Cirebon, 13 Mei 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah, Kota Cirebon, pada Rabu malam (13/5/2026). Jamaah tampak antusias mengikuti rangkaian pengajian Reboan yang rutin digelar di masjid tersebut. Pada kesempatan ini, majelis ilmu dipimpin oleh Ustadz Dr. Maman Rusman, M.Pd., yang membawakan kajian bertajuk “Mengukur Kadar Keilmuan Kita tentang Allah”.

Di awal ceramahnya, Ustadz Maman menyampaikan sebuah pendekatan unik dengan mengadopsi Taksonomi Bloom untuk menilai sejauh mana pemahaman dan pengamalan tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menjelaskan enam tingkatan kognisi:
- C1 (Mengingat/Menghafal) – mampu mengingat dalil-dalil tauhid.
- C2 (Pemahaman) – memahami makna dari setiap ajaran.
- C3 (Implementasi) – menerapkan dalam tindakan nyata.
- C4 (Analisis) – mampu membedakan antara yang haq dan yang batil.
- C5 (Evaluasi) – menilai baik buruknya suatu keyakinan.
- C6 (Mencipta) – melahirkan sikap dan budaya baru berdasarkan tauhid.

Sebagai ilustrasi, Ustadz Maman membawakan kisah sederhana:
Hasan kedatangan sahabat lamanya, Mang Kus. Saat hendak pulang, Mang Kus memberi Hasan sebuah keris dan berkata, “Simpanlah keris ini. Katanya bisa melindungi dari bahaya.” Hasan menolak dengan halus. Ia berkata, “Terima kasih, tapi hanya Allah yang bisa melindungi kita. Jika aku percaya pada keris itu, berarti aku telah berbuat syirik.”
Dari cerita tersebut, beliau memetakan kadar keilmuan:
- C1: Mengingat bahwa meminta perlindungan pada benda adalah syirik.
- C2: Memahami alasan Hasan menolak karena hanya Allah yang melindungi.
- C3: Menerapkan sikap serupa dalam situasi lain.
- C4: Menganalisis perbedaan sikap Mang Kus dan Hasan.
- C5: Mengevaluasi bahwa tindakan Hasan tepat sesuai tauhid.

Ustadz Maman kemudian melanjutkan dengan membahas Surat Ali Imran ayat 18, yang beliau sebut sebagai “transaksi di alam rahim”. Allah berfirman:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Latin: “Syahidallāhu annahū lā ilāha illā hū, wal-malā’ikatu wa ulul-‘ilmi qā’iman bil-qisṭ, lā ilāha illā huwal-‘azīzul-ḥakīm.”
Artinya: “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu (menyatakan pula) dengan menegakkan keadilan. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18)

Beliau menjelaskan kata شَهِدَ (syahida) yang berarti “menyaksikan”. Ayat ini menunjukkan bahwa kesaksian atas keesaan Allah terjadi sejak alam rahim (alam pre-eksistensi), ditegaskan oleh malaikat, dan diakui oleh orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan.
Mengambil pelajaran dari peristiwa pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah yang sempat menuai pertentangan, Ustadz Maman mengingatkan bahwa mengajarkan kebenaran sering kali berbenturan dengan kebiasaan dan tradisi yang sudah melekat. “Maka ukurlah diri kita masing-masing: sudah di level mana pemahaman tauhid kita? Apakah baru sebatas C1 menghafal, atau sudah sampai C3 mengimplementasikan?” tegasnya.

Di akhir kajian, Ustadz Dr. Maman Rusman, M.Pd., memimpin doa dan mengajak seluruh jamaah untuk saling mendoakan agar kadar keimanan ditambah, serta diberi kemampuan untuk mengimplementasikan ilmu-ilmu dari Allah dalam setiap sendi kehidupan. Pembahasan Surat Ali Imran ayat 18 insyaallah akan dilanjutkan pada pertemuan Reboan pekan depan.
Pengajian ditutup dengan suasana haru dan penuh kehangatan, diselingi tausiyah singkat serta doa kebaikan untuk umat.
Redaksi: Dakum dan Tim Liputan Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon


Tinggalkan Balasan