Tarawih Malam Keenam di Masjid Ad-Din UMADA: Ustadz Yandi Heryandi Paparkan Puasa Ramadhan dan Manajemen Waktu

CIREBON, 22 Februari 2026 – Masjid Ad-Din Umada Kalitanjung, Kota Cirebon, dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam keenam Ramadhan 1447 H, Ahad (22/2/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., menyampaikan kultum yang mendalam dengan tema “Puasa Ramadhan dan Manajemen Waktu” .

Jamaah yang hadir tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang betapa berharganya waktu dan bagaimana puasa Ramadhan mengajarkan kita untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.


Waktu: Nikmat Agung yang Sering Terlupakan

Ustadz Yandi Heryandi mengawali kultum dengan menjelaskan betapa agungnya nikmat waktu dalam perspektif Islam. Beliau mengingatkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersumpah demi waktu dalam beberapa ayat Al-Qur’an, menunjukkan betapa pentingnya waktu bagi manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1-2)

“Allah bersumpah demi waktu. Dalam ilmu tafsir, apabila Allah bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan betapa agung dan pentingnya sesuatu tersebut. Waktu adalah karunia yang amat berharga, bahkan termasuk pokok-pokok nikmat yang paling mulia,” papar Ustadz Yandi.


Tiga Karakteristik Waktu

Ustadz Yandi menjelaskan tiga karakteristik waktu yang tidak dimiliki oleh makhluk lain:

1. Waktu Cepat Berlalu

“Coba tanyakan kepada seseorang, ‘Berapa usia Anda?’ Biasanya ia merasa lebih muda dari usia sebenarnya. Ini membuktikan bahwa waktu terasa begitu cepat berlalu. Seorang penyair Mesir, Ahmad Syauqi, berkata dalam syairnya:

وَالْعَصْرُ أَسْرَعُ مَا يَمْضِي عَلَى الْعَجِلِ

“Waktu itu paling cepat berlalu bagi orang yang tergesa-gesa.”

2. Waktu yang Telah Berlalu Tidak Dapat Kembali

“Hari ini tanggal 22 Ramadhan 1447 H. Apakah akan datang lagi hari yang sama persis dengan hari ini? Tidak. Ia tidak akan pernah kembali. Waktu yang telah berlalu tidak dapat diganti. Inilah yang membedakan waktu dengan nikmat lainnya. Harta bisa dicari lagi, kesehatan bisa dipulihkan, tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali,” jelas Ustadz Yandi.

3. Waktu adalah Karunia yang Amat Mahal

“Dalam kitab Qimatu Zaman dijelaskan bahwa waktu termasuk ajallu uushulin ni’am (pokok-pokok nikmat yang paling mulia). Tidak ada sesuatu pun yang dapat menandingi kemuliaan waktu,” tegasnya.


Puasa Ramadhan dan Manajemen Waktu

Memasuki inti pembahasan, Ustadz Yandi menjelaskan bahwa ibadah puasa sangat erat kaitannya dengan manajemen waktu. Puasa adalah serangkaian amalan yang terikat oleh waktu, sehingga melatih kita untuk menghargai dan mengatur waktu dengan baik.

1. Niat Puasa: Dimulai Sebelum Waktu Subuh

Ustadz Yandi mengutip hadits tentang kewajiban niat puasa sejak malam hari:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang belum berniat puasa pada malam hari, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Nasa’i, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

“Ini mengajarkan kita bahwa ibadah ini sudah dimulai dengan perencanaan. Kita harus menentukan niat sejak malam, artinya kita sudah mempersiapkan diri untuk esok hari. Ini adalah bentuk manajemen waktu yang baik,” jelasnya.

2. Waktu Sahur: Di Penghujung Malam

Sahur memiliki waktu yang telah ditentukan, yaitu di penghujung malam mendekati subuh. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menganjurkan untuk mengakhirkan sahur. Dalam hadits Thabrani disebutkan:

ثَلَاثٌ مِنْ أَخْلَاقِ النُّبُوَّةِ: تَعْجِيلُ الْإِفْطَارِ وَتَأْخِيرُ السَّحُورِ وَوَضْعُ الْيَمِينِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلَاةِ

“Ada tiga perkara yang termasuk akhlak kenabian: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.”

“Perhatikan, ketika kita ingin sahur, kita harus memperhatikan waktunya. Tidak boleh terlalu awal, juga tidak boleh melebihi waktu imsak. Ini melatih kita untuk disiplin waktu,” tambah Ustadz Yandi.

3. Waktu Berbuka: Menyegerakan saat Waktu Tiba

Ketika waktu berbuka telah tiba, kita dianjurkan untuk menyegerakan berbuka. Ini juga menunjukkan kepatuhan kita terhadap ketentuan waktu yang telah Allah tetapkan.


Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

Ustadz Yandi kemudian menyampaikan hadits yang sangat terkenal tentang pentingnya memanfaatkan waktu sebelum semuanya terlambat. Beliau mengutip sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam :

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan waktu hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Hakim)

Ustadz Yandi menjelaskan makna dari setiap poin dalam hadits ini:

1. Waktu Muda Sebelum Tua

“Di masa muda, kita memiliki kekuatan, semangat, dan produktivitas yang tinggi. Manfaatkan untuk beribadah, menuntut ilmu, dan berbuat kebaikan sebelum datang masa tua yang lemah dan terbatas.”

2. Waktu Sehat Sebelum Sakit

“Kesehatan adalah modal utama untuk beribadah dan berkarya. Ketika sehat, kita bisa shalat berdiri, berpuasa, bersedekah dengan harta. Gunakan sebelum sakit datang membatasi gerak kita.”

3. Waktu Kaya Sebelum Miskin

“Ketika kita memiliki harta, bersegeralah berinfak, bersedekah, dan beramal jariyah. Jangan tunggu miskin, karena saat miskin keinginan untuk berbuat baik terhalang oleh keterbatasan.”

4. Waktu Luang Sebelum Sibuk

“Waktu luang adalah nikmat yang sering dilalaikan. Banyak orang memiliki waktu luang tetapi tidak memanfaatkannya untuk hal bermanfaat. Gunakan sebelum datang kesibukan yang menyita waktu.”

5. Waktu Hidup Sebelum Mati

“Ini adalah yang paling utama. Kehidupan adalah kesempatan untuk beramal. Setelah mati, tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri. Maka gunakan hidupmu sebaik-baiknya sebelum arah menjemput.”


Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir

Ustadz Yandi kemudian menjelaskan bahwa usia manusia jauh lebih pendek daripada usia umat-umat terdahulu. Namun, rahmat Allah begitu luas sehingga memberikan kesempatan kepada kita untuk berusia panjang dengan amalan yang pahalanya terus mengalir meskipun kita telah meninggal.

Beliau mengutip hadits riwayat Ibnu Majah:

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، أَوْ مُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ، يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

“Sesungguhnya amalan dan kebaikan yang dapat menyusul seorang mukmin setelah meninggal adalah: (1) ilmu yang ia ajarkan dan ia sebarkan; (2) anak shalih yang ia tinggalkan; (3) mushaf yang ia wariskan; (4) masjid yang ia bangun; (5) rumah untuk musafir yang ia bangun; (6) sungai yang ia alirkan; (7) sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika masih sehat dan masih hidup akan menyusulnya setelah ia meninggal.” (HR. Ibnu Majah)

“Ini adalah kabar gembira bagi kita. Meskipun usia kita terbatas, kita bisa memperpanjang amal dengan melakukan hal-hal yang pahalanya terus mengalir. Mari kita manfaatkan Ramadhan ini untuk menanam investasi akhirat sebanyak-banyaknya,” ajak Ustadz Yandi.


Penutup: Jadikan Ramadhan sebagai Momentum Manajemen Waktu

Menutup kultum, Ustadz Yandi Heryandi mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki manajemen waktu.

“Ramadhan mengajarkan kita untuk disiplin waktu: kapan harus sahur, kapan harus berhenti makan, kapan harus berbuka. Ini adalah latihan yang sangat baik. Setelah Ramadhan, semoga kita menjadi pribadi yang lebih menghargai waktu dan memanfaatkannya untuk hal-hal bermanfaat,” pungkasnya.

Beliau juga mengingatkan hadits tentang pentingnya memanfaatkan waktu sehat, muda, kaya, luang, dan hidup sebelum semuanya berakhir.

Salat Tarawih malam keenam berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang betapa berharganya waktu dan bagaimana seharusnya mereka memanfaatkannya, terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan ke Yandi Heryandi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu tanggapan untuk “Tarawih Malam Keenam di Masjid Ad-Din UMADA: Ustadz Yandi Heryandi Paparkan Puasa Ramadhan dan Manajemen Waktu”

  1. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga tapi harus mampu membentuk karakter umat yang berakhlak mulia, salah satunya disiplin dalam memanfaatkan waktu