Membawa Nuansa Ramadan ke 11 Bulan ke Depan: Ustadz Sunarya, S.PdI., M.M. Paparkan Lima Interaksi Kunci dalam Pengajian Reboan di Masjid Santun

CIREBON, 8 April 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada Rabu (8/4/2026) dalam rangkaian pengajian rutin Reboan. Jamaah yang hadir tampak antusias menyimak tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Sunarya, S.PdI.,  M.M. Dalam ceramahnya, Ustadz Sunarya mengangkat tema penting tentang bagaimana membawa nuansa Ramadan yang baru saja berlalu ke dalam sebelas bulan mendatang.

“Ramadan telah mengajarkan kita disiplin, empati, dan kedekatan kepada Allah. Pertanyaannya, mampukah kita mempertahankan kualitas itu setelah bulan suci usai?” ujar Ustadz Sunarya membuka majelis.

Beliau menjelaskan bahwa kunci utama adalah menjadi orang yang pandai bersyukur, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 144.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Wa idz ta’adzdzana rabbukum la’in syakartum la’azidannakum wa la’in kafartum inna ‘adzabi lasyadid.
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Al-A’raf: 144)

Untuk mewujudkan rasa syukur yang berkelanjutan, Ustadz Sunarya memaparkan lima interaksi utama yang harus dibangun seorang Muslim pasca-Ramadan.

1. Interaksi Dzikir: Bukti Kecintaan kepada Allah

Ustadz Sunarya menegaskan bahwa dzikir bukan sekadar lisan, tetapi wujud nyata kecintaan kepada Allah. Contoh tertinggi dari dzikir adalah salat.

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
Utlu ma uhiya ilayka minal-kitabi wa aqimis-shalah, innas-shalata tanha ‘anil-fahsya’i wal-munkar.
Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Beliau mengingatkan bahwa salat lima waktu yang terjaga adalah bukti cinta sejati, bukan sekadar ritual.

2. Interaksi Amal: Ditingkatkan, Bukan Dikurangi

“Jangan biarkan amal kebaikan kita turun drastis setelah Ramadan,” pesan Ustadz Sunarya.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Alladzi khalaqal-mauta wal-hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala.
Artinya: “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Beliau menekankan bahwa Allah menilai kualitas dan konsistensi amal, bukan kuantitas musiman.

3. Interaksi Tawakal: Menyerahkan Diri Sepenuhnya kepada Allah

Tawakal adalah sikap berserah diri setelah berusaha maksimal. Ustadz Sunarya mengingatkan agar jangan pernah berharap kepada makhluk secara mutlak.

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Wa ‘alallahi fatawakkalū in kuntum mu’minīn.
Artinya: “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)

4. Interaksi Kebutuhan (Hajat): Manusia Adalah Fakir di Hadapan Allah

Ustadz Sunarya mengutip QS. Fatir ayat 15 yang menegaskan bahwa hakikat manusia adalah makhluk yang selalu butuh kepada Allah.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Yā ayyuhan-nāsu antumul-fuqarā’u ilallāh, wallāhu huwal-ghaniyyul-ḥamīd.
Artinya: “Wahai manusia! Kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

“Karena itu, mintalah hanya kepada Allah dalam setiap kebutuhan kita, jangan lupa berdoa dan berusaha,” tambahnya.

5. Interaksi Khauf (Takut) dan Roja’ (Harapan)

Di akhir tausiyah, Ustadz Sunarya menyampaikan keseimbangan antara takut akan siksa Allah dan berharap akan rahmat-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Beliau menutup dengan pesan bahwa rahmat Allah-lah yang menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Karena itu, jangan pernah putus asa dari rahmat-Nya, namun juga jangan merasa aman dari siksa-Nya tanpa amal saleh.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Innallāha yuḥibbut-tawwābīna wa yuḥibbul-mutaṭahhirīn.
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Penutup

Pengajian Reboan yang berlangsung dari ba’da Maghrib hingga menjelang Isya ini ditutup dengan doa. Jamaah tampak terinspirasi untuk menjadikan lima interaksi tersebut sebagai panduan hidup agar semangat Ramadan tetap membara sepanjang tahun.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 tanggapan untuk “Membawa Nuansa Ramadan ke 11 Bulan ke Depan: Ustadz Sunarya, S.PdI., M.M. Paparkan Lima Interaksi Kunci dalam Pengajian Reboan di Masjid Santun”

  1. Avatar puji nirmo
    puji nirmo

    Semoga bs menginspirasi seluruh warga Muhammadiyah kota Cirebon utk sll meningkatkan amal ibadahnya setelah melewati bln suci ramadhan 1447 H

  2. Avatar Fahyudin
    Fahyudin

    Menjadi pengingat bahwa ibadah bukan hanya ritual musiman, tapi wujud cinta kita kepada Allah sepanjang tahun.

  3. Avatar Arofah Firdaus
    Arofah Firdaus

    Masya Allah, tausiyah yang sangat berkesan. Lima interaksi yang disampaikan Ustadz Sunarya, MM benar-benar membuka mata kita bahwa Ramadan tidak berhenti di bulan lalu, tapi harus hidup setiap hari. Semoga jamaah Masjid Santun istiqamah. Barakallah.