Bu Siti, Tiga Anak, dan Satu Amplop Honorarium

·

Editor:

|

6 menit

|

📋

Dibaca: 44 x

Cerpen

Ilustrasi Arofah Firdaus/AI

Amplop honorarium itu terlalu tipis untuk membayar cicilan bank dan biaya sekolah ketiga anaknya. Seusai sujud panjang, Bu Siti mengambil selembar karton dan mulai menulis sesuatu.

Oleh: Hendra Apriyadi

PONSEL di dalam tas Bu Siti bergetar beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi.

Ia baru saja merapikan kartu-kartu bergambar di atas meja ketika layar ponselnya menyala. Sebuah pemberitahuan dari bank muncul di sana. Cicilan bulan ini telah jatuh tempo.

Bu Siti membaca pesan itu dua kali. Setelah itu, ia mematikan layar dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

Dari halaman sekolah terdengar langkah-langkah kecil berlarian. Suara anak-anak semakin dekat. Bu Siti menarik napas, merapikan kerudung, lalu berdiri di depan pintu kelas.

“Selamat pagi, anak-anak!”

“Selamat pagi, Bu Siti!” jawab mereka hampir bersamaan.

Anak-anak memasuki ruangan dengan wajah riang. Ada yang membawa kotak bekal bergambar kelinci, ada yang menggenggam mobil-mobilan, dan ada pula yang langsung menghampiri Bu Siti untuk memamerkan pita rambut barunya.

Bu Siti menyambut mereka satu per satu.

Tidak seorang pun melihat pemberitahuan bank yang baru saja dibacanya. Tidak ada pula yang tahu bahwa sejak bangun tidur, pikirannya dipenuhi biaya sekolah ketiga anaknya.

Pagi itu, Bu Siti mengajak murid-murid menggambar cita-cita.

“Kalian ingin menjadi apa kalau sudah besar?” tanyanya.

“Aku mau jadi dokter!” seru Hana.

“Polisi!” sahut Raka.

“Aku mau jadi guru seperti Bu Siti,” kata seorang anak dari bangku belakang.

Kelas segera dipenuhi goresan krayon. Ada gambar rumah sakit berwarna merah muda, pesawat dengan sayap tidak sama panjang, mobil polisi beroda lima, dan ruang kelas yang dipenuhi lingkaran-lingkaran kecil.

Bu Siti berjalan dari satu meja ke meja lainnya. Ia membantu seorang anak memegang krayon, menghapus garis yang salah, dan membacakan nama-nama pekerjaan yang belum dapat dieja murid-muridnya.

“Kalau cita-cita Bu Siti apa?” tanya Hana tiba-tiba.

Tangan Bu Siti berhenti di atas selembar kertas.

Ia hampir menjawab bahwa cita-citanya sederhana: melihat ketiga anaknya tetap bersekolah. Namun, kalimat itu terasa terlalu berat untuk disampaikan kepada murid-murid kelompok bermain.

“Cita-cita Ibu adalah melihat kalian tumbuh menjadi anak baik dan pintar,” jawabnya.

Hana mengangguk, lalu kembali menggoreskan krayon.

Menjelang siang, satu per satu murid dijemput orang tuanya. Suara kelas perlahan menghilang. Tinggallah Bu Siti bersama kursi-kursi kecil, potongan kertas, dan serpihan krayon yang berserakan di lantai.

Seorang anak berlari kembali ke dalam kelas.

“Bu Siti!”

Bu Siti menoleh. Anak itu menyerahkan sebuah gambar, kemudian berlari menghampiri ibunya yang menunggu di depan pagar.

Di atas kertas tersebut tampak sosok perempuan berkerudung dengan senyum yang sangat lebar. Di sampingnya terdapat beberapa anak kecil bergandengan tangan. Huruf-huruf yang belum rapi tertulis di bagian bawah:

BU GURU SITI

Bu Siti memandangi gambar itu cukup lama.

Senyum pada wajah sosok tersebut jauh lebih lebar daripada senyum yang sanggup ia berikan kepada dirinya sendiri akhir-akhir ini.

“Bu, ini honorarium bulan ini.”

Suara kepala sekolah membuyarkan lamunannya. Sebuah amplop putih diserahkan kepadanya.

“Terima kasih, Bu,” jawab Bu Siti.

Setelah kepala sekolah meninggalkan ruangan, ia membuka amplop itu dan menghitung isinya. Tidak banyak. Bahkan jumlahnya belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan yang menunggu di rumah.

Ia mengambil secarik kertas dari dalam tas. Di sana terdapat beberapa catatan: cicilan bank, biaya sekolah anak sulung, kebutuhan buku anak kedua, dan iuran sekolah si bungsu.

Bu Siti menghitungnya kembali.

Hasilnya tetap sama.

Jika cicilan dibayar, biaya sekolah anak sulung harus ditunda. Jika biaya sekolah didahulukan, pemberitahuan dari bank akan datang lagi. Adapun kebutuhan anak kedua dan si bungsu juga tidak mungkin terus diabaikan.

Ia memasukkan uang itu kembali ke dalam amplop, kemudian menyelipkan gambar pemberian muridnya di antara lembaran uang.

Sore harinya, anak sulung Bu Siti telah menunggu di ruang tengah. Seragam putih abu-abunya belum diganti. Di tangannya terdapat selembar surat dari sekolah.

“Surat apa?” tanya Bu Siti.

Anak itu menyerahkannya tanpa menjawab. Bu Siti membaca bagian yang diberi garis bawah. Batas pembayaran tinggal dua hari.

“Kalau belum ada, tidak usah dipaksakan, Bu,” kata anaknya. “Besok aku bisa bicara kepada wali kelas.”

Bu Siti menatap wajah anak sulungnya. Ia tahu kalimat itu tidak berarti anaknya ingin berhenti sekolah. Anak itu hanya tidak ingin menambah bebannya.

“Kamu tetap masuk sekolah seperti biasa,” kata Bu Siti.

“Tapi, Bu—”

“Urusan biaya, biar Ibu yang memikirkan.”

Anaknya menunduk. “Ibu tidak capai?”

Pertanyaan itu membuat Bu Siti terdiam.

Tentu ia capai. Ada hari-hari ketika ia ingin tidur lebih lama dan membiarkan segala urusan menunggu. Ada malam-malam ketika ia berharap seseorang datang dan berkata bahwa ia tidak perlu menanggung semuanya sendirian.

Namun, orang yang dahulu diharapkannya ikut menjaga keluarga telah pergi.

Suami Bu Siti pernah sakit selama bertahun-tahun. Tabungan mereka habis sedikit demi sedikit untuk pengobatan. Beberapa barang dijual. Sejumlah pinjaman diambil. Selama itu, Bu Siti merawat suaminya tanpa menghitung berapa banyak tenaga dan air mata yang telah dikeluarkan.

Suaminya akhirnya sembuh.

Bu Siti mengira kesembuhan itu akan menjadi awal kehidupan baru bagi keluarga mereka. Ternyata, tidak lama kemudian, suaminya pergi meninggalkan dirinya bersama ketiga anak mereka.

Sejak saat itu, Bu Siti belajar bahwa seseorang dapat sembuh dari penyakit, tetapi belum tentu pulih dari keinginannya untuk meninggalkan tanggung jawab.

“Ibu baik-baik saja,” jawab Bu Siti akhirnya.

Anak sulungnya tidak langsung percaya. Namun, ia mengangguk dan membawa surat itu ke kamar.

Malam semakin larut. Anak kedua dan si bungsu telah tidur. Bu Siti masih duduk di depan meja dengan amplop honorarium, surat dari sekolah, dan buku catatan utang.

Ia mencoba menghitung sekali lagi, seolah-olah angka-angka itu mungkin berubah karena rasa lelahnya.

