktivitas ekonomi yang optimal.
- Solidaritas Sosial dan Keadilan Ekonomi: Perintah salat lima waktu yang diperoleh dari Mi’raj, memiliki dimensi sosial yang kuat. Salat harus mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-‘Ankabut: 45), termasuk keserakahan dan ketidakadilan ekonomi. Oleh karena itu, ekonomi syariah harus diiringi dengan komitmen berzakat, infak, sedekah, dan membantu sesama untuk mewujudkan keadilan.
Khutbah ditutup dengan pesan agar momentum spiritual bulan Rajab dan Isra’ Mi’raj tidak berhenti pada ritual semata, tetapi menjadi pendorong untuk memperbaiki seluruh aspek kehidupan, termasuk ekonomi, dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip syariah yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan demikian, kehidupan seorang muslim dapat seimbang, berkah, dan membawa manfaat nyata bagi diri sendiri dan masyarakat luas.


Tulis Balasan ke Arofah Firdaus Batalkan balasan