Khutbah Jumat di Masjid Santun: Ustadz Dr. Arief Hidayat Afendi Paparkan Hakikat Takwa dan Sikap Tasamuh di Bulan Ramadhan

CIREBON, 20 Februari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menjadi pusat pencerahan spiritual pada pelaksanaan Salat Jumat, 20 Februari 2026. Bertindak sebagai Imam sekaligus Khatib, Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi, SHI., M.Ag. , menyampaikan khutbah yang mendalam tentang “Hakikat Takwa dan Sikap Tasamuh di Bulan Ramadhan” .

Jamaah yang memadati masjid tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang indikator ketakwaan serta pentingnya sikap saling menghormati dalam perbedaan metode penentuan awal Ramadhan.


Ramadhan ke Ramadhan: Pengampunan Dosa

Mengawali khutbah, Dr. Arief Hidayat Afendi mengingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah momen istimewa di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk mendapatkan ampunan. Beliau mengutip hadis Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dan dari Ramadhan ke Ramadhan, menghapuskan dosa-dosa di antara masa tersebut, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

“Ini adalah kabar gembira bagi kita semua. Ramadhan yang kita jalani saat ini menjadi sarana pengampunan dosa-dosa kita setahun ke belakang, asalkan kita menjauhi dosa-dosa besar. Maka manfaatkanlah momentum ini sebaik-baiknya,” papar Dr. Arief.


Metode Penentuan Awal Ramadhan dan Sikap Tasamuh

Memasuki pembahasan tentang metode penentuan awal Ramadhan, Dr. Arief menjelaskan bahwa Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai acuan dalam menetapkan awal bulan, termasuk Ramadhan.

“Kita menggunakan kriteria global tunggal dalam menentukan awal bulan. Ini adalah metode hisab yang kita yakini kebenarannya secara ilmiah dan syar’i. Sementara itu, ada juga metode rukyat yang digunakan oleh sebagian umat Islam. Yang terpenting, setelah kita menggunakan metode yang kita yakini, kita harus memiliki sikap tasamuh (toleransi) dengan sesama umat Islam,” jelasnya.

Beliau mengingatkan sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tentang pahala ijtihad:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ

“Apabila seorang hakim memutuskan perkara dengan ijtihad, lalu ijtihadnya benar, maka ia mendapat dua pahala. Dan apabila ia memutuskan dengan ijtihad, lalu ijtihadnya salah, maka ia mendapat satu pahala.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Para ulama kita telah berijtihad dengan sungguh-sungguh dalam menentukan awal Ramadhan. Apabila ijtihad mereka tepat, mereka mendapatkan dua pahala. Apabila kurang tepat, mereka tetap mendapatkan satu pahala. Maka tidak perlu ada saling menyalahkan. Yang diperlukan adalah sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan,” tegas Dr. Arief.


Hakikat Takwa: Indikator dan Implementasi

Memasuki inti khutbah, Dr. Arief membahas tentang hakikat takwa yang menjadi tujuan utama ibadah puasa. Beliau mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Lalu apa makna “haqqa tuqatih” (sebenar-benar takwa)? Dr. Arief mengutip penjelasan dari Abdullah bin Mas’ud RA yang merumuskan tiga indikator utama orang yang bertakwa:

1. Tidak Bermaksiat kepada Allah

Indikator pertama adalah meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, baik yang lahir maupun yang batin. Orang yang bertakwa senantiasa menjaga diri dari perbuatan yang dilarang Allah, di mana pun dan kapan pun, baik saat sendiri maupun di hadapan orang banyak.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128)

2. Senantiasa Mengingat Allah

Indikator kedua adalah selalu mengingat Allah dalam setiap kondisi. Zikir bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati dan perbuatan. Orang yang bertakwa hatinya selalu terpaut dengan Allah, sehingga ia merasa diawasi oleh-Nya dalam setiap langkah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

3. Senantiasa Bersyukur

Indikator ketiga adalah selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan. Syukur bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan dengan ketaatan. Salah satu rukun syukur adalah menggunakan nikmat yang Allah berikan untuk taat kepada-Nya.

“Orang yang bertakwa adalah orang yang pandai bersyukur. Ia menyadari bahwa setiap nikmat berasal dari Allah, dan ia gunakan nikmat itu untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan untuk bermaksiat,” jelas Dr. Arief.


Takwa Sesuai Kemampuan: “Mastato’tum”

Dr. Arief kemudian mengingatkan bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam ayat lain:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16)

“Ini adalah rahmat Allah yang begitu besar. Allah memerintahkan kita untuk bertakwa, tetapi sesuai dengan kemampuan kita. Tidak ada beban yang Allah berikan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Maka, jangan pernah merasa putus asa untuk meningkatkan ketakwaan. Lakukanlah semampumu, dan Allah akan melihat kesungguhanmu,” pesan Dr. Arief.


Ramadhan: Bulan Latihan Mencapai Takwa

Menghubungkan dengan bulan Ramadhan, Dr. Arief menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah mencapai derajat takwa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

“Ramadhan adalah madrasah takwa. Selama sebulan penuh kita dilatih untuk menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, dilatih untuk sabar, dilatih untuk peduli kepada sesama, dan dilatih untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semua ini bertujuan agar setelah Ramadhan, kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa,” paparnya.


Penutup: Meraih Takwa dengan Istiqamah

Menutup khutbah, Dr. Arief mengajak jamaah untuk terus istiqamah dalam meraih ketakwaan, terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

“Marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini. Perbanyaklah ibadah, jauhi maksiat, perbanyak zikir, dan syukuri setiap nikmat yang Allah berikan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bertakwa dan mendapatkan ampunan Allah di bulan yang mulia ini. Aamiin ya Rabbal ‘alamin,” pungkasnya.

Salat Jumat berlangsung dengan khusyuk dan penuh khidmat. Jamaah yang hadir tampak merenung dan terharu setelah mendapatkan pencerahan tentang hakikat takwa dan pentingnya sikap tasamuh dalam keberagaman.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan ke Sunarya Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu tanggapan untuk “Khutbah Jumat di Masjid Santun: Ustadz Dr. Arief Hidayat Afendi Paparkan Hakikat Takwa dan Sikap Tasamuh di Bulan Ramadhan”

  1. Avatar Sunarya
    Sunarya

    Smg taqwa senantiasa mbghiasi hidup kita