Tarawih Malam Keduabelas di Masjid Santun: Ustadz Yandi Heryandi Paparkan Empat Kekuatan Umat dan Karakteristik Dakwah Muhammadiyah

CIREBON, 28 Februari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam keduabelas Ramadhan 1447 H, Sabtu (28/2/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., menyampaikan kultum dengan tema lanjutan dari pekan lalu, yaitu “Empat Kekuatan yang Allah Berikan kepada Umat” berdasarkan QS. Al-Hajj ayat 41, serta karakteristik dakwah Muhammadiyah.

Jamaah tampak antusias menyimak tausiyah yang mengupas tentang fondasi kekuatan umat dan bagaimana Muhammadiyah menjalankan dakwahnya.


Landasan Al-Qur’an: Empat Kekuatan Umat

Ustadz Yandi Heryandi mengawali kultum dengan mengutip firman Allah dalam QS. Al-Hajj ayat 41 yang menjadi landasan pembahasan:

الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami berikan kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang ma’ruf serta mencegah dari yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj: 41)

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan empat kekuatan kepada umat yang diberi kedudukan di bumi. Keempat kekuatan ini menjadi fondasi bagi tegaknya peradaban Islam yang diridhai Allah,” papar Ustadz Yandi.


Empat Kekuatan yang Allah Berikan

1. Shalat yang Didirikan dengan Berjamaah

Kekuatan pertama adalah shalat yang didirikan, khususnya dengan berjamaah. Ustadz Yandi menjelaskan bahwa shalat berjamaah memiliki keutamaan yang luar biasa, tidak hanya secara spiritual tetapi juga dalam membangun kedisiplinan, kebersamaan, dan persatuan umat.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Shalat berjamaah melatih kita untuk disiplin, tertib, dan kompak. Inilah fondasi pertama kekuatan umat,” tegas Ustadz Yandi.

2. Bersedekah dan Menunaikan Zakat

Kekuatan kedua adalah bersedekah dan menunaikan zakat. Ini adalah fondasi ekonomi umat yang membangun solidaritas sosial dan keadilan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)

“Dengan zakat dan sedekah, kita membersihkan harta, membantu saudara yang membutuhkan, dan menguatkan perekonomian umat,” jelas Ustadz Yandi.

3 dan 4. Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Kekuatan ketiga dan keempat adalah dakwah amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Inilah yang menjadi pedoman utama dakwah Muhammadiyah.

Ustadz Yandi menjelaskan bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah ruh dari gerakan Muhammadiyah. Sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah berkomitmen untuk menegakkan kebaikan dan memberantas kemungkaran di tengah masyarakat.


Karakteristik Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar ala Muhammadiyah

Memasuki inti pembahasan, Ustadz Yandi memaparkan empat karakteristik dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi ciri khas Muhammadiyah:

a. Himayatul Ummah (Mengayomi Umat)

Karakteristik pertama adalah mengayomi umat, bukan mempersulit. Dakwah harus dilakukan dengan cara yang bijaksana, tidak memberatkan, dan tidak membuat orang lari dari agama.

Prinsip ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam :

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari (dari agama).” (HR. Bukhari & Muslim)

“Dakwah Muhammadiyah selalu mengedepankan kemudahan dan kegembiraan, bukan kekerasan dan kekeruhan. Kita mengayomi umat, bukan menghakimi mereka,” jelas Ustadz Yandi.

b. Tauhidul Ummah (Mempersatukan Umat)

Karakteristik kedua adalah mempersatukan umat, bukan memecah belah. Dakwah harus menjadi perekat sosial, bukan pemicu perpecahan.

Dalam konteks Muhammadiyah, pembagian tugas antara Majelis, Lembaga, dan Organisasi Otonom (Ortom) dirancang agar memiliki arah yang jelas dan saling bersinergi, sehingga gerakan dakwah menjadi terpadu dan efektif.

“Seperti halnya pembagian tugas di Muhammadiyah, kita memiliki majelis, lembaga, dan ortom yang masing-masing memiliki fokus, namun semuanya bergerak untuk satu tujuan: kejayaan Islam dan kemaslahatan umat,” papar Ustadz Yandi.

c. Taswiaful Afkar (Menyamakan Persepsi)

Karakteristik ketiga adalah menyamakan persepsi atau pandangan di antara para pelaku dakwah. Hal ini dicapai dengan membudayakan musyawarah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

“Musyawarah adalah kunci untuk menyamakan persepsi. Di Muhammadiyah, kita selalu mengedepankan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan, dari tingkat ranting hingga pusat,” jelas Ustadz Yandi.

d. Tansithul Harakah (Menggerakkan Gerakan Dakwah)

Karakteristik keempat adalah menggerakkan dan mengaktifkan gerakan dakwah secara terus-menerus. Dakwah tidak boleh statis, tetapi harus dinamis dan bergerak.

Ustadz Yandi mengutip firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran ayat 104 dan 110:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Ayat-ayat ini menjadi motivasi bagi Muhammadiyah untuk terus bergerak dan menggerakkan dakwah.


Semboyan Pergerakan Muhammadiyah

Ustadz Yandi kemudian menyampaikan semboyan pergerakan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah dalam menggerakkan dakwah:

“Tiada hari tanpa memberi, tiada bulan tanpa iuran, tiada tahun tanpa membangun.”

Semboyan ini, jelas Ustadz Yandi, mencerminkan semangat gerakan Muhammadiyah yang terus aktif dan produktif:

  • Tiada hari tanpa memberi: Setiap hari, warga Muhammadiyah didorong untuk memberi manfaat, baik melalui ilmu, harta, maupun tenaga.
  • Tiada bulan tanpa iuran: Iuran rutin (seperti infak dan sedekah) menjadi ciri khas untuk membiayai gerakan dakwah dan amal usaha.
  • Tiada tahun tanpa membangun: Setiap tahun, Muhammadiyah terus membangun, baik fisik (sekolah, rumah sakit, panti asuhan) maupun non-fisik (sumber daya manusia, program dakwah).

Dai Bukan Superman, tapi Supertim

Di penghujung kultum, Ustadz Yandi menyampaikan pesan yang sangat inspiratif:

“Dai bukan Superman, tapi Dai adalah Supertim.”

Maksudnya, dakwah tidak bisa dilakukan sendirian seperti Superman yang serba bisa. Dakwah harus dilakukan secara kolektif, berjamaah, dalam sebuah tim yang solid. Inilah semangat berjamaah yang diajarkan Islam dan dipraktikkan oleh Muhammadiyah.

“Dakwah adalah kerja tim. Tidak ada seorang pun yang bisa melakukannya sendirian. Kita membutuhkan kolaborasi, sinergi, dan kebersamaan. Muhammadiyah dengan seluruh majelis, lembaga, ortom, dan amal usahanya adalah contoh nyata dari Supertim dakwah,” tegas Ustadz Yandi.


Penutup: Menguatkan Tim Dakwah di Bulan Ramadhan

Menutup kultum, Ustadz Yandi Heryandi mengajak jamaah untuk memperkuat tim dakwah di bulan Ramadhan ini.

“Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk memperkuat kebersamaan, meningkatkan sinergi, dan menggerakkan dakwah dengan lebih baik. Jangan jadi Superman yang bekerja sendiri, jadilah bagian dari Supertim yang solid dan produktif. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita umat terbaik yang menyeru kepada kebaikan. Aamiin,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam keduabelas berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak mendapatkan pencerahan tentang empat kekuatan umat, karakteristik dakwah Muhammadiyah, serta semangat kebersamaan dalam berdakwah.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan ke Yandi Heryandi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu tanggapan untuk “Tarawih Malam Keduabelas di Masjid Santun: Ustadz Yandi Heryandi Paparkan Empat Kekuatan Umat dan Karakteristik Dakwah Muhammadiyah”

  1. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Masya Allah. Dakwah pembebasan, pencerahan dan pemberdayaan. Semoga Allah SWT ridha