Fery Johari dari Kwarwil HW Jabar Sebut Pelatihan Reputasi Digital Muhammadiyah Sangat Komprehensif dan Aplikatif

CIREBON — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat menyelenggarakan Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi yang digelar di Grand Lumina Hotel UMC, Cirebon pada Jumat–Minggu, 31 Juli s.d 2 Agustus 2026. Kegiatan yang diinisiasi oleh PWM Jawa Barat ini diikuti oleh seluruh perwakilan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Jawa Barat.

Pelatihan yang mengusung tema “Membangun Reputasi Muhammadiyah Berbasis Nilai dan Kinerja” ini bertujuan memperkuat reputasi digital persyarikatan di tengah perkembangan teknologi komunikasi yang semakin cepat. Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Barat, Dr. Iu Rusliana, menegaskan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi yang memiliki reputasi tinggi karena dikelola dengan amanah, sehingga menjadi kewajiban seluruh pimpinan dan anggota untuk terus menjaga nama baik organisasi.

Salah satu peserta dari Kwartir Wilayah (Kwarwil) Hizbul Wathan Jawa Barat, Fery Johari, menyatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi pengembangan kapasitas kader dalam mengelola reputasi organisasi di era digital.

“Pelatihan ini memberikan pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana membangun dan menjaga reputasi digital organisasi. Materi yang disampaikan tidak hanya teoritis, tetapi juga praktis, sehingga dapat segera diaplikasikan dalam kegiatan syiar di media digital,” ujar Fery Johari.

Ia menambahkan bahwa sebagai bagian dari organisasi otonom Muhammadiyah, Hizbul Wathan juga perlu hadir dengan wajah modern di ruang digital tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar kepanduan yang berlandaskan Islam.

Strategi Membangun Buzzer untuk Mengkanter Berita Negatif

Pelatihan ini juga menghadirkan pandangan dari para peserta salah satunya utusan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Kota Cirebon. Deny Rochman, S.Sos., M.Pd.I., yang menjabat sebagai Ketua MPI Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Cirebon sekaligus Lurah Kesepuhan, menyampaikan pentingnya strategi komunikasi digital yang proaktif dalam menghadapi dinamika informasi di ruang publik.

“Hendaknya kita bisa membangun buzzer untuk mengkanter berita negatif dan membangun opini positif tentang Muhammadiyah,” ujar Deny Rochman.

Pernyataan ini sejalan dengan kebutuhan organisasi untuk memiliki kekuatan komunikasi digital yang terkoordinasi. Dalam kajian akademik disebutkan bahwa media digital menjadi ruang utama yang menentukan persepsi publik, sehingga organisasi perlu hadir dengan wajah modern sekaligus mencerminkan nilai-nilai yang dipegang sejak awal berdirinya.

Namun demikian, dalam perspektif Muhammadiyah, aktivitas buzzer harus dibedakan dari praktik buzzer yang merugikan. Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebelumnya menegaskan bahwa aktivitas buzzer yang menyebarkan hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian adalah perilaku tidak jujur yang dapat memecah belah bangsa. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan “membangun buzzer” dalam konteks ini adalah membangun jaringan komunikator digital yang bertugas menyebarkan informasi positif dan faktual tentang Muhammadiyah, bukan menyebarkan kebencian atau informasi palsu.

Mengubah Krisis Menjadi Peluang

Sementara itu, Agus Arifin dari MPI PDM Kabupaten Cirebon memberikan perspektif berbeda tentang pengelolaan reputasi digital. Menurutnya, krisis di ruang digital justru dapat menjadi peluang bagi organisasi untuk menunjukkan respons yang cepat, tepat, dan transparan.

“Krisis bisa menjadi peluang tanpa harus menunggu krisis yang banyak dibaca yaitu isu seks, konflik, dan kriminalitas,” ujar Agus Arifin.

Pernyataan ini menekankan bahwa organisasi tidak perlu menunggu munculnya isu negatif berskala besar untuk merespons. Sebaliknya, peluang untuk membangun reputasi dapat diciptakan melalui konsistensi menyajikan konten positif, edukatif, dan mencerahkan. Agus Arifin sendiri memiliki pengalaman dalam menyelenggarakan pelatihan content creator dan jurnalistik digital bagi kader Muhammadiyah di Kabupaten Cirebon.

Strategi ini sejalan dengan pendekatan manajemen reputasi digital yang bersifat proaktif dan berkelanjutan. Dalam penelitian tentang manajemen reputasi di era media sosial dinyatakan bahwa lembaga perlu mengembangkan sistem manajemen risiko reputasi yang menggabungkan pendekatan preventif dan responsif terhadap dinamika opini publik di ruang digital.

Pelatihan ini dipandu oleh para dosen Perguruan Tinggi Muhammadiyah.  Adapun sesi pembelajaran meliputi materi reputasi digital, praktik pembuatan konten, hingga pendampingan teknis dalam mengelola kanal digital organisasi.

Dengan semangat kolaborasi, berharap hasil dari pelatihan ini dapat segera diimplementasikan untuk memperkuat dakwah digital, sehingga pesan-pesan persyarikatan mampu menjangkau masyarakat luas dengan cara yang lebih efektif dan relevan. (*)

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *