Pengajian Qobla Ramadhan: Ketua FKUB Jawa Barat Ajak Sambut Bulan Suci dengan Hati Bersih dan Amal Sosial

CIREBON, 14 Februari 2026 – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon menggelar Pengajian Qobla Ramadhan yang berlangsung khidmat, Sabtu (14/2/2026). Acara ini menghadirkan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Barat, Drs. H. M. Rafani Akhyar, M.Si. , sebagai narasumber utama.

Pengajian yang diselenggarakan di SDIT Muhammadiyah Harjamukti Kota Cirebon ini diikuti oleh seluruh jajaran pimpinan, organisasi otonom (Ortom), Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta simpatisan ini juga dihadiri oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, beserta segenap pimpinan lainnya. Suasana kebersamaan dan kerinduan untuk bertemu Ramadhan tampak jelas terpancar dari wajah para jamaah yang memadati lokasi acara.


Doa dan Harapan: “Allahumma Barik Lana fi Rajab wa Sya’ban wa Ballighna Ramadhan”

Mengawali tausiyahnya, Drs. Rafani Akhyar mengajak seluruh jamaah untuk memanjatkan doa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, sebagai wujud kerinduan dan harapan agar dipertemukan dengan bulan mulia.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami (dengan umur yang sehat) hingga bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

“Kita semua berdoa agar dipanjangkan umur hingga bertemu Ramadhan. Mari kita sambut kedatangannya dengan ucapan Marhaban ya Ramadhan, yang artinya ‘Selamat datang, wahai bulan penuh berkah’. Sambutlah dengan kegembiraan, karena Ramadhan adalah tamu agung yang dinanti-nantikan oleh setiap muslim yang beriman,” ujar Rafani Akhyar penuh semangat.

Beliau mengingatkan bahwa Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)


Keutamaan Membaca Al-Qur’an: Syafa’at di Hari Kiamat

Drs. Rafani Akhyar kemudian mengajak jamaah untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an, baik di bulan Sya’ban ini maupun kelak di Ramadhan. Beliau mengutip hadits riwayat Abu Daud yang menjelaskan keistimewaan membaca Al-Qur’an:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at (pemberi pertolongan) bagi pembacanya (orang yang mengamalkannya).” (HR. Muslim)

“Testimoni dari hadits ini sangat jelas. Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi akan membela kita di hari akhir. Oleh karena itu, mari kita jadikan Ramadhan sebagai bulan memperbanyak tilawah, tadabbur, dan pengamalan Al-Qur’an,” ajaknya.


Perspektif Muhammadiyah: Tafsir Surat Al-Ma’un dan Al-Mudatsir sebagai Fondasi Amal Sosial

Memasuki inti kajian, Drs. Rafani Akhyar mengupas dua surat penting dalam Al-Qur’an yang menjadi landasan gerakan sosial Muhammadiyah, yaitu Surat Al-Ma’un dan Surat Al-Mudatsir ayat 1-7.

1. Surat Al-Ma’un: Kritik Sosial dan Kewajiban Membela Kaum Lemah

Beliau membacakan Surat Al-Ma’un ayat 1-7:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ . فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ . وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ . فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ . الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ . الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ . وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberikan) bantuan.” (QS. Al-Ma’un: 1-7)

Menurut perspektif Muhammadiyah, surat ini memiliki makna yang sangat dalam. Rafani Akhyar menjelaskan bahwa Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berulang kali mengajarkan surat ini kepada para muridnya. Hal ini bukan tanpa alasan, karena surat Al-Ma’un mengandung ajaran bahwa iman harus dibuktikan dengan amal sosial yang nyata .

“Dalam tradisi Muhammadiyah, surat ini menjadi spirit berdirinya ribuan panti asuhan, rumah sakit, dan lembaga sosial. Kyai Dahlan ingin mengajarkan bahwa Islam tidak boleh hanya menjadi doktrin di lisan, tetapi harus menjadi amal yang membebaskan kaum mustadl’afin (mereka yang lemah dan dilemahkan),” paparnya .

Beliau menambahkan bahwa surat Al-Ma’un mengajarkan tiga kritikan keras:

  • Pertama, mendustakan agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan tidak peduli pada orang miskin.
  • Kedua, shalat yang tidak berkualitas—karena lalai dan riya’—justru mendapat ancaman celaka.
  • Ketiga, puncak dari ibadah yang diterima adalah munculnya kepedulian sosial, yaitu tidak enggan memberi bantuan (al-ma’un).

2. Surat Al-Mudatsir: Perintah Bangkit dan Bersihkan Diri

Selanjutnya, Drs. Rafani Akhyar mengutip Surat Al-Mudatsir ayat 1-7 yang menjadi fondasi dakwah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam :

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ . قُمْ فَأَنذِرْ . وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ . وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ . وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ . وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ . وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

“Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu! Dan bersihkanlah pakaianmu! Dan tinggalkanlah segala (perbuatan) dosa! Dan janganlah engkau memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Mudatsir: 1-7)

Dalam perspektif Muhammadiyah, surat ini mengandung pesan tentang tajdid (pembaruan) dan pembersihan diri yang harus dilakukan sebelum berdakwah kepada masyarakat.

Rafani Akhyar menguraikan makna ayat-ayat tersebut:

  • “Bangunlah, lalu berilah peringatan” : Semangat untuk bangkit dari kemalasan, berperan aktif dalam dakwah dan pemberdayaan umat.
  • “Bersihkanlah pakaianmu” : Makna zahirnya adalah menjaga kebersihan fisik, tetapi makna batinnya adalah mensucikan jiwa, niat, dan akhlak.
  • “Tinggalkanlah segala perbuatan dosa” : Hijrah dari kemaksiatan menuju ketaatan.
  • “Janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak” : Ikhlas dalam beramal, tidak mengharap pamrih duniawi.
  • “Karena Tuhanmu, bersabarlah” : Konsistensi dan kesabaran dalam menjalankan perintah Allah.

“Kedua surat ini saling melengkapi. Al-Mudatsir mengajarkan kita untuk membersihkan diri dan bangkit berdakwah. Al-Ma’un mengajarkan bahwa puncak dakwah itu adalah amal sosial, kepedulian pada anak yatim dan fakir miskin. Inilah ciri khas Muhammadiyah: Islam yang tidak hanya indah secara ritual, tetapi juga nyata dalam amal,” tegasnya .


Persiapan Menyambut Ramadhan: Fisik, Materi, dan Ilmu

Sejalan dengan materi yang disampaikan, Drs. Rafani Akhyar juga mengingatkan tentang tiga aspek penting yang harus dipersiapkan dalam menyambut Ramadhan, sebagaimana telah menjadi pemahaman di lingkungan Muhammadiyah :

  1. Persiapan Fisik: Membiasakan diri dengan puasa sunnah di bulan Sya’ban, menjaga kesehatan, dan menyiapkan sarana ibadah seperti mushaf Al-Qur’an dan tempat shalat yang nyaman.
  2. Persiapan Materi: Menyiapkan anggaran untuk infak, sedekah, takjil, serta zakat fitrah agar ibadah sosial dapat berjalan optimal.
  3. Persiapan Ilmu: Memahami ketentuan-ketentuan puasa, fiqih Ramadhan, serta target-target ibadah seperti khatam Al-Qur’an dan shalat malam.

“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memperbanyak puasa di bulan Sya’ban sebagai latihan. Kita pun harus melakukan hal yang sama. Jangan sampai Ramadhan datang, namun kita masih ‘kaget’ secara fisik dan mental,” pesannya .


Penutup: Menjemput Ramadhan dengan Hati yang Lapang

Pengajian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Drs. Rafani Akhyar. Dalam pesan terakhirnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan momentum Ramadhan sebagai sarana transformasi diri.

“Ramadhan adalah bulan perubahan. Mari kita sambut dengan hati yang bersih, dengan semangat Al-Ma’un dan Al-Mudatsir. Jadikan puasa kita tidak hanya menahan lapar, tetapi juga melahirkan kepedulian kepada sesama. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita semua dipertemukan dengan Lailatul Qadar dan meraih derajat takwa,” pungkasnya.

Acara yang berlangsung penuh khidmat ini diakhiri dengan ramah tamah dan saling bermaafan, sebagai simbol kesiapan lahir dan batin menyambut tamu agung, bulan suci Ramadhan 1447 H.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 tanggapan untuk “Pengajian Qobla Ramadhan: Ketua FKUB Jawa Barat Ajak Sambut Bulan Suci dengan Hati Bersih dan Amal Sosial”

  1. Avatar Erli
    Erli

    Alhamdulillah, Terimakasih ilmunya. Semoga Allah Mampukan dan Istiqomahkan untuk ku menjalani Ramadhan nanti sebagai transformasi diri.

  2. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Ramadhan adalah bulan istimewa, karena di dalamnya telah diturunkan Al Qur’an. Mari kita membuat target dalam berinteraksi dengan Al Qur’an: Menghafal, membaca, memahami, mengamalkan

  3. Avatar Uung Qurochtul'ain
    Uung Qurochtul’ain

    Semoga istiqomah tadabbur al qur’an untuk mensucikan hati.