Pengorbanan Tanpa Batas: Sebuah Renungan di Tengah Hujan Cirebon

CIREBON, 8 Desember 2025 – Kesibukan pasar Jagasatru pada siang hari itu seperti biasa. Suara tawar-menawar, aroma rempah, dan lalu-lalang orang membentuk simfoni keseharian kota. Tangan saya memegang tas belanjaan yang berisi sayuran, bawang merah, dan bawang putih. Bahan-bahan sederhana ini nantinya akan diolah ibu menjadi lauk-pauk untuk keluarga dan menjadi bawang goreng renyah yang dijualnya kepada tetangga dan langganan tetap. Hari ini, seperti beberapa hari dalam seminggu, saya menemani ibu berbelanja.

Momen menemani ibu ini selalu menjadi ruang renung. Di tengah kesibukan sebagai seorang pelatih bela diri di organisasi Tapak Suci, waktu untuk mendampingi orang tua adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Saat memilih tomat atau menimbang bawang, pikiran saya sering melayang pada betapa besarnya pengorbanan dua orang yang telah membesarkan saya.

Seorang ibu, dengan keberanian yang tak terukur, telah mempertaruhkan nyawanya di ambang pintu kehidupan untuk melahirkan anak-anaknya. Kasihnya tidak pernah berhenti mengalir, dari buaian hingga kita dewasa. Seorang ayah, dengan keteguhan yang tak kenal lelah, bekerja dari pagi buta hingga larut malam, mengorbankan kenyamanan pribadi demi sesuap nasi dan masa depan anak-anaknya. Bahkan, tidak jarang, seorang ayah rela mempertaruhkan segalanya, termasuk nyawa, sebagai tameng bagi keluarganya. Pengorbanan mereka adalah mahakarya cinta yang tak ternilai harganya.

Pukul 14.12, setelah dari pasar, ibu mengajak saya ke toko Sanitas di jalan Pemuda. Tujuannya: membeli botol plastik berbagai ukuran untuk wadah bawang goreng produksinya. Saya mengangkat kardus-kardus berisi botol, mengatur agar muat di motor dengan baik. Ibu hanya tersenyum kecil. Bagi saya, sebagai anak laki-laki, membantu dan menemani orang tua bukanlah kewajiban yang memiliki batas waktu. Ia adalah panggilan hati yang berlangsung seumur hidup. Dalam ajaran agama yang saya anut, berbakti kepada orang tua, khususnya bagi seorang anak laki-laki, adalah kewajiban yang terus berlangsung, tak peduli apakah ia sudah berkeluarga atau belum.

Dalam perjalanan pulang, langit Cirebon yang cerah tiba-tiba berubah kelam. Baru sampai di pertengahan Jalan Pemuda, hujan turun dengan derasnya, membasahi kami berdua dalam sekejap. Kami bergegas, menerobos rintik hujan yang terasa seperti pengingar akan betapa rentannya manusia. Pukul 15.16, kami akhirnya tiba di rumah dengan badan basah kuyup, tetapi hati merasa lengkap karena telah menyelesaikan tugas bersama.

Pengalaman sederhana ini menguatkan pesan yang selalu digaungkan oleh Guru Besar Tapak Suci, KH. Ahmad Kasuwi Thorif. Beliau kerap berpesan kepada kami, para kader, bahwa membantu orang tua adalah ladang pahala dan pembuka pintu rezeki. “Jangan pernah membantah perintah orang tua,” nasihatnya selalu terngiang. “Ketika mereka membutuhkan, segeralah membantu. Saat mereka menasihati, dengarkanlah dengan hormat hingga mereka selesai.” Pesan ini selaras dengan ajaran Islam yang menempatkan birrul walidain (berbakti kepada orang tua) pada kedudukan sangat mulia, bahkan terus dianjurkan setelah orang tua meninggal dunia. Ini

Terkadang saya bertanya dalam hati: apa susahnya meluangkan waktu untuk orang tua? Di era yang serba cepat ini, kita sering kali mengukur segala sesuatu dengan materi. Ustadz Adi Hidayat pernah mengingatkan, “Dua kunci surga yang masih ada adalah bapak dan ibu.” Pintu surga itu terbuka lebar melalui ridha mereka. Pengorbanan orang tua tidak akan pernah bisa terlunasi dengan harta benda. Ia hanya bisa dibalas dengan bakti, waktu, perhatian, dan doa tulus seorang anak.

Hari ini, di tengah gerimis Cirebon, saya diingatkan kembali. Jangan sampai penyesalan itu datang terlambat, saat panggilan “Ibu” atau “Ayah” tak lagi terjawab, dan tangan mereka tak lagi bisa kita pegang. Sebab, tanpa pengorbanan mereka, kita tak akan pernah ada di dunia ini untuk merasakan dinginnya hujan dan hangatnya sebuah bakti. Marilah kita perhatikan mereka, saat kesempatan itu masih ada.

Kontributor

Zia Rahman
(PCM Kesambi)
Tim Media Muhammadiyah Kota Cirebon

Komentar (Tanggapan)

Tulis Komentar pada kolom di bawah ini

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.
Ruas (kotak) yang wajib diisi ditandai *