Abstrak
Manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan tanpa tujuan, melainkan memiliki tugas-tugas eksistensial yang harus dijalankan selama hidup di muka bumi. Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 1 (AIK1) di Universitas Muhammadiyah Cirebon mengkaji secara mendalam tiga peran utama manusia, yaitu sebagai khalifah (pemimpin di bumi), sebagai hamba Allah (‘abdullah), serta sebagai makhluk yang kelak akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya di akhirat. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis ketiga tugas tersebut berdasarkan QS. Al-Baqarah: 30, QS. Adz-Dzariyat: 56, dan hadis riwayat Bukhari-Muslim tentang kepemimpinan. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan tafsir tematik. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa ketiga tugas tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan harus dijalankan secara seimbang. Kesadaran sebagai khalifah mendorong manusia untuk memakmurkan bumi dengan keadilan; kesadaran sebagai hamba melandasi segala aktivitas dengan niat ibadah; dan kesadaran akan pertanggungjawaban di akhirat membentuk pribadi yang jujur, amanah, serta berorientasi pada ridha Allah. Implikasi dari pemahaman ini sangat relevan bagi mahasiswa Muhammadiyah dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bernafaskan Islam.
Kata Kunci: Tugas manusia, khalifah, hamba Allah, pertanggungjawaban akhirat, AIK1, Universitas Muhammadiyah Cirebon.
Pendahuluan
Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 1 (AIK1) merupakan salah satu mata kuliah wajib yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Cirebon. Tujuan utamanya adalah membekali mahasiswa dengan pemahaman yang komprehensif tentang ajaran Islam serta nilai-nilai Kemuhammadiyahan. Di antara topik sentral dalam AIK1 adalah pembahasan tentang tugas manusia di muka bumi. Topik ini menjadi fondasi penting karena menyangkut hakikat penciptaan manusia, perannya di dunia, serta tanggung jawabnya kelak di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam telah menjelaskan secara gamblang tentang mengapa manusia diciptakan dan apa yang harus ia lakukan. Setidaknya ada tiga ayat kunci yang menjadi rujukan utama, yaitu QS. Al-Baqarah (2): 30 tentang pengangkatan manusia sebagai khalifah, QS. Adz-Dzariyat (51): 56 tentang tujuan penciptaan manusia untuk beribadah, serta hadis Rasulullah Saw. tentang setiap manusia adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban. Artikel ini akan mengupas ketiga tugas tersebut secara sistematis, disertai teks Arab, terjemahan, serta relevansinya bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon.
Pembahasan
A. Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi
QS. Al-Baqarah (2): 30
Teks Arab:
۞ وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah: 30)
Penjelasan:
Ayat ini merupakan salah satu ayat paling fundamental yang menjelaskan status manusia di bumi. Kata khalifah secara bahasa berarti pengganti atau pemimpin. Dalam konteks ini, manusia ditunjuk oleh Allah sebagai wakil-Nya di bumi untuk mengelola, menjaga, dan memakmurkan alam semesta. Meskipun malaikat sempat mempertanyakan potensi kerusakan yang mungkin dilakukan manusia, Allah menjawab dengan firman-Nya, “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Ini menunjukkan bahwa Allah telah membekali manusia dengan potensi akal, nurani, dan kebebasan memilih untuk menjalankan amanah kekhalifahan.
Tugas kekhalifahan tidak berarti manusia boleh bertindak sewenang-wenang terhadap alam maupun sesama makhluk. Sebaliknya, kekhalifahan adalah amanah berat yang menuntut tanggung jawab moral, keadilan, ilmu pengetahuan, serta kepedulian sosial. Dalam konteks mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon, menjadi khalifah berarti belajar dengan sungguh-sungguh, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat, serta menjaga lingkungan kampus agar tetap bersih, aman, dan produktif.
B. Manusia sebagai Hamba Allah (‘Abdullah)
QS. Adz-Dzariyat (51): 56
Teks Arab:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Penjelasan:
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Kata liya‘budun berasal dari kata ‘abada yang berarti mengabdi, tunduk, dan merendahkan diri. Ibadah dalam pengertian luas tidak terbatas pada ritual seperti salat, puasa, zakat, dan haji, tetapi mencakup seluruh aktivitas hidup yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah. Bekerja, belajar, berdakwah, berdagang, bahkan makan dan minum dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk menaati perintah Allah dan menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan.