Tetap tidak cukup.

Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari sahabatnya yang sedang menyelesaikan pendidikan doktor.

Hari ini aku hanya mampu menulis satu halaman. Rasanya sedikit sekali, tetapi setidaknya aku tidak berhenti.

Bu Siti membacanya berulang-ulang.

Setidaknya aku tidak berhenti.

Ia mengambil air wudu, lalu membentangkan sajadah. Dalam sujudnya, semua ketegaran yang sejak pagi dipertahankannya perlahan runtuh.

“Ya Allah, aku tidak meminta hidup tanpa kesulitan,” bisiknya. “Tunjukkanlah jalan agar anak-anakku tidak kehilangan kesempatan untuk belajar.”

Air matanya jatuh ke atas sajadah.

Setelah salat, Bu Siti tidak segera tidur. Ia mengambil selembar karton bekas dari lemari dan sebuah spidol hitam. Perlahan ia menulis:

BELAJAR MEMBACA DAN BERHITUNG SORE HARI

Tulisan itu belum menjadi jawaban atas seluruh persoalannya. Belum ada murid yang mendaftar. Belum ada tambahan penghasilan. Cicilan bank pun masih menunggu.

Namun, malam itu Bu Siti memutuskan untuk tidak hanya menunggu pertolongan datang.

Keesokan paginya, ia membawa karton tersebut ke sekolah.

“Bu, boleh saya menempelkan ini di dekat pintu gerbang?” tanyanya kepada kepala sekolah. “Saya ingin membuka bimbingan belajar kecil-kecilan sepulang mengajar.”

Kepala sekolah membaca tulisan itu, lalu mengangguk.

“Silakan, Bu Siti. Nanti saya bantu sampaikan kepada orang tua murid.”

Bu Siti menempelkan karton itu di dinding dekat gerbang. Kertasnya sedikit miring, tetapi tulisannya dapat terbaca dengan jelas.

Tidak lama kemudian, seorang wali murid berhenti di depannya.

“Bu Siti membuka bimbingan membaca?”

“Iya, Bu. Sore hari.”

“Anak tetangga saya belum lancar membaca. Nanti saya sampaikan kepada ibunya.”

Bu Siti mengangguk. “Terima kasih, Bu.”

Bel masuk berbunyi. Anak-anak berlarian menuju kelas. Bu Siti kembali berdiri di depan pintu dengan kerudung yang rapi dan senyum yang sama seperti kemarin.

Cicilan banknya belum lunas. Biaya sekolah ketiga anaknya masih harus diperjuangkan. Tidak ada keajaiban yang tiba-tiba menghapus semua kesulitan.

Namun, pagi itu, sudah ada satu jalan kecil yang terbuka.

“Selamat pagi, anak-anak!”

“Selamat pagi, Bu Siti!”

Suara mereka memenuhi ruangan.

Bu Siti memasuki kelas. Di belakangnya, karton bertuliskan bimbingan membaca dan berhitung bergerak perlahan tertiup angin pagi. (#)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 responses to “Bu Siti, Tiga Anak, dan Satu Amplop Honorarium”

  1. Avatar Master zoe
    Master zoe

    Entahlah, sy mrs kehidupan ekonomi Bu Siti adalah representasi kehidupan ekonomi hampir sebagian warga persyarikatan (maaf klo slh). Tapi sy ttp optimis bhw warga persyarikatan adalah org2 yg sdh diberikan Tuhan mentalitas setangguh karang. Ombak sebesar apapun ga akan bs meruntuhkannya.

  2. Avatar Moch Sidik Sadali
    Moch Sidik Sadali

    Jalan ceritanya kurang jelas, tidak ada kelanjutannya. Kita yang membaca sedikit kecewa. Alur ceritanya sudah bagus dan terarah. Hanya ada sedikit rasa kekecewaan.
    Apakah cerita ini akan ada kelanjutannya.
    Kami menunggu kelanjutannya.
    Terima kasih.