Integrasi Nilai Dakwah dan Ilmu Fisika: Prof. Wahyu Srigutomo Bekali Peserta Pelatihan Reputasi Digital di Cirebon

CIREBON, 2 Agustus 2026 – Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat di Hotel Lumina UMC, Cirebon, memasuki hari puncaknya pada hari Minggu (2/8/2026). Acara yang berlangsung sejak Jumat (31/7/2026) ini diikuti oleh seluruh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Barat beserta perwakilan organisasi otonom tingkat wilayah.

Salah satu sesi yang paling menyita perhatian peserta adalah pemaparan materi bertajuk “Integrasi Nilai Dakwah dalam Reputasi Digital” yang disampaikan oleh pakar geofisika sekaligus akademisi, Prof. Ir. Wahyu Srigutomo, M.Si. PhD. Dalam penyampaiannya, Prof. Wahyu tidak hanya mengupas tuntas teori manajemen reputasi, tetapi juga mengaitkannya dengan nilai-nilai luhur Al-Qur’an serta menyisipkan perspektif unik dari ilmu Fisika.

Reputasi Digital: Antara Persepsi Publik dan Tanggung Jawab Kolektif

Mengawali materinya, Prof. Wahyu menjelaskan bahwa reputasi adalah penilaian atau persepsi yang terbentuk di benak publik berdasarkan tindakan dan kinerja di masa lalu. “Reputasi itu bersifat kolektif. Ia bukanlah apa yang kita klaim tentang diri kita sendiri, melainkan apa yang dipersepsikan oleh orang lain,” tegasnya. Di era digital saat ini, reputasi sangat rentan dipengaruhi oleh media sosial, ulasan daring, dan bahkan efek viral dari sebuah informasi.

Beliau juga menyoroti tiga pertanyaan kritis yang kerap muncul dalam diskusi tentang reputasi organisasi, khususnya di lingkungan Muhammadiyah: Apa yang terlintas di pikiran ketika mendengar istilah “Reputasi Digital” khususnya Muhammadiyah? Siapa yang seharusnya bertanggung jawab? Dan apakah semua unsur di dalam Muhammadiyah sudah sadar tentang reputasi?. Menurutnya, kesadaran kolektif dan tanggung jawab bersama adalah kunci utama. “Reputasi bukan hanya tugas humas atau pimpinan puncak. Ini adalah tanggung jawab seluruh kader dan amal usaha Muhammadiyah,” ujarnya.

Landasan Qur’ani: Tabyyun dan Etika Komunikasi Publik

Dalam sesi yang sarat makna tersebut, Prof. Wahyu mengintegrasikan nilai-nilai dakwah dengan mengutip beberapa ayat suci Al-Qur’an. Pertama, beliau menyoroti pentingnya sikap tabayyun (klarifikasi) dalam menyikapi informasi yang beredar di dunia digital. Beliau membacakan QS. Al-Hujurat (49): 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

“Di era digital, informasi menyebar bagaikan gelombang elektromagnetik—cepat dan tak kasat mata. Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu melakukan verifikasi. Reputasi organisasi bisa rusak hanya karena informasi hoaks atau berita yang belum diverifikasi,” jelas Prof. Wahyu, menyamakan kecepatan informasi dengan cepat rambat gelombang yang ia pelajari dalam fisika.

Selanjutnya, beliau menekankan etika komunikasi publik yang bersumber dari QS. An-Nahl (16): 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”

Prof. Wahyu menegaskan bahwa cara penyampaian pesan di media sosial sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri. “Komunikasi organisasi dengan publik, termasuk di media sosial, harus dilakukan dengan kebijaksanaan, sopan santun, dan etika yang baik,” pesannya.

Perspektif Fisika: Stabilitas Reputasi dan Energi Aktivasi

Keunikan sesi ini terletak pada penyisipan ilmu Fisika yang menjadi bidang keahlian Prof. Wahyu. Sebagai seorang peneliti di bidang Geofisika, Teknik Kelautan, dan Geologi dengan puluhan publikasi ilmiah , ia mengibaratkan reputasi organisasi dengan konsep stabilitas termodinamika.

“Dalam fisika, kita mengenal kondisi setimbang (equilibrium) yang stabil. Sebuah sistem akan tetap stabil jika tidak ada gangguan eksternal yang besar. Namun, jika energi aktivasi cukup besar—misalnya sebuah krisis atau skandal—maka reputasi bisa berpindah ke kondisi setimbang yang baru, bahkan lebih rendah,” paparnya menggunakan analogi ilmiah.

Ia menjelaskan bahwa membangun reputasi yang baik ibarat menaikkan energi potensial suatu benda; butuh usaha dan waktu yang konsisten. “Namun, seperti halnya benda yang jatuh karena gaya gravitasi, reputasi yang telah dibangun dengan susah payah dapat runtuh dalam sekejap jika terjadi kecerobohan,” tambahnya. Oleh karena itu, Prof. Wahyu menekankan pentingnya digital trust (kepercayaan digital) sebagai fondasi yang kokoh, yang dalam fisika dapat dianalogikan sebagai pondasi dengan tegangan tekan yang tinggi agar tidak mudah retak.

Penutup

Pelatihan yang akan berakhir pada hari ini ditutup dengan sesi penyusunan rencana komunikasi digital oleh para peserta untuk diterapkan di wilayah masing-masing. PWM Jawa Barat berharap kegiatan ini mampu melahirkan kader-kader unggul yang tidak hanya cakap teknis, tetapi juga memiliki integritas tinggi dalam menjaga marwah dan reputasi Muhammadiyah di tengah derasnya arus informasi digital. (*)

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *