CIREBON, 17 Desember 2025 – Masjid Santun Cirebon kembali menggelar Pengajian Reboan pada Rabu malam (17/12/2025), menghadirkan Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., sebagai penceramah. Kajian yang berlangsung dari bada salat Maghrib hingga Isya ini mengangkat tema penting dalam kehidupan sosial, “Memuliakan Tetangga dalam Bingkai Pedoman Hidup Islami.” mengacu pada Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Kajian ini menyoroti pentingnya membangun hubungan sosial yang harmonis di lingkungan sekitar, dimulai dari akhlak terhadap tetangga. Turut hadir dalam kajian tersebut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, beserta sejumlah pimpinan lainnya.

Dalam pembukaannya, Ustadz Yandi menegaskan bahwa dalam buku Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah mengajak umat untuk mengisi seluruh aspek kehidupan, termasuk bertetangga, sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih. “Setiap Muslim wajib menjalin persaudaraan dan hubungan baik dengan tetangganya secara Islami,” tegasnya.
Beliau merujuk pada Q.S. An-Nisa’ ayat 36, yang menggariskan hak-hak utama dalam kehidupan beragama:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Ayat ini, jelas Ustadz Yandi, menempatkan hak bertetangga setelah hak Allah (tauhid) dan hak kepada orang tua. Ia juga mengingatkan bahwa syirik tidak hanya berupa menyekutukan Allah dengan berhala, tetapi juga syirik kecil seperti riya’ (pamer dalam beramal).

Bertetangga: Ukuran Kesempurnaan Iman
Kehidupan bertetangga, menurut penceramah, menjadi barometer nyata keimanan seseorang. Beliau mengutip sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini, tegas Ustadz Yandi, menunjukkan bahwa memuliakan tetangga adalah konsekuensi logis dari keimanan yang utuh.

Batas dan Hak Tetangga
Ustadz Yandi memaparkan bahwa para ulama berbeda pendapat soal batasan tetangga. Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad menyatakan bahwa tetangga mencakup 40 rumah di sekelilingnya, sementara Imam Malik membatasi pada rumah yang berdempetan. Ada juga yang mendefinisikan tetangga sebagai mereka yang berada dalam satu atau dua lingkungan masjid yang sama.
Mengutip peringatan dari Imam Al-Ghazali, beliau menyampaikan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam :
“لاَ خَيْرَ فِيهَا، هِيَ فِي النَّارِ”
“Tidak ada kebaikan pada dirinya, dia adalah penghuni neraka.”
(HR. Ahmad)
Ini disampaikan Nabi tentang seorang wanita yang rajin salat malam, puasa, dan sedekah, namun menyakiti tetangganya. Sebaliknya, orang yang amalnya sedikit tetapi tidak menyakiti tetangga disebut sebagai penghuni surga. Ini menunjukkan betapa besar kedudukan baiknya akhlak terhadap tetangga.
Praktik Memuliakan Tetangga
Ustadz Yandi kemudian merinci bentuk-bentuk praktis memuliakan tetangga:
- Memberikan keteladanan dalam kebaikan.
- Memulai mengucapkan salam.
- Menjenguk saat sakit.
- Berta’ziyah (mengunjungi) dan memberikan semangat saat tetangga berduka.
- Mengucapkan selamat atas kesuksesan tetangga.
- Menjaga pandangan, terutama terhadap istri tetangga.
- Menjaga rumah tetangga ketika ia pergi.
- Bersikap baik kepada anak-anak tetangga.
- Berusaha mengajarkan ilmu agama atau hal bermanfaat lainnya.
Kajian ditutup dengan penekanan untuk mengasihi tetangga sebagaimana mengasihi diri sendiri, sebagai implementasi nyata dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Pengajian ini diharapkan dapat menginspirasi jamaah untuk membangun lingkungan yang harmonis, penuh kasih sayang, dan berkah, dimulai dari hubungan dengan tetangga terdekat.


Tulis Balasan ke Dakum Batalkan balasan