Memaknai Hakikat Salat: Khutbah Jumat Ustadz Achmad Nurjanah Ajak Jamaah Wujudkan Ketakwaan dalam Kepedulian Sosial

CIREBON, (16 Januari 2026) – Masjid Al Qiyam Pancuran kembali menggelar Salat Jumat yang dihadiri oleh jamaah dengan khidmat. Pada kesempatan ini, khutbah disampaikan oleh Ustadz Achmad Nurjanah, SE., S.Pd., M.Si., yang mengangkat tema mendalam tentang esensi salat dan relevansinya dengan kehidupan sosial, bertepatan dengan penghujung bulan Rajab.

Dalam pembukaannya, Ustadz Achmad mengucap syukur, “Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala kembali mempertemukan kita di akhir bulan Rajab, salah satu bulan haram yang dimuliakan.” Beliau mengingatkan jamaah bahwa Rajab adalah bulan yang mengisyaratkan peristiwa agung Isra’ Mi’raj, di mana kewajiban salat lima waktu ditetapkan sebagai tiang agama dan amalan pertama yang dihisab kelak.

“Namun, perlu kita sadari bahwa salat tidak cukup hanya dikerjakan secara ritual saja,” tegasnya. “Salat harus berdampak pada peningkatan ketakwaan dan kepedulian sosial.”

Untuk memperkuat argumennya, Ustadz Achmad mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surat Al-‘Ankabut ayat 45:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

“Dari ayat ini,” lanjut beliau, “kita pahami bahwa salat yang hakiki memiliki dua dimensi sekaligus: ḥablun minallāh (hubungan dengan Allah) dan ḥablun minannās (hubungan dengan sesama manusia). Salat yang benar seharusnya menjadi benteng yang mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.”

Ustadz Achmad mengingatkan bahwa jika shalat hanya menjadi rutinitas tanpa mengubah perilaku sosial, maka esensinya telah hilang. “Salat yang hidup akan melahirkan kepekaan nurani, empati, dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain,” ujarnya.

Beliau kemudian mengaitkannya dengan kondisi nyata, terutama melihat banyaknya saudara yang terdampak musibah. “Jika hati kita tidak tergerak membantu, bisa jadi ada yang salah dalam salat kita. Bisa jadi kita termasuk golongan yang diperingatkan Allah,” serunya, sembari mengutip Surat Al-Ma’un ayat 4-7:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ

“Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberi) bantuan.” (QS. Al-Ma’un: 4-7)

Sebagai penegasan tentang pentingnya manfaat bagi sesama, Ustadz Achmad menyampaikan sabda Rasulullah SAW:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Dalam penutup khutbahnya, beliau menekankan bahwa Rajab, salat, dan kepedulian sosial adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. “Rajab mengingatkan sejarah spiritual, salat membentuk kepribadian, dan kepedulian sosial adalah bukti nyata keimanan,” pungkasnya.

Ustadz Achmad mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan momentum Rajab sebagai titik awal memperbaiki kualitas salat sekaligus meneguhkan komitmen menjadi pribadi yang peduli, bermanfaat, dan membawa rahmat bagi alam semesta.

Khutbah yang penuh hikmah ini diharapkan dapat menginspirasi jamaah untuk tidak hanya mengejar kesempurnaan ritual ibadah, tetapi juga menebar kebaikan nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Komentar (Tanggapan)

Tulis Komentar pada kolom di bawah ini

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Ruas (kotak) yang wajib diisi ditandai *

Ada 2 tanggapan untuk “Memaknai Hakikat Salat: Khutbah Jumat Ustadz Achmad Nurjanah Ajak Jamaah Wujudkan Ketakwaan dalam Kepedulian Sosial”

  1. Avatar Arofah Firdaus
    Arofah Firdaus

    Penguatan dengan dalil Al-Qur’an dan Hadits membuat ajakan untuk memperbaiki diri serta meningkatkan kepedulian sosial terasa sangat mendasar dan mendesak, terutama di tengah berbagai tantangan sosial saat ini.

  2. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Momentum isra mi’raj nabi Muhammad Saw untuk melakukan muhasabah shalat kita sebagai tiang agama dalam dua dimensi hablun min Allah dan hablun min an-Nas