PENGAJIAN Reboan yang rutin dilaksanakan di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada Rabu, 16 September 2026, berlangsung dengan khidmat dan penuh perhatian. Kegiatan pengajian menghadirkan Ustadz H. Dedi Ahyadi sebagai penceramah dengan mengangkat tema “Ashabul Rass dan Ashabul Qaryah”, dengan fokus kajian pada kandungan Surah Yasin ayat 13–29.
Pengajian tersebut menjadi momentum bagi jamaah untuk kembali mendalami pesan-pesan Al-Qur’an, khususnya mengenai perjalanan dakwah para utusan Allah, sikap manusia terhadap kebenaran, serta pentingnya keberanian menyampaikan ajaran Islam di tengah masyarakat.

Kisah Ashabul Qaryah dalam Surah Yasin
Dalam kajiannya, Ustadz H. Dedi Ahyadi menjelaskan bahwa Surah Yasin ayat 13–29 mengisahkan tentang Ashabul Qaryah, yaitu penduduk sebuah negeri yang didatangi oleh para utusan Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ ١٣
“Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.”
(QS. Yasin: 13)
Ayat tersebut menjadi awal dari sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana dakwah kebenaran disampaikan kepada masyarakat yang menolak dan mendustakannya. Sejumlah tafsir menyebutkan berbagai pendapat mengenai identitas negeri tersebut, termasuk riwayat yang mengaitkannya dengan Anthakiyah. Namun, Al-Qur’an sendiri tidak menyebutkan nama kota tersebut secara spesifik.
Dakwah yang Ditolak
Ustadz H. Dedi Ahyadi menjelaskan bahwa para utusan datang membawa pesan tauhid dan mengajak masyarakat agar hanya menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّا إِلَيْكُم مُّرْسَلُونَ ١٤
“Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.”
Namun, masyarakat tersebut justru merespons dengan penolakan. Mereka mempertanyakan mengapa para utusan itu dianggap sebagai manusia biasa dan kemudian menuduh mereka sebagai pendusta.
Para utusan menjawab dengan tegas:
قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ ١٦ وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ ١٧
“Mereka berkata, ‘Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan dengan jelas.’”
(QS. Yasin: 16–17)
Menurut Ustadz Dedi, ayat tersebut memberikan pelajaran penting bahwa tugas seorang pembawa risalah adalah menyampaikan kebenaran dengan jelas, sedangkan hidayah dan penerimaan berada dalam kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Keteladanan Seorang Mukmin yang Membela Dakwah
Bagian menarik dari kisah tersebut terdapat pada ayat 20. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menceritakan datangnya seorang laki-laki dari ujung kota yang berusaha membela para utusan.
وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ ٢٠
“Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Ikutilah para utusan itu.’”
(QS. Yasin: 20)
Tokoh tersebut menunjukkan keberanian seorang mukmin dalam menyampaikan kebenaran. Ia tidak memilih diam ketika melihat dakwah kebenaran ditolak. Bahkan, ia mengajak masyarakat untuk mengikuti para utusan Allah.
Ia melanjutkan:
اتَّبِعُوا مَن لَّا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ ٢١
“Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. Yasin: 21)
Ayat ini memberikan gambaran bahwa dakwah yang tulus tidak berorientasi pada keuntungan pribadi. Para pembawa risalah menyampaikan kebenaran karena menjalankan amanah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Keimanan yang Teguh
Laki-laki tersebut kemudian menyampaikan argumentasi keimanannya:
وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ٢٢
“Dan mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan?”
(QS. Yasin: 22)
Menurut Ustadz Dedi, ayat ini mengajarkan bahwa kesadaran sebagai makhluk yang diciptakan Allah harus melahirkan penghambaan kepada-Nya. Manusia tidak hanya berasal dari Allah, tetapi juga akan kembali kepada-Nya dan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya.

Kesudahan Orang yang Menolak Kebenaran
Dalam rangkaian ayat berikutnya, Al-Qur’an menggambarkan konsekuensi bagi mereka yang tetap menolak kebenaran. Sementara itu, laki-laki beriman tersebut memperoleh kemuliaan setelah kematiannya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ ٢٦ بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ ٢٧
“Dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke surga.’ Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, bagaimana Tuhanku telah mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.’”
(QS. Yasin: 26–27)
Menurut Ustadz Dedi, ayat ini menunjukkan kebesaran jiwa seorang mukmin. Bahkan setelah memperoleh kemuliaan dari Allah, ia masih mengharapkan kaumnya mengetahui kebenaran dan mendapatkan keselamatan.
Pelajaran dari Ashabul Rass
Dalam pengajian tersebut, pembahasan juga dikaitkan dengan Ashabul Rass. Al-Qur’an menyebut Ashabul Rass antara lain dalam QS Al-Furqan ayat 38 dan QS Qaf ayat 12.
Namun, Ustadz Dedi mengingatkan pentingnya membedakan penyebutan Al-Qur’an. Ashabul Qaryah adalah kisah yang secara langsung terdapat dalam Surah Yasin ayat 13–29, sedangkan Ashabul Rass disebut di ayat lain. Identitas dan perincian sejarah Ashabul Rass tidak dijelaskan secara rinci oleh Al-Qur’an sehingga terdapat perbedaan pendapat dalam kitab-kitab tafsir.
Pesan utama dari kedua kisah tersebut dapat direnungkan melalui sikap manusia dalam menghadapi kebenaran: ada yang menerima dakwah dan beriman, tetapi ada pula yang menolak, mendustakan, bahkan memusuhi para pembawa risalah.

Dakwah Adalah Amanah
Kisah dalam Surah Yasin juga relevan dengan kehidupan umat Islam saat ini. Dakwah tidak selalu mendapatkan respons positif. Karena itu, seorang Muslim dituntut memiliki kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan dalam menyampaikan kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. Ceritakanlah tentang Bani Israil dan tidak mengapa. Dan barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”
(HR. Bukhari No. 3461).
Hadis tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menyampaikan ilmu merupakan amanah yang harus dilakukan dengan benar. Pengetahuan yang disampaikan harus memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak boleh mengatasnamakan Rasulullah ﷺ dengan sesuatu yang tidak benar.
Relevansi bagi Kehidupan Jamaah
Pengajian Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon tersebut memberikan sejumlah pelajaran penting bagi kehidupan umat Islam.
Pertama, kebenaran harus disampaikan dengan cara yang baik dan jelas. Kedua, dakwah membutuhkan kesabaran dan keteguhan, karena tidak setiap orang langsung menerima nasihat. Ketiga, keimanan harus diwujudkan dalam keberanian untuk membela kebenaran. Keempat, manusia harus menyadari bahwa kehidupan dunia memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kisah seorang mukmin dalam Surah Yasin juga menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama merupakan bagian dari keimanan. Ia tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya, tetapi juga berharap agar masyarakatnya memperoleh petunjuk.

Meneguhkan Semangat Pengajian Reboan
Pelaksanaan Pengajian Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon menjadi salah satu ruang pembinaan keagamaan dan penguatan pemahaman Al-Qur’an bagi jamaah. Kajian yang mengangkat kisah-kisah Al-Qur’an seperti Ashabul Qaryah dan Ashabul Rass tidak hanya memberikan pengetahuan sejarah, tetapi juga menghadirkan pesan moral dan spiritual yang relevan dengan kehidupan umat Islam masa kini.
Melalui kajian tersebut, jamaah diajak untuk tidak sekadar membaca kisah dalam Al-Qur’an, tetapi juga mengambil ibrah, memperkuat keimanan, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Dengan demikian, pesan utama Surah Yasin ayat 13–29 bukan sekadar kisah tentang sebuah kaum pada masa lalu, melainkan sebuah peringatan bagi setiap generasi agar senantiasa menerima kebenaran, menjaga keimanan, dan tidak mengulangi sikap orang-orang yang menolak risalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (*)
Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon.


Tinggalkan Balasan