CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Umar bin Khattab pada Ahad, 23 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan pengajian rutin PCM Kedawung yang dilaksanakan setelah salat Maghrib hingga memasuki waktu Isya ini menghadirkan penceramah utama, Ustadz Drs. Rumiyanto. Bertemakan “Membangun Keluarga Sakinah Menuju Masyarakat yang Berkemajuan,” acara tersebut berhasil menarik perhatian jamaah dari berbagai kalangan di lingkungan komplek pendidikan tersebut.
Dalam tausiahnya, Ustadz Rumiyanto mengawali pembahasan dengan mengupas tuntas tentang konsep Keluarga Sakinah. Beliau menjelaskan bahwa tujuan utama terbentuknya keluarga sakinah tidak lain adalah untuk menciptakan insan yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta mewujudkan masyarakat yang berkemajuan. Hal ini, lanjutnya, sejalan dengan konsep Khairul Ummah atau sebaik-baik umat, yang dimulai dari pembenahan individu, keluarga, hingga masyarakat kecil.
“Umat dalam bahasa Arab berarti sekelompok manusia yang memiliki tujuan dan ciri khas yang sama. Untuk mencapai Khairul Ummah, kuncinya adalah iman kepada Allah,” tegas Ustadz Rumiyanto sembari mengutip firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 110.
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ
Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
Penceramah yang juga dikenal sebagai tokoh pendidikan itu menekankan bahwa setiap amal perbuatan akan tertolak jika tidak didasari oleh keimanan. Oleh karena itu, menjaga iman adalah kewajiban utama setiap muslim.
Memasuki inti materi, Ustadz Rumiyanto mengajak jamaah merenungkan QS. Al-Baqarah ayat 143 yang menjelaskan tentang Umatan Washato atau umat pertengahan. Beliau menyoroti bahwa di tengah gempuran isu negatif yang kerap menempatkan umat Islam sebagai kelompok radikal, konsep wasathiyah menjadi karakter dasar yang harus dikedepankan.
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
Artinya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) sebagai ‘umat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”
“Konsep wasathiyah ini menjadikan umat Islam moderat, adil, dan seimbang. Ini adalah wujud nyata dari masyarakat berkemajuan,” jelas Ustadz Rumiyanto. Beliau memaparkan tiga poin penting dari umat pertengahan:
- Menjadi saksi yang adil dan teladan bagi orang lain.
- Menjaga keseimbangan hidup antara urusan dunia dan akhirat, tanpa ekstrem kanan maupun kiri.
- Menghadirkan perdamaian, menolak segala bentuk kezaliman, serta menjaga persatuan, kesatuan, dan toleransi di masyarakat.
Mengutip pandangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustadz Rumiyanto juga menyampaikan bahwa setiap individu Muslim harus memiliki karakter dasar pribadi muslim, salah satunya adalah Al-Ittidal (menegakkan keadilan) yang berstandar pada hukum nasional dan hukum agama.
“Puncaknya adalah terwujudnya Civil Society atau masyarakat madani, sebagaimana masyarakat Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam di masa lalu,” pungkasnya mengakhiri tausiah.
Acara pengajian berlangsung dengan tertib dan kondusif. Para jamaah terlihat antusias menyimak setiap penjelasan yang disampaikan, berharap ilmu yang didapat mampu diaplikasikan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat sehari-hari. (*)
Peliput: Bery dan Tim Media masjid Umar bin Khattab.


Tinggalkan Balasan