Muhammadiyah Luncurkan Logo Tanwir dan Milad ke-114: Daun Kelor, Simbol Ketangguhan dan Persatuan Bangsa

·

Editor:

|

5 menit

|

📋

Dibaca: 18 x

PIMPINAN Pusat Muhammadiyah resmi meluncurkan Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah dalam acara yang digelar di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu, 12 September 2026. Logo tersebut mengusung daun kelor sebagai elemen utama, tanaman sederhana yang kaya manfaat dan lekat dengan kehidupan masyarakat Palu, Sulawesi Tengah — lokasi penyelenggaraan Tanwir Muhammadiyah 2026.

Peluncuran logo dipimpin langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, yang menyampaikan bahwa pemilihan daun kelor tidak sekadar pertimbangan estetika, melainkan mengandung filosofi mendalam yang merepresentasikan karakter gerakan Muhammadiyah.

Filosofi Daun Kelor: Sederhana, Tangguh, dan Bermanfaat

Haedar Nashir menjelaskan tiga makna utama di balik pemilihan daun kelor sebagai simbol logo. Pertama, kelor melambangkan kesederhanaan dan ketangguhan. Tanaman ini mampu tumbuh di berbagai kondisi tanpa membutuhkan perawatan rumit, mencerminkan semangat gerakan Muhammadiyah yang bersahaja namun tetap kuat dan adaptif.

“Dalam konteks pergerakan kita maupun di Tanwir dan Milad ini harus mampu menjadi momentum kita memperkuat kesederhanaan yang punya value, punya tema. Bukan kesederhanaan sebagai populisme,” jelas Haedar.

Kedua, daun kelor dimaknai sebagai simbol keluasan wawasan dan pergerakan. Haedar memaknai ulang pepatah lama “dunia tak selebar daun kelor” justru sebagai pertanda luasnya jangkauan dakwah dan pemikiran Muhammadiyah. “Daun kelor memiliki arti keluasan yang bermakna akan keluasan wawasan, keluasan pikiran, keluasan pergaulan, dan keluasan jelajah pergerakan kita,” terangnya.

Ketiga, kelor menjadi lambang kesejahteraan dan kemakmuran karena kaya akan manfaat gizi serta diolah menjadi beragam kuliner Nusantara. “Pohon kelor adalah pohon keajaiban karena dia adalah lambang kesejahteraan dan memakmurkan,” ucap Haedar.

Dalam rancangan visualnya, helai-helai daun kelor dipadukan secara dinamis dengan angka 114 yang menandai usia Muhammadiyah. Angka tersebut seolah tumbuh dari satu kesatuan daun, sementara pada bagian puncaknya ditempatkan kaligrafi nama Muhammadiyah.

Palu: Dari Bencana Menuju Ketangguhan

Pemilihan daun kelor tidak lepas dari keterkaitannya dengan Palu sebagai tuan rumah Tanwir 2026. Palu dan sejumlah daerah di Sulawesi Tengah pernah menghadapi gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi pada 2018. Bencana itu meninggalkan kerusakan besar, tetapi kemudian juga melahirkan pengalaman panjang tentang pemulihan, daya tahan, dan kerja bersama.

Muhammadiyah turut hadir dalam proses pemulihan melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta berbagai kegiatan kemanusiaan. Universitas Muhammadiyah Palu dan sejumlah Amal Usaha Muhammadiyah menjadi bagian dari perjalanan itu. Pengalaman bangkit dari bencana itulah yang menjadikan Palu sebagai latar yang kuat bagi pesan persatuan yang dibawa Muhammadiyah.

Tema “Bersama Satukan Bangsa” dan Pesan Al-Qur’an

Tema Tanwir 2026, “Bersama Satukan Bangsa,” berakar pada nilai-nilai persaudaraan dan keberagaman yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Dokumen resmi Muhammadiyah menjelaskan tema tersebut sebagai seruan untuk membangun kebersamaan, persatuan, serta kemajuan bangsa di tengah keragaman dan perbedaan.

Salah satu landasan utama tema ini adalah Surah Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Innamal-mu’minūna ikhwatun fa ashliḥū baina akhawaikum wattaqullāha la’allakum turḥamūn.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh mukmin terikat dalam ikatan persaudaraan yang kokoh, sehingga setiap upaya untuk mendamaikan dan menyatukan menjadi bagian dari ketakwaan kepada Allah.

Selain itu, Surah Al-Hujurat ayat 13 menjadi fondasi penting dalam memahami semangat keberagaman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja’alnākum syu’ūbaw wa qabā’ila lita’ārafū, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr.

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa keberagaman bukan penghalang persatuan, melainkan sarana untuk saling mengenal dan bekerja sama dalam kebaikan.

Hadis tentang Persatuan dan Kebersamaan

Semangat persatuan yang diusung Muhammadiyah juga dikuatkan oleh sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang menggambarkan ikatan antarmukmin seperti bangunan yang saling menguatkan:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Al-mu’minu lil-mu’mini kal-bunyāni yasyuddu ba’ḍuhu ba’ḍan.

Artinya: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari)

Dalam hadis lain, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga menggambarkan persaudaraan mukmin seperti satu tubuh yang saling merasakan:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ

Matsalul-mu’minīna fī tawāddihim wa tarāḥumihim wa ta’āṭufihim matsalul-jasad.

Artinya: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua hadis ini menegaskan bahwa persatuan dan kebersamaan bukan sekadar anjuran, melainkan bagian dari hakikat keimanan seorang Muslim. Inilah spirit yang diusung Muhammadiyah melalui tema “Bersama Satukan Bangsa” dalam Tanwir 2026.

Tanwir Digelar 19–21 November 2026 di Palu

Berdasarkan Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 19/EDR/I.0/B/2026 tentang Tuntunan Penyelenggaraan Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah, Tanwir akan berlangsung pada 19–21 November 2026 di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Milad ke-114 Muhammadiyah jatuh pada 18 November 2026. Resepsi Milad akan digabung dengan pembukaan Tanwir pada Kamis, 19 November 2026, pukul 09.00–11.30 WITA di Universitas Muhammadiyah Palu. Pimpinan Muhammadiyah, organisasi otonom, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di luar negeri, serta amal usaha Muhammadiyah yang tidak hadir di Palu dapat mengikuti pembukaan melalui siaran langsung Muhammadiyah Channel.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah, Amin Parakkasi, mengatakan amanah menjadi tuan rumah bukan semata persoalan penyelenggaraan acara. Tanwir dipandang sebagai momentum untuk menghadirkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Sementara Rektor Universitas Muhammadiyah Palu sekaligus Ketua Panitia Penerima Tanwir 2026, Rajindra, mengatakan persiapan terus dimatangkan, mulai lokasi, sarana dan prasarana, pelayanan peserta, akomodasi, hingga koordinasi teknis kepanitiaan.

Agenda Strategis Menuju 25 Tahun Mendatang

Haedar Nashir menyatakan Tanwir 2026 merupakan tanwir terakhir dalam periode kepemimpinan Muhammadiyah 2022–2027 sebelum Muktamar Ke-49 di Medan pada 2027. Salah satu pembahasan pentingnya adalah program Muhammadiyah untuk 25 tahun mendatang.

Artinya, pembicaraan di Palu tidak hanya diarahkan untuk menjawab persoalan satu atau dua tahun ke depan, melainkan juga menyiapkan peta perjalanan Perserikatan sampai pertengahan abad ini. Tanwir merupakan forum permusyawaratan tertinggi kedua di Muhammadiyah setelah Muktamar. Karena posisinya menjelang Muktamar Ke-49, keputusan dan gagasan yang lahir dari Palu akan menjadi bagian penting dalam menyiapkan perjalanan Muhammadiyah memasuki periode berikutnya.

Di titik itulah logo dengan daun kelor mendapatkan makna yang lebih utuh. Ia berangkat dari tanaman yang akrab dengan masyarakat Palu, membawa simbol ketahanan dan kebermanfaatan, lalu bertemu dengan angka 114 yang menggambarkan perjalanan panjang Muhammadiyah. Dari kesederhanaan daun kelor, Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk terus bertumbuh, bermanfaat, dan menyatukan bangsa.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 responses to “Muhammadiyah Luncurkan Logo Tanwir dan Milad ke-114: Daun Kelor, Simbol Ketangguhan dan Persatuan Bangsa”

  1. Avatar Moch Sidik Sadali
    Moch Sidik Sadali

    Dengan diluncurkannya Logo Tanwir dan Milad Muhammadiyah Ke-114 bergambar Daun Kelor yang merupakan simbol Ketangguhan, membuka lembaran baru untuk mengajak jamaah Muhammadiyah khususnya dan ummat Islam pada umumnya untuk tegar berjuang membela keadilan dan kebenaran, berlomba-lomba dalam kebajikan dan beramar ma’ruf nahi munkar di manapun berada, demi negara tercinta serta dapat mengambil manfaat dan berkah dari kandungan logo tersebut untuk kehidupan sehari-hari.

    1. Avatar Arofah Firdaus
      Arofah Firdaus

      Terimakasih Bah luar biasa komentarnya. Tetap semangat.