Tarawih Malam Keempat Belas di Masjid Santun: Ustadz Agus Wahid Paparkan Makna Filosofis Perbedaan Shoum dan Syiam

CIREBON, 2 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam keempat belas Ramadhan 1447 H, Senin (2/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Agus Wahid, S.Ag., menyampaikan kultum yang sangat menarik dengan tema “Perbedaan Shoum dan Syiam serta Makna Filosofis Puasa” .

Jamaah tampak antusias menyimak tausiyah yang mengupas secara mendalam tentang akar kata puasa dalam bahasa Arab serta enam makna filosofis yang terkandung di dalamnya.


Landasan Al-Qur’an: Kisah Maryam

Ustadz Agus Wahid mengawali kultum dengan mengutip firman Allah dalam QS. Maryam ayat 23 yang menjadi dasar pembahasan tentang kata shaum:

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا . فَنَادَاهَا مِن تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا . وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا . فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيًّا

“Maka rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, ‘Wahai, betapa baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.’ Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, ‘Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minumlah dan bersenang hatilah. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.” (QS. Maryam: 23-26)

“Dalam ayat ini, Maryam diperintahkan untuk berpuasa, namun puasa yang dimaksud bukan menahan lapar dan dahaga, melainkan menahan diri untuk tidak berbicara. Ini menunjukkan bahwa kata shaum memiliki makna yang lebih luas dari sekadar puasa dalam pengertian syariat,” jelas Ustadz Agus.


Perbedaan Shoum dan Syiam

Ustadz Agus menjelaskan perbedaan mendasar antara dua kata yang sering digunakan untuk puasa dalam Al-Qur’an:

1. Ash-Shoum (الصوم)

“Ash-Shoum memiliki makna yang lebih luas. Ia berarti puasa dalam pengertian menahan diri secara total, tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan seluruh panca indra dari perbuatan dosa. Inilah puasa dalam arti hakiki, puasanya seluruh anggota tubuh,” papar Ustadz Agus.

2. Ash-Syiam (الصيام)

“Ash-Syiam lebih khusus diartikan sebagai menahan lapar dan dahaga, yaitu puasa dalam pengertian syariat yang kita kenal sehari-hari. Namun demikian, kedua kata ini sering digunakan bergantian dalam Al-Qur’an,” tambahnya.


Enam Makna Filosofis Puasa

Memasuki inti pembahasan, Ustadz Agus memaparkan enam makna filosofis dari kata shaum yang diambil dari berbagai konteks penggunaan kata tersebut dalam bahasa Arab:

1. Soma al-Farus (berdiri tegaknya kuda)

Makna pertama diambil dari istilah soma al-farus, yang berarti kuda yang berdiri tegak dan diam tidak bergerak.

“Dalam konteks puasa, ini mengajarkan bahwa orang yang berpuasa harus tetap produktif dan beraktivitas, tidak boleh bermalas-malasan atau tidur terus. Puasa bukan alasan untuk berhenti berkarya. Kita harus tetap tegak menjalankan aktivitas sehari-hari dengan semangat,” jelas Ustadz Agus.

2. Soma ar-Rih (angin yang sejuk)

Makna kedua diambil dari istilah soma ar-rih, yang berarti angin yang sejuk dan tenang.

“Orang yang berpuasa hendaknya memiliki perasaan yang senang, bahagia, dan menyejukkan bagi orang lain. Jangan karena lapar dan haus, kita menjadi pemarah dan mudah tersinggung. Puasa harus menjadikan kita pribadi yang lebih sejuk, lebih sabar, dan lebih menyenangkan bagi sesama,” tegasnya.

3. Soma an-Nahar (teguh di tengah)

Makna ketiga diambil dari istilah soma an-nahar, yang berarti teguh dan konsisten di tengah-tengah aktivitas.

“Ini mengajarkan kita untuk bersikap tawasuth (moderat, tengah-tengah). Dalam makan, jangan terlalu banyak (berlebihan) dan jangan terlalu sedikit. Dalam shalat, jangan terlalu lama sehingga memberatkan, dan jangan terlalu cepat sehingga kehilangan kekhusyukan. Segala sesuatu harus dilakukan secara proporsional,” papar Ustadz Agus.

4. Soma al-An’am (hewan yang mengeluarkan kotoran)

Makna keempat diambil dari istilah soma al-an’am, yang merujuk pada hewan yang mengeluarkan kotoran.

“Secara metaforis, ini mengajarkan bahwa orang yang berpuasa akan ‘mengeluarkan’ dosa-dosanya, seperti hewan yang mengeluarkan kotoran dari tubuhnya. Puasa yang berkualitas akan membersihkan jiwa kita dari kotoran dosa, sehingga kita keluar dari Ramadhan dalam keadaan suci dan bersih,” jelas Ustadz Agus.

5. Soma ar-Rajul (orang yang membawa pohon tumbang)

Makna kelima diambil dari istilah soma ar-rajul, yang berarti orang yang senantiasa membawa pohon-pohon yang tumbang.

“Ini adalah gambaran orang yang berpuasa akan selalu mendapatkan limpahan rahmat di alam akhirat kelak. Seperti orang yang membawa kayu, ia akan menuai hasil dari apa yang ia bawa. Begitu pula orang yang berpuasa, ia akan menuai rahmat dan pahala yang melimpah dari Allah,” paparnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang keutamaan puasa:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: kegembiraan ketika ia berbuka puasa, dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

6. Soma anisy-syai’i (mencegah, menahan sesuatu)

Makna keenam adalah makna yang paling mendasar, yaitu mencegah atau menahan sesuatu.

“Ini adalah inti dari puasa: menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dan mengurangi pahalanya. Menahan lapar, menahan dahaga, menahan hawa nafsu, menahan amarah, menahan lisan dari perkataan sia-sia. Puasa adalah latihan menahan diri,” tegas Ustadz Agus.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)


Penutup: Memaknai Puasa Secara Holistik

Menutup kultum, Ustadz Agus Wahid mengajak jamaah untuk memaknai puasa secara lebih holistik, tidak sekadar menahan lapar dan dahaga.

“Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan untuk menjadi pribadi yang lebih baik: tetap produktif, bersikap sejuk, proporsional dalam segala hal, membersihkan diri dari dosa, meraih rahmat Allah, dan senantiasa menahan diri dari hal-hal yang tidak diridhai-Nya. Mari kita jadikan sisa Ramadhan ini untuk meningkatkan kualitas puasa kita, sehingga kita keluar sebagai pribadi yang benar-benar bertakwa. Aamiin,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam keempat belas berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak mendapatkan pencerahan baru tentang kedalaman makna puasa melalui penjelasan etimologis dan filosofis yang disampaikan Ustadz Agus Wahid.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *