Meneguhkan Literasi, Menggerakkan Peradaban: Refleksi Hari Pers Muhammadiyah

·

Avatar Arofah Firdaus

|

3 menit

|

📋

Dibaca: 8 x

Jakarta, muhammadiyahciko – Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)


Peran Strategis Pers dalam Demokrasi

Pers merupakan pilar penting kehidupan demokrasi yang menjalankan fungsi informasi, kontrol sosial, edukasi, dan ruang publik untuk menyampaikan gagasan secara kritis dan konstruktif. Tanpa media dan pers, demokrasi tidak akan berjalan optimal.

Hal ini disampaikan Rektor UMJ, Prof. Dr. Mamun Murod dalam rangkaian peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah. Menurutnya, pers memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik dan menciptakan ruang dialog yang sehat.


Tradisi Literasi dan Jurnalistik Muhammadiyah

Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Muchlas, menyampaikan bahwa peringatan ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali tradisi pers dan literasi dalam Persyarikatan Muhammadiyah.

Muhammadiyah memiliki ekosistem pers dan literasi yang sangat besar, yang telah tumbuh sejak awal perjalanan Persyarikatan. Pada tahun 1915, Muhammadiyah telah menerbitkan Suara Muhammadiyah dan Suara ‘Aisyiyah sebagai ikhtiar menyebarkan gagasan, pengetahuan, dan nilai-nilai kemajuan.

Bagi Muhammadiyah, pers bukan sekadar media informasi, melainkan bagian dari tradisi intelektual dan pendidikan. Tradisi membaca dan menulis menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban dan mencerdaskan kehidupan umat.


Literasi sebagai DNA Muhammadiyah

Kesadaran literasi perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah setiap 13 Agustusan menjadi momentum penting untuk memperkuat etos literasi di lingkungan Persyarikatan.

Muhammadiyah membutuhkan kader jurnalis yang kuat, berintegritas, profesional, dan memiliki keberpihakan pada kebenaran serta kemajuan umat. Jurnalis Muhammadiyah tidak cukup hanya menyampaikan berita, tetapi juga harus menghadirkan gagasan, mencerdaskan pembaca, dan membangun peradaban melalui informasi berkualitas.


Pengakuan terhadap Tradisi Jurnalistik

Perjalanan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir menjadi bagian dari tradisi jurnalistik Muhammadiyah. Sebagai intelektual yang memulai aktivitas jurnalistik melalui Suara Muhammadiyah, pengalamannya menunjukkan bahwa tradisi pers berperan penting dalam pembentukan pemikiran dan penguatan intelektualitas kader Muhammadiyah.

Pada peringatan kali ini, Haedar Nashir resmi menyandang status sebagai Wartawan Utama. Penghargaan berupa Kartu Wartawan Utama dari Dewan Pers disematkan langsung oleh Komarudin Hidayat di Auditorium UMJ pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Muchlas MT menjelaskan bahwa keputusan Dewan Pers ini telah melalui proses panjang dan diputuskan pada Maret 2026.

Komarudin Hidayat, Ketua Dewan Pers, memiliki benang merah personal dengan Muhammadiyah—pernah memimpin Ikatan Pelajar Muhammadiyah cabang Muntilan, Magelang. Dalam pidatonya, ia menyoroti fenomena “wartawan tanpa surat kabar” (WTS) yang tumbuh subur demi bertahan hidup.

Komarudin menegaskan bahwa informasi adalah kebutuhan primer, seperti makan dan minum. Ia juga mencatat dilema antara pemerintah yang antikritik dan menganggap pers musuh, versus pejabat yang berterima kasih karena pers menjadi penyeimbang. Baginya, pers berperan seperti tukang ronda yang membunyikan kentongan peringatan dini saat masalah datang.


Santun dalam Pemikiran dan Jurnalistik

Literasi dan jurnalistik pada hakikatnya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya tumbuh dari tradisi membaca, menulis, berpikir, berdialog, dan menyampaikan gagasan kepada masyarakat.

Jurnalis Muhammadiyah harus mampu menghadirkan santun dalam pemikiran dan santun dalam jurnalistik. Kritik tetap diperlukan, tetapi disampaikan dengan argumentasi, etika, data, dan tanggung jawab moral.


Kader Muhammadiyah sebagai Produsen Pengetahuan

Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital, kader Muhammadiyah dituntut tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi produsen pengetahuan dan informasi berkualitas.

Pers Muhammadiyah harus hadir sebagai media yang mencerahkan, mencerdaskan, dan menciptakan ruang publik yang sehat. Karena itu, penting untuk melahirkan jurnalis Muhammadiyah yang profesional, berintegritas, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Persyarikatan.


Makna Peringatan

Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengingat bahwa:

  • Membaca adalah jalan menuju pengetahuan
  • Menulis adalah jalan merawat gagasan
  • Pers adalah jalan menghadirkan gagasan kepada masyarakat

Dari tradisi membaca lahir pemikiran. Dari pemikiran lahir tulisan. Dari tulisan lahir gerakan. Dan dari gerakan yang berkemajuan, lahirlah peradaban. (*)


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *