Assalaamu 'alaikum,...

Apa yang bisa kami bantu?

Muhammadiyah: Agama Tetap Relevan di Era Modernisasi dan Sekularisasi

·

Editor:

|

⏱

4 menit

|

📋

Dibaca: 23 x

BANDUNG — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa agama tidak akan kehilangan relevansinya di tengah arus modernisasi dan sekularisasi. Menurutnya, agama justru memiliki masa depan cerah jika mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dan menghadirkan nilai nyata bagi kehidupan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Haedar saat menghadiri peluncuran buku berjudul “Muhammadiyah dan Masa Depan Agama” karya Dadang Kahmad yang diterbitkan Suara Muhammadiyah. Acara berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Senin (5/10/2026).

Dalam sambutannya, Haedar mengapresiasi karya tersebut sekaligus menyampaikan ucapan selamat atas milad ke-74 Dadang Kahmad. Ia menilai Dadang memiliki kapasitas mumpuni untuk membahas masa depan agama karena latar belakangnya sebagai sosiolog dan akademisi yang lama mendalami kajian keagamaan.

Tiga Langkah Penting

Haedar menekankan bahwa perubahan zaman tidak serta-merta membuat agama ditinggalkan. Tantangan sesungguhnya terletak pada kemampuan umat beragama dalam menerjemahkan nilai-nilai agama agar tetap relevan dengan kehidupan masyarakat modern.

Untuk itu, ia mengajak umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, untuk melakukan tiga langkah penting.

Pertama, menjadikan agama sebagai kanopi suci dalam kehidupan modern. Menurut Haedar, masyarakat modern menghadapi kehidupan yang semakin rasional dan sarat teknologi. Kondisi tersebut membutuhkan nilai agama yang mampu memberikan arah sekaligus menjawab kegersangan spiritual.

Kedua, menghadirkan agama di tengah generasi muda. Haedar menilai masa depan agama sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi keagamaan dalam memahami karakter dan kebutuhan generasi muda. Ia mencontohkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai salah satu pintu masuk untuk menjangkau generasi muda yang rasional karena menawarkan kepastian dalam penentuan waktu keagamaan.

Ketiga, menjadikan agama sebagai solusi atas persoalan masyarakat. Agama, kata Haedar, tidak boleh hanya berhenti pada ajaran normatif, tetapi harus mampu memberikan jawaban atas berbagai persoalan baru, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau AI.

“AI begitu digdaya. Bisa tidak agama seperti itu? Jangan sampai manusia menjadi rendah diri di hadapan teknologi yang sebenarnya diciptakan manusia,” ujar Haedar.

Agama Harus Memajukan dan Menyejahterakan

Menurut Haedar, agama harus hadir untuk memajukan dan menyejahterakan masyarakat. Karena itu, warga Muhammadiyah perlu terus memperluas wawasan dan tidak berhenti pada pemahaman agama secara normatif.

Ia juga mendorong Muhammadiyah untuk memperbanyak kajian tentang masa depan. Kemampuan membaca perubahan diperlukan agar organisasi dapat menyiapkan respons sebelum berbagai tantangan menjadi persoalan yang lebih besar.

Di sisi lain, Haedar mengingatkan bahwa keberagamaan pada akhirnya harus tercermin dalam perilaku sosial. Nilai agama akan kehilangan makna jika ucapan tokoh dan umat beragama tidak sejalan dengan tindakan.

“Kalau tokoh dan umat beragama kurang baik, dibungkus apa pun, ya kelihatan tidak baik,” tegasnya.

Bahan Refleksi Muhammadiyah

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat, Ahmad Dahlan, menilai buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama dapat menjadi bahan refleksi bagi Muhammadiyah dalam membaca tantangan masa depan.

Menurutnya, gagasan Dadang Kahmad memberikan inspirasi bagi Muhammadiyah Jawa Barat untuk terus memperkuat gerakan sekaligus menyiapkan langkah strategis menghadapi perubahan.

“Buku ini mengilhami dan menginspirasi kami di Muhammadiyah Jawa Barat. Sekaligus menjadi warning bagi kita semua,” ujar Ahmad Dahlan.

Ia menilai gagasan tersebut sejalan dengan visi Muhammadiyah Jawa Barat untuk terus berkemajuan sekaligus memiliki arah yang jelas dalam menghadapi masa depan. Oleh karena itu, PWM Jawa Barat berkomitmen terus mendorong langkah-langkah strategis agar Muhammadiyah tetap relevan dengan perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai tantangan baru.

Ahmad Dahlan menegaskan Muhammadiyah tidak cukup hanya mempertahankan apa yang telah berjalan. Muhammadiyah harus mampu membaca perubahan, merumuskan respons, dan menghadirkan gerakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Para Tokoh yang Hadir

Acara tersebut dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad beserta keluarga, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas, dan Sekretaris PP Muhammadiyah Izzul Muslimin. Hadir pula Ketua PWM Jawa Barat Ahmad Dahlan beserta jajaran pleno PWM Jawa Barat, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah Azrul Tanjung, serta Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ujung Berung Tatang Zakaria.

Dari unsur organisasi dan lembaga keagamaan, hadir Sekjen MUI Pusat Amirsyah Tambunan dan Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Muchlas Rowi. Dari kalangan perguruan tinggi, hadir Rektor Uhamka Gunawan Suryoputro, Rektor UAD Muchlas, Rektor UMC Arif Nurudin, dan Rektor UMMI Reny Sukmawani.

Turut hadir Ketua Senat UIN Sunan Gunung Djati Bandung Mahmud, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rosihon Anwar, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Ahmad Sarbini, serta Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung Wahyudin Darmalaksana. Hadir pula para pimpinan organisasi otonom Muhammadiyah Jawa Barat serta pimpinan majelis dan lembaga PWM Jawa Barat. ***




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *