CIREBON – Rabu, 19 November 2025. Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menggelar pengajian rutin Rabu malam, ba’da Maghrib sampai Isya. Kali ini, jamaah mendapatkan siraman rohani penuh makna dari Ustaz Dedi Ahyadi yang membawakan kajian bertema “Hikmah dari Kisah Nabi Yusuf: Kesabaran, Ilmu, dan Pembebasan”.
Pengajian yang dihadiri jamaah dari berbagai kalangan ini membahas secara mendalam rangkaian peristiwa penting dalam hidup Nabi Yusuf AS, yang diambil dari Surat Yusuf ayat 42–53.

Kisah Dua Teman di Penjara dan Tafsir Mimpi
Ustaz Dedi menjelaskan, Nabi Yusuf AS saat berada dalam penjara tetap menunjukkan akhlak mulia dan menjadi tempat bertanya bagi sesama tahanan. Dua orang sahabat sepenjara menceritakan mimpi mereka. Yusuf, dengan izin Allah, menakwilkan mimpi tersebut.
“Salah seorang dari mereka berkata: ‘Aku bermimpi memeras anggur.’ Dan yang lainnya berkata: ‘Aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku yang dimakan burung.’”
(QS. Yusuf: 36)

Nabi Yusuf menjelaskan bahwa satu di antara mereka akan bebas dan bekerja kembali melayani raja, sedangkan satu lagi akan dihukum mati. Setelah itu Yusuf berkata:
*وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍۢ مِّنْهُمَا ٱذْكُرْنِى عِندَ رَبِّكَ*
“Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka: ‘Sebutlah aku kepada tuanmu (raja).’”
(QS. Yusuf: 42)
Namun, sang pemuda yang selamat itu lupa hingga beberapa waktu lamanya.
Mimpi Raja dan Yusuf Diingat Kembali
Bertahun-tahun kemudian, raja Mesir bermimpi aneh yang membuat seluruh penasihat istana tak mampu menafsirkannya.

“Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, dan tujuh bulir gandum hijau serta tujuh bulir yang kering.”
(QS. Yusuf: 43)
Barulah saat itu, orang yang dulu satu penjara dengan Yusuf teringat dan menyampaikan kabar kepada raja.
“Aku akan memberitahukan kepadamu takwil mimpi itu, maka utuslah aku (kepada Yusuf).”
(QS. Yusuf: 45)
Yusuf pun memberikan tafsir yang sangat tepat, menjelaskan bahwa akan datang tujuh tahun masa subur, lalu tujuh tahun masa paceklik, dan satu tahun pemulihan setelah itu (QS. Yusuf: 46–49).
Kebenaran Yusuf Diungkap dan Dibebaskan
Setelah mendapat tafsir dari Yusuf, raja ingin membebaskannya. Namun Yusuf menolak dibebaskan tanpa kejelasan atas kasusnya terdahulu. Maka diadakan penyelidikan ulang, dan para wanita yang dulu memfitnah Yusuf mengakui kesalahan mereka:
*قَالَتِ ٱمْرَأَتُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْـَٔـٰنَ حَصْحَصَ ٱلْحَقُّ أَنَا۠ رَٰوَدتُّهُۥ عَن نَّفْسِهِۦ وَإِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ*
“Istri Al-Aziz berkata: Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah yang menggoda Yusuf, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.”
(QS. Yusuf: 51)
Dengan itu, Yusuf dibebaskan dengan nama baik dan diangkat sebagai pejabat tinggi di Mesir.

Pesan Moral dari Kajian
Dalam pengajian ini, Ustaz Dedi menekankan bahwa kisah Nabi Yusuf adalah gambaran nyata tentang:
– Keteguhan iman dalam menghadapi fitnah.
– Keutamaan ilmu yang bermanfaat.
– Kesabaran yang mengantarkan pada kemuliaan.
– Keengganan Yusuf untuk bebas tanpa nama baik—sebuah pelajaran tentang integritas.
“Jangan pernah menyerah dalam berbuat baik. Kisah Yusuf adalah bukti bahwa pertolongan Allah akan datang tepat waktu bagi orang yang ikhlas dan sabar,” ujar Ustaz Dedi menutup kajian.
Pengajian Rabu malam di Masjid Santun terus menjadi media pendidikan ruhani dan pemantapan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.


Tulis Komentar pada kolom di bawah ini