Pengajian Bulanan PDM Kota Cirebon: Buya Amirsyah Tambunan Gaungkan Pentingnya Silaturahmi dan Akhlak Mulia

·

Avatar Arofah Firdaus

|

3 menit

|

📋

Dibaca: 0 x

CIREBON, muhammadiyahciko – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Cirebon menyelenggarakan pengajian bulanan yang berlangsung khidmat pada Selasa, 25 Agustus 2026. Acara yang dihadiri oleh jajaran pimpinan, tokoh agama, dan warga persyarikatan ini menghadirkan penceramah utama Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Buya Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, yang menyampaikan sambutan hangat serta apresiasi atas kehadiran para undangan dan narasumber. Turut memberikan sambutan, Ketua MUI Kota Cirebon, KH. Syamsudin, yang menekankan pentingnya sinergi antara ulama dan umara dalam membangun peradaban kota.

Acara pengajian tersebut juga diwarnai dengan momen penyerahan sertifikat wakaf sebidang tanah seluas 2.341 m² dari keluarga Endang Sriati kepada Persyarikatan Muhammadiyah. Penyerahan ini menjadi simbol nyata dari pengelolaan aset umat untuk kemaslahatan bersama.

Pesan Silaturahmi dan Refleksi Sejarah Peradaban

Dalam tausiyahnya, Buya Amirsyah Tambunan mengangkat tema tentang urgensi silaturahmi dan refleksi atas perjalanan sejarah peradaban. Ia mengingatkan bahwa perbedaan umur dan usia merupakan sunnatullah, namun yang terpenting adalah bagaimana usia tersebut digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.

Mengutip perjuangan para pendiri bangsa seperti Buya Hamka, Soekarno, Hatta, Juanda, hingga Pangeran Diponegoro, Buya Amirsyah menegaskan bahwa umur yang berkah adalah umur yang diabdikan untuk kepentingan umat dan kemajuan peradaban. “Inti dari Maulid Nabi adalah mengingatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam membawa risalah. Beliau berseru ‘Umati, umati, umati’ karena rasa peduli yang mendalam kepada umatnya. Dari masa kegelapan, beliau membawa perubahan menuju zaman yang terang benderang,” ujarnya.

Akhlak sebagai Fondasi Kebangkitan Islam

Penceramah yang juga dikenal sebagai pakar ekonomi syariah ini menyoroti bahwa misi utama diutusnya Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam adalah untuk menyempurnakan akhlak. “Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,” kutipnya mengingatkan hadits tersebut. Ia memaparkan bagaimana kemajuan Islam hingga menguasai Eropa, khususnya Spanyol, tidak terlepas dari akhlak atau perilaku luhur yang dicontohkan oleh generasi salaf.

Buya Amirsyah juga menyentil fenomena ujian yang dihadapi Rasulullah, mulai dari dilempari batu, dicaci maki, hingga dibully oleh orang-orang yang tidak menyukai dakwahnya. Namun, keteladanan puncak ditunjukkan ketika Rasulullah menjenguk orang yang pernah membully-nya saat sedang sakit. “Inilah akhlak agung yang harus kita teladani,” tegasnya.

Menggali Berkah dari Langit dan Bumi

Mengutip Q.S. Muhammad ayat 7 yang artinya, “Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu,” serta “Nashrun minallah wa fathun qarib” (Pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat), Buya Amirsyah mengajak jamaah untuk merenungkan sikap kejujuran dalam berbisnis. “Berbisnis itu adalah sunahku. Rasulullah dengan jujur mengemban bisnis dan berhasil. Pertanyaannya, apakah kita sudah merdeka dari kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan? Tidak layak orang Indonesia miskin, karena di negeri ini semua sumber daya ada,” tegasnya dengan lugas.

Lebih lanjut, ia membacakan Q.S. Al-A’raf ayat 96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Buya Amirsyah menjelaskan bahwa iman dan takwa adalah kunci untuk membuka pintu rezeki dan peradaban . Beliau mengingatkan bahwa Islam mengajarkan kejujuran dan menjaga lingkungan. Ia juga mengutip Q.S. Al-Isra ayat 16 sebagai pengingat bahwa kehancuran suatu negeri diawali dengan kerusakan moral dan perilaku.

“Intinya, ada dua hal yang harus kita jaga agar bumi ini terawat: pertama, iman dan takwa kepada Allah; kedua, menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari akhlak mulia,” pungkas Buya Amirsyah, mengakhiri tausiyah yang menggugah kesadaran jamaah akan pentingnya menjaga hubungan vertikal kepada Tuhan dan horizontal kepada sesama makhluk serta alam. (*)


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *