CIREBON, 20 Maret 2026 – Ribuan jamaah memadati halaman Kampus Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMADA) Jalan Kalitanjung, Kota Cirebon, pada pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 H, Jumat (20/3/2026). Suasana khidmat dan penuh syukur menyelimuti ribuan jamaah yang datang sejak pagi untuk menunaikan shalat sunnah Idul Fitri setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Assoc. Prof. Dr. KH. Toto Santi Aji, M.Ag., menyampaikan khutbah yang mendalam dengan tema “Membangkitkan Kesadaran Hati Pasca Ramadhan” . Turut hadir dalam kesempatan tersebut Rektor Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Cirebon (UMADA), Sri Musfiroh, S.Si.T., M.Kes. , beserta jajaran pimpinan kampus dan civitas akademika.

Perintah Shaum untuk Orang Beriman, Bukan Sekadar Muslim
Dalam khutbahnya, Prof. Dr. KH. Toto Santi Aji mengawali dengan menjelaskan bahwa perintah shaum Ramadhan ditujukan kepada orang-orang beriman, bukan sekadar orang Islam. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
“Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyerukan perintah puasa kepada orang-orang yang beriman, bukan sekadar orang Islam. Oleh karena itu, mari kita pantaskan diri untuk menjadi orang beriman, bukan sekadar menjadi orang Islam saja. Paling tidak, standar minimal keimanan harus ada pada diri kita,” papar KH. Toto Santi Aji.

Ciri Orang Beriman: Hati yang Terkoneksi dengan Dzikir
Memasuki inti khutbah, khatib menjelaskan dua ciri orang beriman berdasarkan Al-Qur’an.
1. Iman Tertanam dalam Hati (QS. Al-Hujurat: 14)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 14:
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
“Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu.’” (QS. Al-Hujurat: 14)
“Ciri pertama, wujud keimanan tidak hanya lahir dari gerakan fisik semata, tapi harus tertanam dalam hati. Sehingga gerakan ibadah, amal saleh, dan jihad memperjuangkan agama Allah dilakukan secara lahiriah dan batiniah. Inilah yang membedakan antara sekadar Islam dan iman yang hakiki,” jelasnya.
2. Hati Bergetar saat Dzikir (QS. Al-Anfal: 2)
Ciri kedua, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Anfal ayat 2:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)
“Pada saat didzikirkan atau disebut asma Allah, hatinya bergetar. Terjadi koneksitas antara dzikir dengan hati. Adapun bentuk-bentuk dzikir di antaranya adalah menyebut-nyebut asma Allah dengan tasbih, tahmid, tahlil, dan lain-lain hingga menyentuh hati, bukan sekadar ucapan lisan,” paparnya.
KH. Toto Santi Aji menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an juga merupakan dzikir, di mana ayat-ayat yang dibaca mampu menggetarkan hati, selain juga harus mengikuti kaidah tajwid dan makhraj yang benar. Dan dzikir yang paling utama adalah sholat.
“Pada saat seseorang sholat, tidak hanya berupa gerakan fisik yang sesuai dengan tuntunan syariat saja, tapi juga merupakan gerakan jiwa yang mampu menghadirkan Allah di dalam hati,” tegasnya.

Hati yang Kuat, Ibadah yang Berbekas
Khatib menjelaskan bahwa jika shaum dilakukan dengan kekuatan hati, dzikir asma Allah, membaca Al-Qur’an, dan sholat dilakukan dengan menghadirkan Allah dalam hati, maka hati akan memiliki kekuatan Quraniyah yang melahirkan energi dahsyat yang akan mengendalikan tangan, kaki, lisan, dan perbuatan dengan kekuatan Al-Qur’an.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ingatlah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ingatlah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Setelah satu bulan kita dididik, ditempa, dan dilatih dengan berbagai aktivitas ibadah yang melengkapi kesempurnaan shaum Ramadhan, semoga setelah 1 Syawal ini ada bekas yang tersisa. Syukur-syukur semuanya, namun jika tidak, minimalnya ada sisa-sisa aktivitas ibadah Ramadhan yang masih mampu kita pertahankan hingga bulan-bulan berikutnya. Hal tersebut akan memungkinkan terjadi jika kita melakukannya dengan kekuatan dan kesadaran hati,” jelas KH. Toto Santi Aji.

Tidak Ada Kata Terlambat
Khatib juga memberikan semangat kepada jamaah yang merasa belum mencapai kesempurnaan ibadah. “Jika hal tersebut belum kita miliki, tidak ada kata terlambat dan jangan putus asa. Marilah di bulan Syawal ini kita bangkitkan kesadaran hati dengan menghujamkan ruh-ruh shaum, dzikir, baca Al-Qur’an, dan sholat ke dalam hati. Dengan cara menjiwai, menghayati, dan menghadirkan hati pada saat kita melakukannya. Sehingga ibadah kita bukan sekadar gerakan fisik, tapi juga gerakan jiwa,” pesannya.

Antusiasme Jamaah Membludak
Menurut panitia penyelenggara, Ustadz Abdul Aziz Fakhrurozi, S.H. , dikarenakan pelaksanaan Salat Idul Fitri tahun ini berbeda waktunya dengan pemerintah sehingga jumlah jamaah yang hadir sangat membeludak. “Salat Ied sekarang karena hari raya berbeda, hingga jumlah jamaahnya membludak sampai membuka ruang atas,” ujarnya.
Hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat Kota Cirebon, khususnya warga Muhammadiyah, dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri dan melaksanakan shalat sunnah ini dengan penuh kekhusyukan.
Penutup: Memohon Ampunan dan Keberkahan
Di akhir khutbah, KH. Toto Santi Aji mengajak seluruh jamaah untuk memohon ampunan dan keberkahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta berharap agar amal ibadah selama Ramadhan diterima dan dapat dipertahankan di bulan-bulan berikutnya.
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ، وَجَعَلَنَا مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ
“Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan dari kalian, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) dan orang-orang yang mendapat kemenangan.”
Salat Idul Fitri berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kebahagiaan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan terharu, mendapatkan pencerahan tentang pentingnya menghadirkan hati dalam setiap ibadah, serta semangat untuk mempertahankan kualitas ibadah pasca Ramadhan.


Tinggalkan Balasan