Membuka Pintu Surga dengan Taubat dan Menyelesaikan Hak Sesama

·

Editor:

|

3 menit

|

📋

Dibaca: 16 x


MASJID Ad-Dien Kampus 3 UMMADA Kalitanjung menggelar salat Jumat (28/9/26) dengan khidmat dan tertib. Bertindak selaku imam sekaligus khatib, Ustadz H. Dedi Ahyadi, menyampaikan khutbah bertema “Membuka Pintu Surga”. Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa pintu surga yang paling luas adalah pintu taubat, namun taubat tersebut harus diiringi dengan menyelesaikan hak-hak sesama manusia yang telah dilanggar.

Dalam khutbahnya, Ustadz H. Dedi Ahyadi mengupas tuntas bahwa sebelum seseorang bertaubat, ada dosa-dosa yang harus dibereskan terlebih dahulu. Mengutip penjelasan Imam Al-Ghazali rahimahullah, khatib membagi dosa ke dalam beberapa kategori yang harus diselesaikan oleh setiap hamba.

Pertama, dosa yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seperti meninggalkan salat, puasa, zakat, dan kewajiban lainnya. Seorang hamba diperintahkan untuk melaksanakannya, sehingga mengabaikannya termasuk perbuatan dosa yang harus segera ditaubati.

Kedua, dosa yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seperti meminum khamar, mengonsumsi narkoba, berjudi, melakukan riba, dan berzina. Dosa-dosa ini terjadi ketika seseorang melanggar larangan yang telah ditetapkan oleh Allah.

Ketiga, dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia. Inilah dosa yang sering kali paling berat penyelesaiannya. Sebab, selain memohon ampun kepada Allah, pelakunya juga harus menyelesaikan urusannya dengan manusia yang didzalimi. Dosa jenis ini dapat berkaitan dengan harta, jiwa, martabat, kehormatan, maupun agama seseorang.

“Apabila berkaitan dengan harta, maka pelakunya wajib mengembalikan hak tersebut kepada pemiliknya. Contohnya adalah mengambil harta orang lain, korupsi, penipuan, atau bentuk-bentuk penggelapan lainnya,” tegas Ustadz Dedi di hadapan para jamaah.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa apabila berkaitan dengan jiwa atau nyawa seseorang, maka persoalannya jauh lebih berat karena menyangkut hak hidup manusia. Dalam syariat Islam, terdapat hukum qishash atau pemberian maaf dari pihak yang dirugikan sesuai ketentuan yang berlaku. Begitu pula jika berkaitan dengan martabat dan harga diri, seperti menggunjing, memfitnah, menuduh tanpa bukti, mencaci, atau menghina, maka pelakunya hendaknya meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan orang yang telah disakiti.

Adapun dosa yang berkaitan dengan agama, misalnya mudah mengafirkan sesama Muslim, menyesatkan orang lain tanpa dasar yang benar, atau menuduh seseorang sebagai ahli bid’ah secara serampangan. Semua itu memerlukan taubat yang sungguh-sungguh dan perbaikan sikap.

Khatib menegaskan bahwa setelah mengetahui banyaknya bentuk dosa yang dapat menghalangi seseorang dari surga, janganlah kita berputus asa. Sebab, Allah Yang Maha Pengampun telah membuka pintu taubat selebar-lebarnya bagi hamba-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 135:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 135).

Di akhir khutbahnya, Ustadz H. Dedi Ahyadi mengajak seluruh jamaah untuk tidak menunda taubat. “Bersihkan diri dari dosa-dosa kepada Allah, tunaikan kembali kewajiban yang pernah ditinggalkan, kembalikan hak-hak manusia yang pernah kita ambil, dan perbanyak istighfar. Sebab surga adalah tempat bagi hamba-hamba yang kembali kepada Allah dengan hati yang bersih, penuh penyesalan atas dosa, dan senantiasa berharap kepada rahmat-Nya,” pungkasnya.

Salat Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung pun ditutup dengan doa, memohon agar seluruh jamaah senantiasa diberikan kekuatan untuk bertaubat dan kemampuan untuk menyelesaikan segala urusan dengan sesama manusia. (*)


Peliput: Fahyudin dan Tim Media masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 responses to “Membuka Pintu Surga dengan Taubat dan Menyelesaikan Hak Sesama”

  1. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Hablun min Allah dan hablun min an-Nas merupakan satu kesatuan yang harus dikuatkan

  2. Avatar Fahyudin
    Fahyudin

    Pengingat penting bagi kita bahwa taubat bukan sekadar memohon ampun kepada Allah, tetapi juga keberanian untuk menyelesaikan dan mengembalikan hak-hak sesama manusia (hablum minannas) yang pernah kita zalimi. Semoga kita tidak menunda taubat dan senantiasa dijaga untuk saling memaafkan

  3. Avatar Moch Sidik Sadali
    Moch Sidik Sadali

    Semoga isi ceramah khotbah Jum’at yang dilaksanakan di Masjid Ad-Dien Kampus 3 UMMADA Kalitanjung Kota Cirebon yang bertemakan
    MEMBUKA PINTU SURGA DENGAN TAUBAT DAN MENYELESAIKAN HAK SESAMA,
    bisa diterima oleh para jamaah yang hadir, bisa dipetik hikmahnya, bermanfaat dan berkah serta bisa dijadikan sebagai pedoman sehari-hari.
    Aamiin Allaahumma Yaa Allaah Rabbal’aalamiin.