Sebagai hamba Allah, manusia harus menyadari bahwa dirinya bukanlah tuan atas dirinya sendiri. Segala sesuatu yang dimiliki—harta, kesehatan, waktu, ilmu, dan kekuasaan—adalah titipan dari Allah yang harus digunakan sesuai dengan petunjuk-Nya. Dalam perspektif Kemuhammadiyahan, kesadaran sebagai hamba Allah mendorong mahasiswa untuk menjadikan setiap aktivitas akademik dan non-akademik sebagai bentuk pengabdian. Kuliah bukan sekadar mencari nilai atau gelar, tetapi merupakan ibadah ilmiah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
C. Manusia sebagai Makhluk yang Akan Dipertanggungjawabkan di Akhirat
Hadis tentang Pertanggungjawaban (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Teks Arab:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya:
“Dari Ibnu Umar RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, ‘Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penjelasan:
Hadis ini menegaskan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dalam lingkup tanggung jawabnya masing-masing. Seorang mahasiswa adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, pemimpin bagi waktu dan potensinya, bahkan pemimpin bagi lingkungan sekitarnya. Sebagai pemimpin, ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di hari akhir kelak. Pertanggungjawaban itu mencakup segala sesuatu: bagaimana ia menggunakan waktu muda, ilmunya, hartanya, anggota tubuhnya, serta bagaimana ia memperlakukan orang lain dan lingkungan.
Kesadaran akan adanya hari pertanggungjawaban (yaumul hisab) merupakan fondasi moral yang sangat kuat. Seseorang yang yakin bahwa setiap perbuatannya akan ditimbang dan dibalas akan cenderung berbuat baik dan menjauhi kejahatan. Bagi mahasiswa AIK1 di Universitas Muhammadiyah Cirebon, pemahaman ini harus diinternalisasi sehingga melahirkan sikap jujur dalam ujian, disiplin dalam belajar, adil dalam berorganisasi, serta peduli terhadap sesama. Tidak ada perbuatan yang sia-sia karena semuanya tercatat dan akan dipertanggungjawabkan.
Keterkaitan Ketiga Tugas Manusia
Ketiga tugas di atas—khalifah, hamba Allah, dan makhluk yang bertanggung jawab—bukanlah peran yang terpisah atau saling bertentangan. Sebaliknya, ketiganya merupakan satu kesatuan utuh yang harus dijalankan secara simultan:
- Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang mengelola bumi. Namun, kekuasaan itu harus dijalankan dalam koridor penghambaan kepada Allah, bukan atas dasar hawa nafsu.
- Sebagai hamba Allah, manusia tunduk dan patuh kepada syariat. Ketaatan ini justru menjadi modal utama dalam menjalankan tugas kekhalifahan yang adil dan bijaksana.
- Kesadaran akan pertanggungjawaban di akhirat menjadi pengendali (controller) agar kekhalifahan dan penghambaan tidak menyimpang. Tanpa kesadaran ini, kekhalifahan dapat berubah menjadi kezaliman, dan ibadah dapat kehilangan maknanya.
Dalam konteks Universitas Muhammadiyah Cirebon, integrasi ketiga tugas ini diwujudkan melalui implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang Islami: pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dididik untuk menjadi khalifah yang berilmu, hamba yang taat, dan pribadi yang bertanggung jawab di dunia maupun di akhirat.
Penutup
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Islam memberikan pandangan yang komprehensif tentang tugas manusia di muka bumi. Melalui QS. Al-Baqarah: 30, Allah menetapkan manusia sebagai khalifah yang bertugas memakmurkan bumi dengan keadilan dan ilmu pengetahuan. Melalui QS. Adz-Dzariyat: 56, Allah menjelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya dalam makna yang luas. Sementara itu, melalui hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw. mengingatkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya di akhirat kelak.
Ketiga tugas ini harus dijalankan secara seimbang dan terintegrasi. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon sebagai bagian dari civitas akademika yang berlandaskan nilai-nilai Islam dituntut untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ketiga peran tersebut dalam setiap aspek kehidupannya. Dengan demikian, mereka tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga selamat dan beruntung di akhirat.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahnya. (2019). Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (t.t.). Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Thauq an-Najah.
Muslim bin al-Hajjaj. (t.t.). Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi.
Tim Dosen AIK Universitas Muhammadiyah Cirebon. (2023). Modul AIK1: Hakikat dan Tugas Manusia. Cirebon: UMC Press.
Shihab, M. Quraish. (2017). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.


Tinggalkan Balasan ke Zulfaida Sabilah Batalkan balasan