muhammadiyahciko – Jalan pengabdian sejati kerap ditempuh dalam kesunyian. Bagi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, kerja membebaskan, memberdayakan, memajukan, dan mendampingi masyarakat adalah amanah yang dijalankan dengan kesungguhan, tanpa gemerlap pujian. Semangat itulah yang selama ini menghidupi gerakan Muhammadiyah dengan visi Islam Berkemajuan.
Pernyataan tersebut disampaikan Haedar dalam acara Ramah Tamah yang menjadi rangkaian Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026, pada Selasa (25/8) di Bakrie Tower, Kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.
Haedar mengaku tak menyangka dirinya terpilih sebagai penerima penghargaan bergengsi itu untuk Bidang Pemikiran Sosial. Bahkan, ketika dewan juri menyampaikan hasil penilaian kepadanya di Yogyakarta, ia sempat merasa penghargaan itu seperti “salah alamat”.
“Dengan kerendahan hati, saya merasa, apa benar ini tidak salah alamat. Sebab, saya memang bergerak di bidang akademik, tetapi lebih banyak berkonsentrasi di Muhammadiyah. Mengurus Muhammadiyah adalah jalan sunyi yang sesungguhnya,” ujar Haedar dengan nada reflektif.
Namun, jalan sunyi itu, menurut Haedar, bukanlah jalan hampa. Di sanalah kerja-kerja sosial dijalankan secara konsisten untuk menghadirkan perubahan nyata. “Jalan sunyi itu sedikit yang bisa berkiprah membebaskan, memberdayakan, memajukan, dan mendampingi masyarakat, sebagaimana spirit kami, Islam Berkemajuan,” tegasnya.
Karena itu, Haedar tidak memaknai penghargaan ini sebagai pencapaian pribadi. Ia melihatnya sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan kolektif Muhammadiyah dan pengabdiannya bagi bangsa. “Tiada yang saya pikirkan selain bahwa penghargaan ini bukan untuk diri saya, melainkan untuk kami, Muhammadiyah, dan untuk bangsa,” ungkapnya.
Haedar juga menyoroti keselarasan antara jalan sunyi Muhammadiyah dan ikhtiar keluarga almarhum Achmad Bakrie yang secara konsisten memberikan penghargaan kepada para ilmuwan dan pemikir dari berbagai disiplin. Menurutnya, perhatian terhadap dunia ilmu pengetahuan sangat berarti, karena banyak ilmuwan bekerja di balik layar, jauh dari sorotan publik.
“Saya yakin, keluarga almarhum Achmad Bakrie memberikan penghargaan kepada ilmuwan di berbagai bidang juga merupakan jalan sunyi. Tidak banyak pengusaha besar atau tokoh nasional yang memiliki pengalaman panjang dan kepedulian mendalam kepada para ilmuwan, yang umumnya tidak tampil ke permukaan,” ujarnya.
Penghargaan seperti ini, lanjut Haedar, lahir dari kesadaran bahwa kemajuan bangsa tidak hanya dibangun oleh hal-hal yang tampak di permukaan, melainkan juga oleh pengabdian intelektual, spiritual, dan sosial yang dikerjakan dengan tekun dan penuh keikhlasan.
Haedar berharap penghargaan yang diterimanya menjadi simbol penghormatan bagi mereka yang selama ini memilih bekerja dalam kesunyian demi kemaslahatan masyarakat. “Semoga ini menjadi penghargaan bagi Muhammadiyah, bagi masyarakat, bangsa, dan untuk Indonesia,” pungkasnya.
Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 diberikan kepada empat tokoh dari bidang berbeda. Selain Haedar Nashir (Pemikiran Sosial), penghargaan bidang Sains dan Teknologi diberikan kepada Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, B.Eng., M.Eng., Ph.D.; bidang Kesehatan kepada Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D.; serta bidang Seni dan Budaya kepada Butet Kartaredjasa.
Penghargaan Achmad Bakrie diselenggarakan oleh Bakrie Group, Bakrie Untuk Negeri, dan Freedom Institute. Ajang tahunan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap individu-individu Indonesia yang dinilai konsisten memberikan kontribusi nyata melalui ilmu pengetahuan, pemikiran, inovasi, seni, dan pengabdian kepada masyarakat. (*)


Tinggalkan Balasan