Tarawih Malam ke-30 di Masjid Santun: Ustadz Ahmad Nurjanah Ajak Evaluasi Diri dan Raih Predikat Orang Beruntung

CIREBON, 18 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-30 sekaligus malam terakhir Ramadhan 1447 H, Rabu (18/3/2026). Suasana haru dan refleksi menyelimuti setiap sudut masjid. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Ahmad Nurjanah, S.E., S.Pd., M.Si., menyampaikan kultum yang sangat menyentuh dengan tema “Evaluasi Diri dan Meraih Predikat Orang Beruntung” .

Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah perpisahan di penghujung bulan suci yang penuh berkah.


Di Penghujung Ramadhan: Saatnya Evaluasi Diri

Ustadz Ahmad Nurjanah mengawali kultum dengan mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi diri di penghujung Ramadhan. Beliau mengingatkan bahwa para sahabat Nabi dan ulama salaf justru semakin meningkatkan doa mereka di penghujung Ramadhan, bahkan mereka berdoa selama enam bulan setelahnya agar amalan mereka diterima.

“Di penghujung Ramadhan ini, tugas kita adalah untuk evaluasi. Bertanya pada diri sendiri, bagaimana ibadah kita selama bulan suci ini? Apakah lebih baik dari tahun lalu atau justru sebaliknya? Para sahabat di penghujung Ramadhan ini justru berdoa untuk sebelas bulan berikutnya. Mereka khawatir amalan mereka tidak diterima, meskipun mereka telah beribadah dengan sungguh-sungguh,” papar Ustadz Ahmad.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)


Analogi Indah: Menjadi Kupu-Kupu, Bukan Ular

Untuk menggambarkan perubahan diri setelah Ramadhan, Ustadz Ahmad menggunakan dua analogi yang menarik: kupu-kupu dan ular.

“Bagaimana menjadi lebih baik setelah Ramadhan? Ibarat binatang kupu-kupu yang berasal dari ulat. Ulat yang tadinya merayap dan merusak tanaman, setelah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah, tidak merusak bunga, bahkan membantu penyerbukan. Semakin indah dan bermanfaat,” jelasnya.

“Tidak seperti ular. Ular setelah puasa (setelah berganti kulit) justru menjadi lebih mengkilap, tetapi tetap berbisa dan berbahaya. Ada orang setelah Ramadhan justru menjadi lebih pintar bermaksiat, lebih licik, lebih berbisa. Na’udzubillah,” tambahnya.

Beliau mengajak jamaah untuk bermetamorfosis menjadi pribadi yang lebih baik, lebih indah, dan lebih bermanfaat bagi sesama, seperti kupu-kupu.


Tiga Golongan Orang Beruntung

Ustadz Ahmad memaparkan tiga golongan orang yang beruntung setelah melalui ujian Ramadhan, berdasarkan materi yang disampaikan.

1. Orang yang Mohon Ampun dan Tobatnya Diterima

Golongan pertama adalah mereka yang memohon ampun kepada Allah dan diterima taubatnya. Mereka memperbanyak istigfar dan menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Orang yang beruntung adalah mereka yang keluar dari Ramadhan dalam keadaan diampuni dosa-dosanya. Mereka adalah orang-orang yang tobatnya diterima oleh Allah,” tegas Ustadz Ahmad.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

2. Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar

Golongan kedua adalah mereka yang mendapatkan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun, Ustadz Ahmad menekankan bahwa hakikat mendapatkan Lailatul Qadar bukan sekadar ibadah di malam itu, tetapi adanya perubahan positif setelahnya.

“Orang yang beruntung adalah orang yang mendapatkan Lailatul Qadar. Bukan sekadar shalat malam itu, tetapi dalam artian orang itu ada perubahan positif dalam dirinya. Solidaritasnya muncul, kebaikannya meningkat, akhlaknya semakin baik. Tapi jika hal positif tidak muncul, bisa jadi ia hanya mendapatkan lailatul qadar (malam ketentuan), bukan Lailatul Qadar yang hakiki,” jelasnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang keagungan Lailatul Qadar:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

3. Orang yang Istiqamah

Golongan ketiga adalah mereka yang istiqamah, yaitu konsisten dalam beribadah setelah Ramadhan. Mereka rutin shalat malam minimal dua rakaat, maksimal sebelas rakaat, dan istiqamah dalam berinfak dengan ikhlas.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten (terus-menerus) dilakukan, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Istiqamah perlu dilatih. Sedikit demi sedikit, yang penting rutin dan istiqamah. Terus memohon petunjuk kepada Allah agar digerakkan hatinya untuk tetap dalam kebaikan. Ya Allah, semoga setelah Ramadhan ini kami tetap istiqamah. Kami berharap ampunan kepada Allah, berharap ridha-Nya, dan mendapatkan surga-Nya,” pesan Ustadz Ahmad.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang istiqamah:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih hati; dan bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)


Penutup: Doa dan Harapan

Menutup kultum, Ustadz Ahmad Nurjanah mengajak jamaah untuk memanjatkan doa memohon keistiqamahan dan keberkahan setelah Ramadhan.

“Marilah kita akhiri Ramadhan ini dengan doa. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan kita kekuatan untuk istiqamah setelah Ramadhan. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung, yang diampuni dosanya, yang mendapatkan Lailatul Qadar, dan yang istiqamah dalam kebaikan. Selamat Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin,” pungkasnya.

Doa yang diajarkan:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku.”

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Salat Tarawih malam terakhir berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan haru. Jamaah yang hadir tampak merenung dan meneteskan air mata, tersentuh oleh ajakan untuk evaluasi diri dan refleksi di penghujung Ramadhan.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *