Pengajian Ahad Pagi PCM dan PCA Kesambi Cirebon: Agama sebagai Nilai Sumber Kehidupan

Cirebon, 10 Mei 2026 – Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah (PCM/A) Kesambi Kota Cirebon kembali menggelar pengajian bulanan yang berlangsung khidmat di Balai Pengajian Muhammadiyah, Jalan Simaja, Kota Cirebon, pada Ahad (10/5/2026). Acara yang dimulai pukul 07.00 WIB hingga selesai ini dihadiri oleh puluhan warga persyarikatan, tokoh masyarakat, serta jamaah dari berbagai ranting di wilayah Kesambi.

Mengusung tema “Agama sebagai Nilai Sumber Kehidupan”, pengajian kali ini menghadirkan penceramah Ustadz Agus Wahid, S.Ag., yang dikenal dengan gaya dakwahnya yang menyejukkan dan berbasis pada dalil-dalil yang kuat.

Tema Berpijak pada Surat Al-Qashash Ayat 77

Dalam ceramahnya, Ustadz Agus Wahid menjelaskan bahwa agama bukan sekadar ritual, tetapi menjadi ruh dan sumber nilai bagi seluruh sendi kehidupan. Beliau berpijak pada firman Allah dalam surat Al-Qashash ayat 77:

Arab:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Latin:
Wabtaghi fīmā ātākallāhu ad-dāral-ākhirah, wa lā tansa naṣībaka min ad-dunyā, wa aḥsin kamā aḥsanallāhu ilaik, wa lā tabghi al-fasāda fī al-arḍ, innallāha lā yuḥibbu al-mufsidīn.

Artinya:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Qashash: 77)

Uraian Materi Pengajian Bulanan PCM Kesambi

A. Pendahuluan: Memahami Kedudukan Agama

Ustadz Agus Wahid memulai ceramahnya dengan menjelaskan bahwa sering kali manusia memisahkan antara agama dan kehidupan sehari-hari. Agama dianggap hanya urusan ibadah ritual (shalat, puasa, zakat), sementara urusan bisnis, politik, pendidikan, dan sosial dijalankan dengan logika duniawi semata. Padahal, agama—khususnya Islam—adalah minhajul hayah (jalan kehidupan).

Beliau mengutip firman Allah:

Arab:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Latin:
Inna hādzal Qur’āna yahdī lillatī hiya aqwam

Artinya:
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)

Agama bukan sekadar pelengkap, melainkan sumber nilai—yakni mata air yang darinya memancar segala ukuran baik-buruk, benar-salah, dan bermanfaat-tidaknya suatu tindakan.


B. Tafsir Surat Al-Qashash Ayat 77: Keseimbangan Hidup

Ustadz Agus kemudian membacakan dan mengupas ayat utama yang menjadi pijakan:

Arab:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Latin:

Wabtaghi fīmā ātākallāhu ad-dāral-ākhirah, wa lā tansa naṣībaka min ad-dunyā, wa aḥsin kamā aḥsanallāhu ilaik, wa lā tabghi al-fasāda fī al-arḍ, innallāha lā yuḥibbu al-mufsidīn.

Artinya:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Uraian per poin oleh Ustadz Agus:

1. “Wabtaghi fīmā ātākallāhu ad-dāral-ākhirah”

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat.”
Maksudnya: Gunakan semua nikmat yang Allah berikan—harta, ilmu, waktu, kesehatan, kekuasaan, bahkan teknologi—sebagai sarana untuk meraih akhirat. Bukan hanya dengan shalat malam, tetapi dengan menjadikan niat ikhlas dalam setiap aktivitas dunia. Contoh: bekerja untuk menafkahi keluarga dinilai ibadah, berdagang dengan jujur adalah sedekah.

2. “Wa lā tansa naṣībaka min ad-dunyā”

“Janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.”
Islam melarang keras rahbaniyah (monastisisme/mengasingkan diri dari dunia). Rasulullah bersabda:

Arab:
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Latin:
Inna li rabbika ‘alaika haqqan, wa li nafsika ‘alaika haqqan, wa li ahlika ‘alaika haqqan.

Artinya:
“Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari)

Maka makan yang halal, istirahat yang cukup, rekreasi yang mubah, serta meraih kesuksesan duniawi adalah bagian dari agama.

3. “Wa aḥsin kamā aḥsanallāhu ilaik”

“Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”
Ini adalah prinsip ihsan: berbuat baik tanpa menunggu dibalas baik. Allah memberi kita rahmat, rezeki, ampunan tanpa kita minta. Maka seharusnya kita pun memberi maaf, membantu orang lain, dan menjadi rahmat bagi sekitar.

4. “Wa lā tabghi al-fasāda fī al-arḍ”

“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”
Agama sebagai sumber nilai akan melahirkan ‘ibādurrahmān (hamba-hamba Tuhan yang pengasih), bukan perusak. Korupsi, pencemaran lingkungan, penindasan, dan hoaks adalah bentuk fasād (kerusakan) yang ditolak oleh agama.


C. Agama sebagai Sumber Nilai dalam Tiga Ranah Utama

Ustadz Agus kemudian menjabarkan aplikasi tema dalam tiga aspek kehidupan:

1. Nilai dalam Ranah Pribadi (Akhlaqul karimah)

  • Kejujuran sebagai nilai utama dalam perkataan dan perbuatan. Rasulullah bersabda:

Arab:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ

Latin:
‘Alaikum biṣ-ṣidqi fa innas-ṣidqa yahdī ilal-birr

Artinya:
“Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran membimbing kepada kebajikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Amanah dalam setiap tanggung jawab.

2. Nilai dalam Ranah Sosial (Kemasyarakatan)

  • Keadilan ekonomi: tidak menimbun barang, tidak riba, membayar zakat.
  • Gotong royong sebagai cerminan hadis:

Arab:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ

Latin:
Maṡalul mu’minīna fī tawādihim wa tarāḥumihim kamaṡalil jasadil wāḥid

Artinya:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan cinta mereka seperti satu tubuh.” (HR. Muslim)

3. Nilai dalam Ranah Lingkungan dan Ekosistem

  • Agama melarang kerusakan ekologis. Ayat “wa lā tubghil fasāda” mencakup pencemaran sungai, penebangan liar, dan polusi udara. Ustadz Agus menyitir:

Arab:
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ

Latin:
Wa idzā tawallā sa‘ā fil arḍi liyufsida fīhā wa yuhlikal ḥartsa wan nasl

Artinya:
“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan keturunan.” (QS. Al-Baqarah: 205)


D. Hadis Penutup: Agama adalah Nasihat

Sebagai kesimpulan, Ustadz Agus mengingatkan hadis yang sangat mendasar:

Arab:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Latin:
Ad-dīnu an-naṣīḥah. Qulnā: liman? Qāla: lillāhi wa likitābihī wa li rasūlihī wa li a’immatil muslimīna wa ‘āmmatihim.

Artinya:
“Agama itu adalah nasihat. Kami bertanya: ‘Untuk siapa, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan untuk masyarakat umum.’” (HR. Muslim)

Artinya: nilai tertinggi agama adalah nasihat yang tulus—bukan mencari kesalahan, tetapi membangun kebaikan bersama.


E. Pesan Final Ustadz Agus Wahid

“Jangan pernah reduksi Islam hanya pada ritual. Agama adalah mata air nilai. Jika agama menjadi sumber kehidupan, maka seorang mukmin akan menjaga lisannya, tangannya, hartanya, dan hatinya untuk kemaslahatan. Sebaliknya, jika agama ditinggalkan sebagai sumber nilai, maka yang muncul adalah kehidupan yang kering, egois, dan merusak. Mari jadikan setiap helaan napas kita sebagai bentuk ibadah dan nasihat bagi sesama.”

Suasana Pengajian dan Harapan

Pengajian berlangsung interaktif. Jamaah tampak antusias menyimak tausiah dan mengajukan pertanyaan terkait implementasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam pekerjaan, keluarga, dan bermasyarakat.

Ketua PCM Kesambi, H. Digyono, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengajian bulanan ini merupakan wadah pembinaan iman dan takwa sekaligus sebagai pengingat agar agama tidak dipahami secara sempit.

“Semoga ke depannya, nilai-nilai agama benar-benar menjadi fondasi dalam setiap gerak-gerik kita, dari mulai niat, ucapan, hingga tindakan,” tuturnya.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz Agus Wahid, dilanjutkan dengan ramah tamah secara sederhana namun penuh kebersamaan.

Redaktur: Tim Humas PCM Kesambi
Lokasi: Cirebon, 10 Mei 2026


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *