CIREBON, 3 Maret 2026 – Jamaah memadati Masjid Al Ikhlas Drajat, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, pada Selasa malam (3/3/2026) untuk melaksanakan Salat Khusuf (gerhana bulan) sekaligus Salat Tarawih. Acara ini juga dirangkaikan dengan buka bersama yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kesambi.
Bertindak sebagai imam dan khatib salat khusuf, Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., menyampaikan khutbah yang mengajak jamaah untuk menjadikan fenomena gerhana bulan sebagai momentum muhasabah (introspeksi diri) dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua PCM Kesambi, H. Digyono, beserta jajaran pengurus dan warga Muhammadiyah se-Kecamatan Kesambi.

Gerhana: Tanda Kekuasaan Allah, Bukan Pertanda Kematian
Dalam khutbahnya, Ustadz Yandi mengawali dengan menjelaskan bahwa gerhana bulan dan matahari adalah tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Fushshilat ayat 37:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۗ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah terjadinya malam dan siang, terbitnya matahari dan bulan. Maka, janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, tetapi sujudlah kepada Allah, Dzat yang Menciptakan semuanya itu, jika kalian benar-benar hanya beribadah kepada-Nya.” (QS. Fushshilat: 37)
Ustadz Yandi menegaskan bahwa gerhana bukanlah pertanda kematian atau kelahiran seseorang. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kamu melihat gerhana tersebut, maka berdoalah kamu kepada Allah, bertakbirlah kamu, kerjakanlah shalat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari, no. 1044)

Gerhana sebagai Pengingat Hari Kiamat
Lebih lanjut, Ustadz Yandi menjelaskan bahwa fenomena gerhana juga menjadi pengingat akan dahsyatnya hari kiamat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Qiyamah ayat 6-12:
يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ . فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ . وَخَسَفَ الْقَمَرُ . وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ . يَقُولُ الْإِنسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ . كَلَّا لَا وَزَرَ . إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ
“Ia berkata, ‘Bilakah hari kiamat itu?’ Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya (gerhana), dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata, ‘Ke manakah tempat lari?’ Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali.” (QS. Al-Qiyamah: 6-12)
“Oleh karena itu, ketika terjadi gerhana, sikap yang ditunjukkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah rasa takut dan gemetar. Beliau bergegas ke masjid, seolah-olah hari kiamat telah tiba. Dalam riwayat Imam Bukhari, Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَىٰ ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ
“Jika kalian melihat sesuatu dari gerhana itu, maka bersegeralah kalian dengan gemetar (penuh rasa takut) untuk mengingat-Nya, berdoa kepada-Nya dan meminta ampun kepada-Nya.” (HR. Bukhari, no. 1059)

Momentum Muhasabah dan Introspeksi Diri
Memasuki inti khutbah, Ustadz Yandi mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah, terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Beliau mengingatkan bahwa kita harus meneladani Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang senantiasa memperbanyak istigfar meskipun telah dijamin masuk surga.
“Padahal Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam telah diampuni segala dosanya, namun beliau tetap memohon ampun tak kurang dari 100 kali dalam sehari semalam. Air mata beliau tumpah karena takut kepada Allah. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah bersungguh-sungguh dalam mengemban dakwah? Apakah kita sudah memberi nasihat kepada umat? Apakah kita sudah berjihad di jalan Allah?” tanya Ustadz Yandi.
Beliau mengutip firman Allah:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Berbuka Bersama dan Salat Tarawih
Setelah pelaksanaan salat khusuf, acara dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama yang diikuti oleh seluruh jamaah. Suasana kebersamaan dan keakraban sangat terasa, memperkuat tali silaturahmi antarwarga Muhammadiyah di wilayah Kesambi.
Usai berbuka dan melaksanakan salat Maghrib berjamaah, rangkaian ibadah dilanjutkan dengan Salat Isya dan Salat Tarawih malam ke-15 Ramadhan 1447 H. Jamaah tampak khusyuk mengikuti setiap rangkaian ibadah hingga selesai.
Ketua PCM Kesambi, H. Digyono, menyampaikan apresiasi atas antusiasme jamaah dan berharap kegiatan seperti ini dapat terus memperkuat ukhuwah Islamiyah di lingkungan Muhammadiyah Kesambi.
Penutup: Menjadi Pribadi yang Lebih Baik
Menutup rangkaian acara, Ustadz Yandi Heryandi mengajak jamaah untuk menjadikan momentum gerhana dan bulan Ramadhan ini sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih peduli kepada sesama.
“Mari kita jadikan setiap fenomena alam sebagai pengingat akan kebesaran Allah. Mari kita tingkatkan kualitas ibadah kita, perbanyak istigfar, dan perbanyak sedekah. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin,” pungkasnya.
Salat khusuf dan tarawih berlangsung dengan penuh kekhusyukan hingga larut malam, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh jamaah yang hadir.


Tinggalkan Balasan