CIREBON – 11 Januari 2026. Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H, Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Kejaksan menggelar pengajian khusus dengan menghadirkan Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., sebagai narasumber utama. Acara yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, beserta sejumlah pimpinan lainnya.

Dalam sambutannya, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, menegaskan pentingnya mempersiapkan diri secara lahir dan batin untuk menyambut bulan yang penuh berkah ini. “Ramadhan adalah momentum untuk meningkatkan ketakwaan dan amal saleh. Mari kita sambut dengan ilmu dan niat yang tulus,” ujarnya.

Landasan Spiritual Puasa: Meraih Ketakwaan
Ustadz Yandi memulai pemaparan dengan mengutip landasan utama ibadah puasa dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183)
Beliau menekankan bahwa tujuan inti puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa, yang tercermin dalam seluruh aspek kehidupan.
Hakikat dan Keistimewaan Ibadah Puasa
Ustadz Yandi kemudian menjelaskan keunikan ibadah puasa dengan merujuk pada sebuah Hadis Qudsi riwayat Imam Al-Bukhari, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan langsung membalasnya.” (H.R. Al-Bukhari)
Dari hadis agung ini, beliau mengurai dua kelebihan utama puasa:
- Ibadah yang Tersembunyi (Rahasia): Puasa sangat sulit disusupi penyakit riya’ (pamer) karena hanya Allah yang mengetahui kejujuran hamba-Nya dalam menahan diri.
- Sarana Ampuh Menundukkan Syahwat: Puasa melatih pengendalian diri dari hawa nafsu, yang menjadi fondasi ketakwaan.

Puasa Berkualitas: Totalitas dalam Ibadah
Lebih lanjut, Ustadz Yandi menegaskan bahwa puasa berkualitas (shaum al-kamil) bukan sekadar menahan lapar, dahaga, dan hubungan intim suami-istri. “Puasa yang sesungguhnya adalah puasanya seluruh anggota tubuh,” tegasnya, mengutip sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mata, telinga, lisan, tangan, dan kaki turut ‘berpuasa’ dari segala hal yang tidak bermanfaat dan maksiat. Seorang yang berpuasa harus tetap berinteraksi dengan manusia dalam kebaikan, menjauhi hal sia-sia, dan memperbanyak amal saleh dengan kejujuran lahir dan batin.
Fadhilah dan Keutamaan Ibadah di Bulan Ramadhan
Dalam sesi berikutnya, Ustadz Yandi memotivasi jamaah dengan menguraikan beberapa keutamaan (fadhilah) besar di bulan Ramadhan:
- Pintu Surga Ar-Rayyan: Ahli puasa akan masuk surga melalui pintu khusus bernama Ar-Rayyan (H.R. Al-Bukhari).
- Pengampunan Dosa: Orang yang berpuasa dengan penuh iman dan mengharap pahala (ihtisab), akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (H.R. Al-Bukhari & Muslim).
- Keutamaan Shalat Malam: Orang yang menunaikan shalat malam (tarawih/qiyamul lail) di bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
- Malam Lailatul Qadar: Di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Panduan Praktis: Adab Sahur dan Berbuka
Sebagai bekal praktis, Ustadz Yandi memberikan panduan ringkas tentang adab-adab penting selama Ramadhan:
1. Adab Sahur:
- Hukum dan Keutamaan: Makan sahur adalah sunnah yang penuh berkah. Rasulullah bersabda, “Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (H.R. Muslim).
- Waktu: Mengakhiri sahur menjelang terbit fajar (waktu Imsak).
- Momentum Istighfar: Waktu sahur (sepertiga malam akhir) adalah waktu utama untuk memohon ampunan, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 17 tentang sifat orang bertakwa yang “beristighfar di waktu sahur”.
2. Adab Berbuka Puasa:
- Menyegerakan: Segera berbuka setelah matahari terbenam (masuk waktu Maghrib).
- Memperbanyak Doa: Saat menjelang berbuka adalah waktu mustajab untuk berdoa.
- Aktivitas Inti: Memperbanyak membaca, menghafal, dan tadarus Al-Qur’an.
Penutup: Ramadhan Bulan Al-Qur’an
Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz Yandi mengajak seluruh jamaah untuk membuat target dan rencana konkret dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, merujuk pada Q.S. Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)…”
“Oleh karena itu, mari kita targetkan peningkatan tilawah, tadarus, dan pemahaman Al-Qur’an di bulan suci ini. Dengan persiapan ilmu, niat, dan rencana yang matang, insya Allah kita dapat meraih gelar takwa di penghujung Ramadhan,” pungkas Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., yang disambut takbir dan hamdalah oleh seluruh jamaah.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh ustadz Yandi, untuk kesuksesan dan keberkahan Ramadhan tahun ini.


Tulis Balasan ke PUJI NIRMO Batalkan balasan