Pembinaan SDM UMC: Prof. Dr. H. Makhmud Syafei Tegaskan Karakter Faham Agama dalam Muhammadiyah

BANYUWANGI – Dalam rangka memperkuat pemahaman ideologi dan karakter keislaman bagi sivitas akademika, Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menggelar kegiatan pembinaan dosen, tenaga kependidikan, dan karyawan Rumah Sakit UMC pada Rabu, 19 November 2025 bertempat di Ketapang, Banyuwangi.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Prof. Dr. H. Makhmud Syafei, MA., M.Pd.I, Guru Besar Pemikiran Islam yang juga Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan materi penting bertajuk “Faham Agama dalam Muhammadiyah”, yang menjadi pijakan dasar pergerakan Persyarikatan Muhammadiyah dalam dakwah Islam.

Muhammadiyah: Gerakan Islam, Bukan Sekte

Prof. Makhmud menegaskan bahwa Muhammadiyah bukanlah sekte (firqah), melainkan organisasi Islam modern yang bergerak di bidang dakwah amar makruf nahi mungkar. “Muhammadiyah tidak eksklusif. Ia berkiprah dalam kehidupan umat, bangsa, dan dunia dengan landasan kuat: Al-Qur’an dan As-Sunnah al-Maqbûlah,” ujarnya.

Menurutnya, faham agama Muhammadiyah dirumuskan secara sistematis dan ilmiah, serta terbuka terhadap ijtihad. Hal ini membedakannya dari organisasi lain yang mungkin hanya menekankan pada aspek ritualistik.

Berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah: Tekstual dan Kontekstual

Prof. Makhmud menyampaikan bahwa dalam memahami syariat, Muhammadiyah menggunakan pendekatan tekstual dan kontekstual. Tidak semata-mata literal, tetapi juga mempertimbangkan maqashid syariah (tujuan-tujuan syariat) dan kondisi zaman.

Contoh praktis adalah pelaksanaan shalat berjamaah di institusi Muhammadiyah yang bukan sekadar ibadah, tapi juga pembentukan disiplin dan ukhuwah. Bahkan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan juga diajarkan kepada non-Muslim sebagai bentuk edukasi dan dialog keagamaan yang terbuka.

Muhammadiyah Bersikap Sistemik dan Terbuka

Beliau menekankan, Muhammadiyah memiliki watak sistemik dan bersikap terbuka terhadap ormas Islam lainnya. Dalam proses tarjih dan fatwa, Muhammadiyah mengundang tokoh dari Persis, NU, Al-Irsyad, dan lainnya. Hal ini menunjukkan semangat ukhuwah dan sinergi dalam pengembangan fikih Islam kontemporer.

Isu-isu keagamaan dijawab melalui produk resmi seperti Tanya Jawab Agama, Himpunan Putusan Tarjih (HPT), Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), serta Darul Ahdi Wa Syahadah.

Penutup: Tugas Kolektif Mewujudkan Islam Rahmatan Lil ‘alamin.

Di akhir sesi, Prof. Makhmud mengajak seluruh peserta untuk memahami posisi strategis Muhammadiyah dalam membumikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Bekerja di amal usaha Muhammadiyah, termasuk UMC dan rumah sakit, adalah bagian dari dakwah kolektif.

“UMC bukan hanya institusi pendidikan dan layanan kesehatan, tetapi juga lahan dakwah dan ibadah. Maka, bekerja di sini adalah amanah, rahmat, dan wujud kontribusi kita untuk umat dan bangsa,” tutupnya.

Kegiatan ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dan menjadi momentum strategis untuk menyatukan semangat kerja dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.


Komentar (Tanggapan)

Tulis Komentar pada kolom di bawah ini

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Ruas (kotak) yang wajib diisi ditandai *