Tarawih Malam ke-30 di Masjid Ad-Dien UMADA: Mudik sebagai Miniatur Kehidupan dan Persiapan Bekal Akhirat

CIREBON, 18 Maret 2026 – Masjid Ad-Dien Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMADA) Kalitanjung, Kota Cirebon, dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-30 sekaligus malam terakhir Ramadhan 1447 H, Rabu (18/3/2026). Suasana haru dan refleksi menyelimuti setiap sudut masjid. Dalam kultum perpisahan yang disampaikan oleh Ustadz Sunarya, MM, mengangkat tema “Mudik: Miniatur Kehidupan Manusia dan Persiapan Bekal ke Kampung Akhirat” .

Jamaah yang hadir tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengajak untuk merenungkan hakikat mudik duniawi sebagai cerminan perjalanan menuju kampung abadi di akhirat.


Mudik: Miniatur Kehidupan Manusia

Mengawali kultum, Ustadz Sunarya mengajak jamaah merenungkan fenomena mudik yang setiap tahun terjadi menjelang Idul Fitri. Mudik menjadi tradisi yang dinanti-nantikan, di mana manusia berbondong-bondong kembali ke kampung halaman untuk bertemu keluarga dan orang-orang tercinta.

“Mudik adalah miniatur kehidupan manusia. Ketika kita mudik, kita mempersiapkan segalanya: kendaraan, bekal, uang, oleh-oleh, dan memastikan perjalanan aman. Kita rela mengantre, berdesakan, bahkan kelelahan demi bisa sampai ke kampung halaman dengan selamat,” paparnya.

Namun, di balik hiruk-pikuk mudik duniawi, ada perjalanan yang jauh lebih besar yang harus kita persiapkan, yaitu mudik hakiki menuju kampung akhirat . Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)

“Setiap dari kita sedang dalam perjalanan panjang menuju Allah. Perjalanan ini tidak bisa ditawar dan tidak bisa dihindari. Yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan bekal sebaik-baiknya,” jelasnya.


Bekal Mudik Hakiki ke Kampung Akhirat

Jika mudik duniawi membutuhkan bekal materi, maka mudik ke akhirat membutuhkan bekal yang jauh lebih utama. Ustadz Sunarya memaparkan tiga bekal utama yang harus dipersiapkan.

1. Takwa dan Amal Saleh

Bekal pertama dan paling utama adalah takwa dan amal saleh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS. Al-Baqarah: 197)

“Takwa adalah bekal yang tidak akan pernah habis dan tidak akan pernah rusak. Ia adalah modal utama untuk menghadap Allah. Amal saleh adalah wujud nyata dari takwa. Puasa, shalat, zakat, sedekah, dan berbagai kebaikan lainnya adalah bekal yang akan kita bawa mati,” jelasnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

2. Pensucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Bekal kedua adalah pensucian jiwa atau tazkiyatun nafs. Selama Ramadhan, kita dilatih untuk membersihkan jiwa dari berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, dan cinta dunia berlebihan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

“Ramadhan adalah madrasah pensucian jiwa. Setelah sebulan berlatih, seharusnya jiwa kita menjadi lebih bersih, lebih lembut, dan lebih dekat kepada Allah. Jika setelah Ramadhan kita masih memiliki hati yang keras, masih mudah marah, masih dengki dan iri, maka kita perlu bertanya: sudah berhasilkah puasa kita?” tegasnya.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi membersihkan hati dari penyakit-penyakitnya.

3. Taubat Nasuha (Taubat yang Sebenar-benarnya)

Bekal ketiga adalah taubat nasuha, yaitu taubat yang sungguh-sungguh, tulus, dan tidak akan mengulangi dosa yang sama. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS. At-Tahrim: 8)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim)

“Ramadhan adalah bulan taubat. Pintu ampunan terbuka lebar. Jangan tinggalkan Ramadhan tanpa taubat nasuha. Bersihkan diri dari dosa-dosa, baik dosa kepada Allah maupun dosa kepada sesama manusia. Minta maaflah kepada orang-orang yang pernah kita zalimi. Karena bekal terbaik untuk mudik ke akhirat adalah hati yang bersih dan dosa yang diampuni,” pesannya.


Perbedaan Mudik Dunia dan Mudik Akhirat

Ustadz Sunarya menjelaskan perbedaan mendasar antara mudik dunia dan mudik akhirat:

Mudik Dunia : Bekal materi (uang, tiket, oleh-oleh). Perjalanan beberapa jam/hari. Tujuan: kampung halaman dunia. Bisa batal di tengah jalan. Keluarga dunia menyambut.

Mudik Akhirat : Bekal takwa dan amal saleh. Perjalanan seumur hidup. Tujuan: surga Allah. Pasti sampai, tergantung bekal. Malaikat dan Allah menyambut.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggambarkan sambutan bagi orang-orang bertakwa di akhirat:

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah, kamu kekal di dalamnya.’” (QS. Az-Zumar: 73)


Penutup: Mempersiapkan Bekal Terbaik

Menutup kultum, Ustadz Sunarya mengajak jamaah untuk mempersiapkan bekal terbaik untuk mudik hakiki ke kampung akhirat.

“Saudara-saudaraku, Ramadhan akan segera pergi. Sebentar lagi kita akan merayakan Idul Fitri. Jangan hanya sibuk mempersiapkan mudik dunia, tetapi lupakan mudik akhirat. Siapkan bekal takwa, bersihkan jiwa, dan bertobatlah dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan tahun depan dalam keadaan sehat wal afiat. Selamat Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin.”

Doa penutup:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

Salat Tarawih malam terakhir berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan haru. Jamaah yang hadir tampak merenung dan meneteskan air mata, tersentuh oleh pesan tentang persiapan bekal untuk perjalanan panjang menuju kampung akhirat.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *